Oleh Charles Beraf (Pendiri Kelompok Menulis di Koran-Ledalero (KMKL) Ketua Redaksi Seri Buku VOX 2005-2006)
SCHREIBEN ist die Toten erwecken,” kata orang Jerman. Menulis itu menghidupkan yang mati. Menulis menjadi serupa ritual, perayaan penghidupan atau pembangkitan atas kematian.
Dengan menulis, kehidupan yang (telanjur) putus disambungkan dan dikekalkan. Karena itu, menulis bisa menjadi sebentuk perlawanan, protes atas kematian dan atau atas pelbagai bentuk pematian yang menggerogoti manusia.
Layaknya sebuah ritual, menulis mengandaikan partisipasi atau keterlibatan intensional penulis dalam apa yang hendak ditulisnya.
Menempatkan diri sebagai pars semacam itu menghindarkan penulis dari apa yang disebut sebagai kesalahan catachonic dalam tulisannya, yaitu kesalahan untuk ‘mengadili’ sesuatu dengan kategori-kategori asing. Mengadili sesuatu dengan kategori yang asing bisa ‘menghambarkan’ tulisan dari dayanya yang menghidupkan. Tulisan menjadi insignifikan dan irrelevan bagi konteks terhadapnya tulisan itu ditujukan.
Ketika membaca tulisan Hengki Ola Sura bertajuk ‘Merindukan Profesor Menulis’ (Pos Kupang, 4 Juni 2011), saya berdecak kagum.
Sebagai seorang mahasiswa (dari Universitas Flores, Ende) dan pegiat dalam komunitas baca dan sastra (dari Komunitas Baca dan Sastra Lamalera), Hengki, melalui tulisannya, sesungguhnya sedang membuat ritual penghidupan atas kaum intelektual NTT, yang tampaknya tengah ‘mati suri’ di hadapan dan di tengah kehidupan publik NTT.
Terbersit dari tulisannya kegelisahan mahadalam akan modus vivendi (cara hidup) dan modus operandi (cara kerja) kaum intelektual NTT yang tampak elitis dalam gelar dan ilmu, tetapi tak cukup populis (bukan populer) dengan dan terhadap publik NTT. Elitisme, yang oleh Yusuf Leonard Henuk (YLH) dalam tulisannya berjudul ‘YLH’ : Profesor Penulis dari Undana’ (Pos Kupang, 17 Juni 2011) ditegaskan antara lain dalam cara ‘menulis sekian banyak artikel dalam jurnal ilmiah (bahkan berlevel internasional), secara kategoris tidak berdampak secara populis untuk publik NTT.
Kalau Hengki seolah-olah mempertanyakan berapa banyak profesor yang menulis di koran publik (baca: media populis), saya juga bisa bertanya, berapa banyak warga NTT yang mengunyah isi kepala profesor NTT, apalagi dari profesor sehebat YLH yang menulis di jurnal internasional? Berapa banyak orang NTT yang baca tulisan di majalah ilmiah, apalagi yang berskala internasional?
Elitisme, hemat saya, menjadi sebentuk kematian, yang disadari atau tidak sedang menggerogoti banyak profesor NTT. Karena itu, dalam tulisannya Hengki menyeret dan atau membangkitkan para profesor dari amukan kematian dengan menyerukan dan menawarkan satu modus populis. Menulis di koran!
Profesor, problem solver
Ada satu tuntutan yang sangat kuat dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah keberakarannya dengan masyarakat. Menjawabi tuntutan ini, para pelaku pendidikan, melalui program-program strategis mulai gencar mengupayakan adanya kontak antara lembaga pendidikan dengan konteks masyarakat di mana ia berada. Ini tidak lain adalah satu upaya pembumian dunia pendidikan.
Upaya pembumian itu terjadi di tengah realitas masyarakat yang akhir-akhir ini kerap dirundung banyak masalah, seperti kemiskinan, korupsi, dan sebagainya. Di hadapan pelbagai persoalan itu, seorang output dengan pelbagai potensialitas yang dimiliki, berada dan bertindak sebagai problem solver.
Keberadaan yang demikian dapat terbukti atau terjawabi jika dan hanya jika seorang output benar-benar profesional dalam bidang ilmu yang digeluti dan siap masuk dalam dunia kerja.
Tuntutan akan profesionalitas ini menunjukkan bahwa sambungan antara proses pendidikan di dalam lembaga pendidikan formal (lembaga pendidikan) dengan dunia luar merupakan sesuatu yang niscaya. Sambungan ini memungkinkan lembaga pendidikan atau katakan dunia ilmu tidak kehilangan akarnya, yakni masyarakat dan kompleksitas persoalan yang dihadapi.
Masyarakat merupakan suatu entitas melaluinya lembaga pendidikan terstimulasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan karena itu kemajuan pendidikan atau keberhasilan pembentukan intelektual sangat tergantung pada seberapa besar interaksi yang terbangun antara lembaga pendidikan dengan realitas konkret di luarnya.
Dengan perkataan lain, keberhasilan proses pembentukan dan signifikansi intelektual seorang output sangat tergantung pula pada keterbukaannya untuk bergumul dengan persoalan-persoalan konkret yang berkembang di dalam masyarakat di mana ia menghabiskan sebagian besar dinamika hidupnya sebagai manusia.
Dalam konteks ini, tuntutan bahwa pendidikan harus berkiblat pada realitas tuntutan dan kepentingan masyarakat luas dalam arti tertentu ada benarnya. Demi kiblat yang tepat sasar, interaksi antara dunia sekolah dan dunia non-sekolah merupakan sesuatu yang niscaya.
Dunia sekolah adalah dunia di mana seluruh proses belajar diarahkan kepada pembentukan kemampuan berpikir secara otonom. Di sini, dengan metode-metode yang sistematis dan dengan sistem yang terencana, seorang output bisa mengeksplorasi, menemukan dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat atau konteks sosialnya.
Dalam orientasi pendidikan macam ini, keberhasilan pendidikan atau relevansi dan signifikansi keilmuan tidak ditakar pertama-tama dengan seberapa banyak doktrin pengetahuan yang sudah berhasil diserap oleh seorang output atau seberapa banyak gelar yang disandangnya, melainkan dengan seberapa jauh seorang output dengan bekal pengetahuan yang ada mampu merumuskan pemikiran-pemikiran baru bagi masyarakat, sekalipun pemikiran baru itu sangat sederhana.
Tujuan pendidikan, sebagaimana yang dipaparkan Filosof John Dewey, bukan mastering knowledge, melainkan inculcating understanding. Inculcating understanding diindikasikan oleh kemampuan mengembangkan pengetahuan ilmiah dalam arti re-kreatif dan bukan re-produktif demi perubahan dan kemajuan sebuah masyarakat.
Tanpa disebutkan, inculcating understanding itu amat kuat tertangkap dari tulisan Hengki. Dalam nada rindu, Hengki sesungguhnya melecutkan intelektualitas para profesor NTT untuk membumi di tengah masyarakat NTT. Di hadapan aneka persoalan di NTT seorang profesor NTT mesti menjadi seorang pencipta pengetahuan bagi masyarakat, bukan penjiplak, pembaharu masyarakat bukan pendukung status quo.
Caranya? Hengki dengan lugas menawarkan kepada profesor NTT untuk menulis di koran. Mengapa di koran, bukan di jurnal internasional? Ini perkara tempat, medium. Kata Filosof Marshall McLuhan, tempat di mana Anda mengkomunikasikan pesan jauh lebih penting daripada apa yang Anda katakan. Medium itu pesannya. Di koran, tentu tak sedikit dari masyarakat NTT yang bisa menyerap isi kepala seorang profesor. Ini beda dengan menulis di jurnal internasional, yang hanya bisa diserap segelintir orang-orang ‘hebat’ seperti YLH.
Lebih disayangkan kalau intensi menulis seorang profesor cuma untuk mengejar ‘kredit’ atau sekadar nampang agar dikenal. Kalau ini yang terjadi, maka ada degradasi profesionalitas. Dengan ini, profesor bukan lagi tampil sebagai problem solver, tetapi berubah menjadi seorang yang pragmatis. Ia menjadi serupa ‘robot’ yang berjalan kalau ada ‘kredit’.
Pengetahuannya, termasuk gelar-gelarnya tidak untuk diabdikan untuk kemajuan masyarakat, tetapi untuk dapat ‘kredit’. Kasihan NTT, kalau profesor-profesornya sehebat YLH hanya berorientasi kejar ‘kredit’.
Dimuat di Pos Kupang edisi Jumad 24 Juni 2011
SCHREIBEN ist die Toten erwecken,” kata orang Jerman. Menulis itu menghidupkan yang mati. Menulis menjadi serupa ritual, perayaan penghidupan atau pembangkitan atas kematian.
Dengan menulis, kehidupan yang (telanjur) putus disambungkan dan dikekalkan. Karena itu, menulis bisa menjadi sebentuk perlawanan, protes atas kematian dan atau atas pelbagai bentuk pematian yang menggerogoti manusia.
Layaknya sebuah ritual, menulis mengandaikan partisipasi atau keterlibatan intensional penulis dalam apa yang hendak ditulisnya.
Menempatkan diri sebagai pars semacam itu menghindarkan penulis dari apa yang disebut sebagai kesalahan catachonic dalam tulisannya, yaitu kesalahan untuk ‘mengadili’ sesuatu dengan kategori-kategori asing. Mengadili sesuatu dengan kategori yang asing bisa ‘menghambarkan’ tulisan dari dayanya yang menghidupkan. Tulisan menjadi insignifikan dan irrelevan bagi konteks terhadapnya tulisan itu ditujukan.
Ketika membaca tulisan Hengki Ola Sura bertajuk ‘Merindukan Profesor Menulis’ (Pos Kupang, 4 Juni 2011), saya berdecak kagum.
Sebagai seorang mahasiswa (dari Universitas Flores, Ende) dan pegiat dalam komunitas baca dan sastra (dari Komunitas Baca dan Sastra Lamalera), Hengki, melalui tulisannya, sesungguhnya sedang membuat ritual penghidupan atas kaum intelektual NTT, yang tampaknya tengah ‘mati suri’ di hadapan dan di tengah kehidupan publik NTT.
Terbersit dari tulisannya kegelisahan mahadalam akan modus vivendi (cara hidup) dan modus operandi (cara kerja) kaum intelektual NTT yang tampak elitis dalam gelar dan ilmu, tetapi tak cukup populis (bukan populer) dengan dan terhadap publik NTT. Elitisme, yang oleh Yusuf Leonard Henuk (YLH) dalam tulisannya berjudul ‘YLH’ : Profesor Penulis dari Undana’ (Pos Kupang, 17 Juni 2011) ditegaskan antara lain dalam cara ‘menulis sekian banyak artikel dalam jurnal ilmiah (bahkan berlevel internasional), secara kategoris tidak berdampak secara populis untuk publik NTT.
Kalau Hengki seolah-olah mempertanyakan berapa banyak profesor yang menulis di koran publik (baca: media populis), saya juga bisa bertanya, berapa banyak warga NTT yang mengunyah isi kepala profesor NTT, apalagi dari profesor sehebat YLH yang menulis di jurnal internasional? Berapa banyak orang NTT yang baca tulisan di majalah ilmiah, apalagi yang berskala internasional?
Elitisme, hemat saya, menjadi sebentuk kematian, yang disadari atau tidak sedang menggerogoti banyak profesor NTT. Karena itu, dalam tulisannya Hengki menyeret dan atau membangkitkan para profesor dari amukan kematian dengan menyerukan dan menawarkan satu modus populis. Menulis di koran!
Profesor, problem solver
Ada satu tuntutan yang sangat kuat dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah keberakarannya dengan masyarakat. Menjawabi tuntutan ini, para pelaku pendidikan, melalui program-program strategis mulai gencar mengupayakan adanya kontak antara lembaga pendidikan dengan konteks masyarakat di mana ia berada. Ini tidak lain adalah satu upaya pembumian dunia pendidikan.
Upaya pembumian itu terjadi di tengah realitas masyarakat yang akhir-akhir ini kerap dirundung banyak masalah, seperti kemiskinan, korupsi, dan sebagainya. Di hadapan pelbagai persoalan itu, seorang output dengan pelbagai potensialitas yang dimiliki, berada dan bertindak sebagai problem solver.
Keberadaan yang demikian dapat terbukti atau terjawabi jika dan hanya jika seorang output benar-benar profesional dalam bidang ilmu yang digeluti dan siap masuk dalam dunia kerja.
Tuntutan akan profesionalitas ini menunjukkan bahwa sambungan antara proses pendidikan di dalam lembaga pendidikan formal (lembaga pendidikan) dengan dunia luar merupakan sesuatu yang niscaya. Sambungan ini memungkinkan lembaga pendidikan atau katakan dunia ilmu tidak kehilangan akarnya, yakni masyarakat dan kompleksitas persoalan yang dihadapi.
Masyarakat merupakan suatu entitas melaluinya lembaga pendidikan terstimulasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan karena itu kemajuan pendidikan atau keberhasilan pembentukan intelektual sangat tergantung pada seberapa besar interaksi yang terbangun antara lembaga pendidikan dengan realitas konkret di luarnya.
Dengan perkataan lain, keberhasilan proses pembentukan dan signifikansi intelektual seorang output sangat tergantung pula pada keterbukaannya untuk bergumul dengan persoalan-persoalan konkret yang berkembang di dalam masyarakat di mana ia menghabiskan sebagian besar dinamika hidupnya sebagai manusia.
Dalam konteks ini, tuntutan bahwa pendidikan harus berkiblat pada realitas tuntutan dan kepentingan masyarakat luas dalam arti tertentu ada benarnya. Demi kiblat yang tepat sasar, interaksi antara dunia sekolah dan dunia non-sekolah merupakan sesuatu yang niscaya.
Dunia sekolah adalah dunia di mana seluruh proses belajar diarahkan kepada pembentukan kemampuan berpikir secara otonom. Di sini, dengan metode-metode yang sistematis dan dengan sistem yang terencana, seorang output bisa mengeksplorasi, menemukan dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat atau konteks sosialnya.
Dalam orientasi pendidikan macam ini, keberhasilan pendidikan atau relevansi dan signifikansi keilmuan tidak ditakar pertama-tama dengan seberapa banyak doktrin pengetahuan yang sudah berhasil diserap oleh seorang output atau seberapa banyak gelar yang disandangnya, melainkan dengan seberapa jauh seorang output dengan bekal pengetahuan yang ada mampu merumuskan pemikiran-pemikiran baru bagi masyarakat, sekalipun pemikiran baru itu sangat sederhana.
Tujuan pendidikan, sebagaimana yang dipaparkan Filosof John Dewey, bukan mastering knowledge, melainkan inculcating understanding. Inculcating understanding diindikasikan oleh kemampuan mengembangkan pengetahuan ilmiah dalam arti re-kreatif dan bukan re-produktif demi perubahan dan kemajuan sebuah masyarakat.
Tanpa disebutkan, inculcating understanding itu amat kuat tertangkap dari tulisan Hengki. Dalam nada rindu, Hengki sesungguhnya melecutkan intelektualitas para profesor NTT untuk membumi di tengah masyarakat NTT. Di hadapan aneka persoalan di NTT seorang profesor NTT mesti menjadi seorang pencipta pengetahuan bagi masyarakat, bukan penjiplak, pembaharu masyarakat bukan pendukung status quo.
Caranya? Hengki dengan lugas menawarkan kepada profesor NTT untuk menulis di koran. Mengapa di koran, bukan di jurnal internasional? Ini perkara tempat, medium. Kata Filosof Marshall McLuhan, tempat di mana Anda mengkomunikasikan pesan jauh lebih penting daripada apa yang Anda katakan. Medium itu pesannya. Di koran, tentu tak sedikit dari masyarakat NTT yang bisa menyerap isi kepala seorang profesor. Ini beda dengan menulis di jurnal internasional, yang hanya bisa diserap segelintir orang-orang ‘hebat’ seperti YLH.
Lebih disayangkan kalau intensi menulis seorang profesor cuma untuk mengejar ‘kredit’ atau sekadar nampang agar dikenal. Kalau ini yang terjadi, maka ada degradasi profesionalitas. Dengan ini, profesor bukan lagi tampil sebagai problem solver, tetapi berubah menjadi seorang yang pragmatis. Ia menjadi serupa ‘robot’ yang berjalan kalau ada ‘kredit’.
Pengetahuannya, termasuk gelar-gelarnya tidak untuk diabdikan untuk kemajuan masyarakat, tetapi untuk dapat ‘kredit’. Kasihan NTT, kalau profesor-profesornya sehebat YLH hanya berorientasi kejar ‘kredit’.
Dimuat di Pos Kupang edisi Jumad 24 Juni 2011
Komentar