Bagaimana Menerbitkan Jurnal Ilmiah? Ini Prosedurnya


 Ilustrasi Jurnal Kependidikan (google images)




Postingan kali ini tentang jurnal ilmiah. Sekali kesempatan saya menulis artikel opini di sebuah surat kabar lokal terbitan Nusa Tenggara Timur berjudul Jurnal Ilmiah, Agenda Pendidikan yang Terlupakan. Tulisan tersebut mengupas problematika tuntutan bagi guru untuk memublikasi artikel penelitian atau gagasan di jurnal ilmiah. Ketersediaan jurnal yang masih minim saya pandang sebagai salah satu hambatan untuk publikasi dimaksud.

 
Tuntutan untuk publikasi karya tulis di jurnal ber-ISSN sekurang-kurangnya satu artikel penelitian atau gagasan berdasarkan Permendiknas 35 Tahun 2010, wajib dimulai pada golongan ruang IV/a ke atas. Namun melihat ketersediaan jurnal kependidikan, pada tataran ini, guru akan diperhadapkan pada situasi sulit di mana pada satu sisi ada tuntutan wajib memublikasi artikel penelitian di jurnal namun di sisi lain semua kita patut bertanya, berapa banyak jurnal khas pendidikan yang kita miliki ini? Persoalan yang muncul disini adalah kesiapan dan daya tampung jurnal yang ada. Menyikapi kebuntuan ini, mungkin salah satu terobosan yang ditempuh adalah dengan menerbitkan jurnal sendiri. Wadah-wadah guru, organisasi profesi guru, dinas pendidikan kabupaten/kota/propinsi, dan stakeholder terkait mesti mulai nimbrung untuk membuat jurnal ilmiah bidang keilmuan kependidikan. Ini menjadi sebuah agenda penting yang perlu didandani.
Kesempatan ini saya akan memberikan secuil informasi terkait bagaimana prosedur menerbitkan jurnal ilmiah ber-ISSN (Internasional Standar of Serial Number). Seperti apa? Berikut sajiannya.



Ketika tuntutan peraturan mewajibkan guru memublikasi artikel penelitiannya dan atau gagasannya di jurnal, lalu bagaimana cara mengetahui jurnal-jurnal yang ada atau juga bagaimana proses mener-bitkan jurnal ilmiah? Atau bagaimana bisa mengetahui daftar jurnal yang terakreditasi di Indonesia, baik oleh Lem-baga Ilmu Pengetahuan Indo-nesia (LIPI) maupun Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan?
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyediakan sebuah situs web yang berisi segala hal terkait jurnal ilmiah, yaitu http://jurnal.pdii. lipi.go.id/.
Pada situs Indonesian Scientific Journal Database (Database Jurnal Ilmiah Indo-nesia) ini, terdapat bagian di mana kita bisa menemukan daftar jurnal ilmiah yang diak-reditasi LIPI dan Ditjen Dikti dan terdapa pula bagian di mana kita bisa mengajukan permohonan mendapatkan ISSN untuk menerbitkan jurnal.   
ISSN itu sendiri merupakan kode yang dipakai secara inter-nasional untuk terbitan berkala, dan diberikan oleh International Serial Data System (ISDS) yang berke-dudukan di Paris, Perancis.
Dengan mendapatkan ISSN, akan memudahkan untuk mengidentifikasi beberapa ter-bitan yang memiliki judul sama karena satu ISSN hanya diberi-kan untuk satu judul terbitan berkala. ISSN juga memper-mudah pengelolaan adminis-trasi dalam hal pemesanan terbitan berkala. Sebab, peme-sanan cukup hanya menyebut-kan ISSN dari terbitan berkala itu.
Bagi jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia, ISSN meru-pakan salah satu syarat yang harus dipenuhi.

Pendaftaran Jurnal dan ISSN

Untuk mendaftarkan sebu-ah jurnal dan mendapatkan ISSN, lembaga/intansi terkait, lembaga penelitian atau pun perguruan tinggi harus mele-wati beberapa proses, yaitu: 1). Membawa surat permohon-an tertulis dari penerbit bahwa terbitan berkala; 2). Membawa dua eksemplar terbitan per-tama, atau dua lembar foto-kopi halaman sampul depan bila jurnal tersebut belum diterbitkan; 3). Menyertakan dua lembar fotokopi halaman daftar isi; 4). Menyertakan dua lembar fotokopi halaman de-wan redaksi; 5). Melampirkan data bibliografi lengkap yang mencakup keterangan mengenai frekuensi terbit, tahun pertama terbit, bahasa yang digunakan, dan lain sebagainya. 
Masing-masing ISSN dike-nakan biaya administrasi sebe-sar Rp 200 ribu. Registrasi bisa dilakukan langsung di PDII LIPI, atau mendaftar secara online melalui http://issn.pdii.lipi.go.id. Adapun, persyaratan serta bukti transfer biaya ISSN melalui surat atau fax.

Jurnal Terakreditasi dan Mengakreditasi Jurnal

Terhitung sejak golongan ruang IV/a ke atas tuntutan untuk publikasi tulisan di jurnal menjadi syarat wajib bagi guru, sekurang-kurangnya satu artikel di jurnal ber-ISSN. Dalam regulasi untuk kenaikan, dikatakan untuk artikel di jurnal ber-ISSN dan jurnal ber-ISSN yang terakreditasi diberi besaran angka kredit berbeda.
Lalu bagaimana mengetahui jurnal ilmiah yang sudah terakreditasi dan bagaimana pula proses akreditasi sebuah jurnal? Informasi yang saya himpun, ada jurnal-jurnal yang diakreditasi oleh LIPI dan ada juga jurnal yang diakreditasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).
Untuk melihat daftar jurnal yang sudah terakreditasi LIPI kunjungi link http://jurnal.pdii.lipi.go.id/index.php/Daftar-Jurnal-Ilmiah-Akreditasi-LIPI.html dan untuk melihat daftar jurnal yang terakreditasi Dikti, kunjungi link http://jurnal.pdii.lipi.go.id/index.php/Daftar-Jurnal-Hasil-Akreditasi-DIKTI.html.
Sebagai informasi, jurnal yang diterbitkan oleh perguruan tinggi dan komunitas ilmiah mengajukan akreditasi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ditjen Dikti. Sementara lembaga penelitian mengajukan akreditasi melalui Pusbin-diklat Peneliti LIPI.
Untuk diketahui, jurnal ilmiah tak terbatas yang dibuat oleh perguruan tinggi, tetapi juga lembaga—lembaga penelitian. 


Bagaimana mengakreditasi jurnal? Setelah terdaftar resmi dan mendapatkan International Standar Serial Number (ISSN), maka syarat selanjutnya yang harus dipenuhi adalah menyesuaikan tata cara penulisan jurnal yang telah ditentukan.
Sebuah jurnal ilmiah, baru akan diakreditasi ketika karya ilmiah yang dimuat di dalam-nya memenuhi syarat sebagai berikut : 1). Mencantumkan abstraksi dan kata kunci dalam bahasa Inggris; 2). Meng-gunakan metodologi dan tata cara penulisan ilmiah yang sesuai; 3). Jangan lupa meng-gunakan referensi penulisan dari jurnal internasional, di-review oleh para pakar, dan minimal telah terbit selama tiga tahun berturut-turut; dan 4). Sah-sah saja sebuah karya ilmiah menggunakan buku sebagai referensi tulisan. Tetapi, akan lebih baik jika sebuah karya ilmiah meng-gunakan referensi dari banyak jurnal. Selain aktual, jurnal juga menyajikan ilmu yang pandangannya lebih luas. Re-ferensi memang sebaiknya dari jurnal. Dari buku boleh saja, tapi nilainya akan turun.

Problem

Beberapa pengelola jurnal yang dari perguruan tinggi dan juga reviewer yang pernah saya ajak diskusi mengungkapkan bahwa, mengelola dan menerbitkan jurnal tidak sulit. Prosedur mendirikannya seperti yang telah diuraikan di atas. Hanya saja problematikanya adalah ketersediaan atau stok naskah berupa artikel penelitian atau gagasan inovatif. Stok naskah harus selalu ada sehingga jurnal dapat terbit rutin secara berkala misalnya enam bulan sekali atau satu tahun sekali.
Bagaimana mengatasi hal ini? Jika nanti wadah-wadah guru atau juga instansi terkait yang menangani pendidikan menerbitkan jurnal yang dapat memberi ruang bagi guru me-mublikasi karya ilmiahnya, maka tugas guru ke depan adalah selalu menulis dan meneliti sehingga stok naskah untuk jurnal selalu ada.

Tulisan ini diramu dari berbagai sumber. Ditulis oleh Yohanes Peu, Guru di Kota Kupang, NTT. Aktif di facebook dengan nama J P Apeutung

Komentar