Guru yang baik tidak melulu mengajar namun selalu memikirkan apa yang akan, sedang dan telah dilakukan. Salah satu ciri guru yang berkompeten adalah guru yang selalu merefleksi diri. Refleksi diri dalam konteks profesi guru sebetulnya merupakan kekuatan luar biasa untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Seperti cermin, jika ada keanehan pada dandanan, tentunya minta untuk diatur ulang. Begitu pun guru. Dalam menjalankan tugas profesinya, jika ada kekurangan yang ada pada dirinya maka patut untuk direfleksikan guna diperbaiki pada kegiatan-kegiatan berikutnya.
Sebagai seorang guru, tuntutan untuk melakukan refleksi terhadap bidang tugas senantiasa saya lakukan. Dalam kegiatan pembelajaran misalnya, kegiatan refleksi saya lakukan di akhir pembelajaran dengan mengisi jurnal harian yang berisi catatan-catatan refleksi. Dengan adanya catatan ini, saya dapat mengantisipasi kekurangan-kekurangan saya pada pembelajaran berikutnya.
Kegiatan refleksi berikutnya yang saya lakukan adalah refleksi terhadap kegiatan pengembangan diri melalui Workshop Belajar Dari Rumah Selama Pandemi Covid 19 yang diselenggarakan tanggal 23 sampai 25 Juli 2020. Salah satu materi dalam kegiatan ini adalah membuat soal online menggunakan google formulir. Jujur, sebelumnya saya tidak pernah tahu apa dan bagaimana membuat soal dan mengirimkannya secara online. Upaya perbaikan yang saya lakukan dari ketidakmampuan saya menggunakan google formulir untuk membuat soal secara online yakni pasca pelatihan ini, saya berlatih secara terus menerus terkati bagaimana membuat soal dan tugas – tugas menggunakan google formulir. Alhasil, setiap hari saya menggunakan google formulir untuk mengirim tugas-tugas kepada peserta didik. Peserta didik pun sangat senang menggunakan layanan google ini karena sebelumnya tugas-tugas yang dikirimkan dalam pembelajaran BDR ini menggunakan aplikasi WA. Jawaban difoto lalu dikirim ke nomor WA guru. Ini yang membuat siswa senang karena mereka tidak lagi menggunakan foto via WA tetapi jawaban dan tugas-tugasnya langsung diketik di android kemudian dikirim ke guru melalui google formulir. (Bukti nomor 1)
Kegiatan refleksi berikutnya adalah refleksi terhadap penelitian MENGEFEKTIFKAN GLOBE SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DALAM MENGHITUNG PERBEDAAN WAKTU DI INDONESIA DAN DI DUNIA. Penelitian ini beranjak dari kemampuan menghitung perbedaan waktu di Indonesia antara suatu tempat dengan tempat lainnya yang berbeda daerah waktu waktu masih kurang. Hasil belajar siswa di Kelas VI A SDI Bertingkat Kelapa Lima 3 Kupang Tahun Ajaran 2017/2018 sebelum mengefektifkan globe menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan dalam menghitung perbedaan waktu di Indonesia. Hasil evaluasi pembelajaran menunjukkan bahwa, dari 29 siswa di kelas, hanya 12 siswa atau 41,37 % siswa yang mampu menghitung perbedaan waktu tersebut. Sedangkan sebanyak 17 siswa atau 58,62 % siswa mengalami kesulitan menghitung perbedaan waktu di Indonesia. Dengan mengefektifkan Globe Sebagai Media Pembelajaran Dalam Menghitung Perbedaan Waktu Di Indonesia Dan Di Dunia”, diketahui bahwa terdapat 26 siswa dari 29 siswa sekelas atau 89,65 % siswa memperoleh skor di atas KKM (70). Sedangkan 3 siswa atau 10,34 % memperoleh skor tidak mencapat KKM atau di bawah 70. Ketiga siswa ini memang harus diakui penulis sebagai siswa yang lamban belajar sebagaimana pengamatan penulis selama menjadi wali kelasnya. Meskipun demikian, secara keseluruhan hasil yang diperoleh siswa sudah jauh lebih baik. Hasil belajar yang diperoleh siswa meningkat 33,46 % yang didapat dari hasil belajar sebelum mengefektifkan globe sebesar 41,37 % menjadi 74, 83 % dengan rata-rata kelas sebesar 74, 83. Peningkatan yang terjadi pada hasil belajar siswa tersebut sudah dapat membuktikan bahwa penggunaan globe sebagai media pembelajaran ternyata dapat mengatasi kesulitan siswa menghitung perbedaan waktu di Indonesia dan di dunia. (Bukti nomor 2)
Refleksi berikutnya adalah refleksi terhadap karya inovasi berupa buku karya saya. Buku ini ditulis berdasarkan refleksi dan pengalaman pergumulan penulis selama menjalani kuliah pada program keguruan hingga menekuni profesi guru. Ketika bergumul dengan beraneka aktivitas dalam profesi ini, penulis menemukan beraneka persolan konkrit yang menggerogoti ‘lahan’ profesi guru. Persoalan – persoalan tersebut kemudian direfleksikan dan dikupas penulis, serentak memberikan solusi-solusi implementatif yang tersaji secara sederhana di dalam dalam buku ini. Buku ini yang diterbitkan Penerbit Lembata G.Tukan Media ini mengungkap beraneka persoalan keguruan mulai dari penyiapan calon guru di LPTK, hingga persoalan-persoalan konkrit yang terungkap dalam keseharian ketika menggeluti profesi guru. Olehnya, penerbitan buku (e-book) ini tentunya sangat relevan untuk dibaca oleh calon-calon guru yang sedang mengenyam pendidikan di LPTK, dan juga rekan-rekan guru yang sedang menggeluti profesi keguruan atau siapa saja yang berminat dalam bidang ini. Buku Bunga Rampai ini terdiri atas 11 bagian ini berisi paparan terkait profesi guru dimulai dari pendidikan calon guru di LPTK hingga pada praktik pengalaman ketika menjadi real teacher di lapangan. Beraneka persoalan dalam praktik profesi keguruan seperti pada karya pengembangan profesi berkelanjutan melalui pencarian informasi baru melalui diklat, seminar, yang jarang diselenggarakan, publikasi ilmiah guru dengan jalan pintas membeli karya tulis untuk digunakan dalam kenaikan pangkat, praktik-praktik kekerasan terhadap guru, pun persoalan pendidikan calon guru di LPTK. Pada pencarian informasi baru misalnya melalui seminar dan diklat-diklat, ketika menekuni profesi guru, kegiatan-kegiatan ini amat jarang diselenggarakan. Kegiatan-kegiatan kolektif seperti di KKG juga jarang terjadi. Saya malah menyebutnya KKG itu hanya papan nama yang miskin aktivitas. Ini menjadi salah satu hambatan dalam pengembangan profesi berkelanjutan. Beruntung di masa pandemi ini, muncul penyelenggara kegiatan secara online sehingga saya turut terlibat sebagai peserta dalam kegiatan ini. Begitu pula pada kegiatan penelitian dan publikasi ilmiah. Kenyataan empiris yang saya temukan adalah rekan-rekan guru tidak membuat karya ilmiah tapi membeli karya ilmiah yang dibuat oleh orang lain kemudian digunakan untuk mendongkrak karier kepangkatan. Praktik sesat seperti ini masih terus terjadi hingga sekarang. Oleh karena itu, dari pengalaman-pengalaman selama menekuni profesi guru yang saya temukan ini kemudian saya refleksikan dan saya kupas dalam buku berjudul "ketika Profesi guru Menjadi Primadona". Harapan saya untuk perbaikan ke depan, ketika rekan-rekan guru membaca buku saya ini mereka bisa berbenah dari waktu ke waktu. Dalam buku ini tidak hanya sekedari mengkritik praktik-praktik menyimpang dalam dunia keguruan, tetapi juga ada tawaran solusi untuk implementasinya. (bukti ke-3)
Refleksi berikutnya adalah refleksi terhadap karya inovatif berupa melaksanakan pembelajaran di masa pandemi dengan menggunakan layanan google classroom dan room meeting. Pembelajaran yang saya lakukan sebelum pandemi covid-19 adalah dengan pembelajaran tatap muka di ruang kelas. Ketika pandemi covid-19 melanda negeri ini, pembelajaran konvensional di ruang-ruang kelas diganti menjadi ruang-ruang virtual berbasis online. Saya sebagai guru yang tak mau ketinggalan zaman pun mengikuti pola ini. Beruntung saya mengajar di daerah perkotaan yang fasilitas internet dan fasilitas penunjang berupa laptop dan android dimiliki oleh hampir seluruh siswa di kelas saya sehingga pembelajaran online tidak begitu mengalami kendala yang berarti. Pada awal mendengar informasi terkait pembelajaran menggunakan LMS berupa google classrom dan meeting room seperti google meet dan zoom, tidak terlintas dalam benak saya terkait bagaiman menggunkan pola tersebut dalam pembelajaran. atas berkat bantuan google, saya mencoba menggunakan google classroom dan room meeting. Dari waktu ke waktu saya terus belajar sehingga kedua aplikasi tersebut bukan lagi menjadi barang asing untuk saya. Dari pengalaman ini, saya menemukan makna bahwa proses belajar bagi seorang guru itu merupakan hal penting, bahwa jika kita tidak mau belajar pada perkembangan teknologi maka kita akan ketinggalan. Ke depan, saya akan selalu mengupdate diri jika ada hal-hal baru dalam IT untuk pembelajaran yang saya belum kuasai. (bukti 4)
Setiap item (bukti) yang disebutkan
dalam deskripsi tersebut wajib menunjukkan bukti otentik karena uji portofolio merupakan pembuktian berkas.***

Komentar