Oleh : Yohanes Peu
Mahasiswa Prodi PGSD
Undana, Guru SDI Bertingkat Kelapa Lima 3 Kota Kupang
Dr Klenik harian timor express
edisi 13 Nopember 2009 , menyenggol tawuran mahasiswa Fakultas Sains dan Teknik
(FST) versus mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas
Nusa Cendana Kupang tanggal 12 Nopember 2009 dengan sebaris kalimat : “ calon
ilmuwan atau calon preman?”. Sebaris kalimat ini jika kita telusuri lebih jauh
tentunya memiliki arti yang sangat mendalam. Baris kalimat ini kemudian saya angkat menjadi judul tulisan saya.
Semua kita pantas merasa malu manakala mendengar bahkan menyaksikan tawuran
antar mahasiswa Undana tanggal 12 Nopember 2009 kemarin. Para calon ilmuwan ini terlibat adu jotos, saling
kejar, baku lempar laksana para preman di jalanan. Betapa tidak, fenomen yang
terjadi menunjukkan
ketidakniscayaan dunia pendidikan terlebih pendidikan tinggi bahkan
menyangsikan kembali eksistensi mahasiswa sebagai subyek yang terdidik.
Peristiwa tawuran ini mendorong kita untuk mengajukan beragam pertanyaan :
pantaskah mahasiswa yang terlibat tawuran menyandang terdidik? Pantaskah mereka
menyandang predikat calon ilmuwan? Apakah lembaga pendidikan tinggi mendidik
calon preman? Dan masih banyak deretan pertanyaan lagi yang bisa diajukan.
Situasi paradoksal ini membuat kita bingung. Mahasiswa sebagai orang yang
berpendidikan di satu sisi dan mahasiswa yang sering jatuh dalam tindakan –
tindaka irasional di sisi lainnya membuat kita untuk bisa mengatakkan bahwa
mahasiswa tidak cukup menyandang predikat calon ilmuwan tetapi juga calon
preman. Predikat calon preman
ini sangat pantas diberikan kepada para mahasiswa Undana yang terlibat tawuran
kemarin. Hal ini mengingatkan kita akan apa yang dikatakan oleh Cristopher Phillips bahwa pendidikan
dalam keadaan yang terbaik merupakan proses yang membuat kita lebih tahu, tapi
dalam keadaan yang terburuk pendidikan merupakan pelecehan terhadap arti
pendidikan itu sendiri.
Oleh karena itu, saya ingin merefleksi atas peran lembaga pendidikan tinggi
dalam tri darma perguruan tinggi yang salah satunya adalah pendidikan dan
pengajaran. Peristiwa tawuran kemarin membuat kita bertanya : apakah Undana
mendidik para calon preman? Tentunya tidak. Sebagai mahasiswa Undana saya
berani mengatakan bahwa Undana telah mengimplementasikan amanat tri darma
perguruan tinggi. Undana telah berupaya maksimal menghasilkan orang – orang
yang pantas untuk menyandang predikat ”terdidik”. Hanya saja peristiwa tawuran
kemarin telah membuat citra Undana seakan suram di bumi Indonesia khususnya di
bumi Flobamora tercinta. Para mahasiswa telah kehilangan keluhuran dan jati
dirinya sehingga mereka tidak pantas menyandnag presikat calon ilmuwan tapi
lebih pantasnya menyandang predikat calon preman seperti senggolan Dr Klenik
Timor Express.
Hemat saya, ini adalah gejala dehumanisasi yang tengah merasuk bahkan merusak kehidupan para calon
ilmuwan di kampus Undana. Olehnya, ke depan yang lebih mendapat perhatian dalam
proses perkuliahan adalah rumpun mata kuliah pengembangan kepribadian.
Tanamkanlah sebanyak – banyaknya ranah afektif ke dalam diri mahasiswa bukan
sekedar mengajar dan memberikan skor nilai kepada mahasiswanya karena ini
hanyalah aspek kognitif semata. Hentikan praktek diktator ( membuat diktat dan
menjualnya kepada mahasiswa ) terlebih para dosen pengasuh rumpun mata kuliah
pengembangan kepribadian.
Gejala Dehumanisasi
Pada hakekatnya pendidikan berupaya memanusiakan manusia. Pendidikan
berupaya mengangkat harkat dan martabat manusia. Berkat pendidikan, kita tidka
lagi terpenjara oleh kebodohan dan keterbelakangan tetapi bangkit dan menunjukkan eksistensi diri
sebagai orang yang mempunyai jati diri. Disinilah pendidikan mengambil misinya
yaitu mengangkat manusia sekaligus menantangnya untuk berkembang memperoleh
makna hidup yang sesungguhnya yang oleh Driyakara dinamakan humanisasi.
Di lain pihak kita juga tengah dihadapkan pada kenyataan yang kurang
menyenangkan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Tawuran antar mahasiswa
Undana kemarin bagaikan fenomena gunung es yang mencair. Kita juga tentu masih
ingat peristiwa tawuran antara mahasiswa Undana dengan mahasiswa Politeknik Negeri Kupang yang
terjadi beberapa waktu lalu.
Bila kita sadari sedalam – sedalamnya dan menengok hakekat pendidikan kita
maka peristiwa tawuran kemarin merupakan suatu ironi. Sekalipun di satu pihak
pendidikan telah mengangkat harkat dan martabat manusia tetapi di pihak lain
kita juga harus menerima kenyataan bahwa pendidikan juuga telah menyebabkan
kita kehilangan harkat dan martabat sebagai manusia. Peristiwa tawuran itu merupakan suatu gejala
dehumanisasi yang mencoreng wajah Undana di hadapan publik. Keyataan yang
kurang menyenangkan ini tidak dapat kita sangkal realitasnya. Mahasiswa telah
kehilangan keluhuran dan martabatnya hanya karena memperlihatkan perilaku
irasional sehingga sangatlah tepat mereka menyandang predikat calon preman.
Lantas apakah para calon preman ini masih pantas kembali menyandang predikat calon ilmuwan? Inilah yang
harus di jawab Undana ke depan. Di satu sisi Undana mengambil peran
memanusiakan manusia (humanisasi) tapi disisi lain gejala dehumanisasi seperti
tawuran antar mahasiswa kemarin perlu mendapat perhatian dalam penyelenggaraan
perkuliahan ke depan agar kejadian memalukan ini tidak terulang lagi.
Walaupun telah terjadi suatu pertaruhan antara humanisasi dan dehumanisasi yang mewarnai panorama
kampus Undana tercinta tetapi humanisasi tetap menjadi pilihan mutlak.
Humanisasi adalah satu – satunya pilihan bagi kemanusiaan walaupun dehumanisasi
menjadi kenyataan sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap mungkin terjadi
terjadi di masa mendatang. Secara dialektis, kenyataan tidaklah menjadi suatu
keharusan. Jika kenyataan menyimpang dari suatu keharusan maka manusia yang harus
merubah sesuai apa yang seharusnya. Dan terkait dengan tawuran kemarin, maka
inilah yang harus menjadi perhatian segenap stakeholder Undana agar ke depan
para mahasiswanya tidak lagi berperilaku ala preman jalanan yang merusak kampus pada satu – satunya universitas
negeri di NTT ini. Kiranya gejala dehumanisasi di atas akan menjadi perhatian
serius sehingga kelak Undana akan menjawab senggolan Dr Klenik : kami
menyiapkan calon ilmuwan bukan calon preman.***
Dimuat di Harian
Timor Express tanggal 18 Nopember 2009.
Komentar