Lima tahun pertama merupakan masa emas anak. Demikian kata orang. Di masa ini, semua orang tua tentunya semua orang tua akan menghendaki agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang paripurna di masa depannya.
Salah satu yang sering dilakukan anak-anak balita di mas-masa emas ini yakni mereka cenderung berjoget, entah ketika mendengarkan musik yang berirama hentakan, atau juga ketika mereka menonton film kartun.
Ketika balita sudah mampu berjalan, atau menunjukkan kemampuan motorik lainnya, ia akan menunjukkan salah satu kemampuannya berupa berjoget. Apakah berjoget merupakan salah satu cara bagi anak untuk menunjukkan atau pamer kemampuannya di hadapan orang lain termasuk orangtuanya?
Dikutip dari https://health.detik.com, pada usia tersebut anak-anak secara alami akan menyelaraskan antara suara dan irama yang didengarnya. Hal ini karena anak-anak sudah menaruh perhatian terhadap irama berbicara dan suara detak jantung sejak masih berada di dalam rahim. Demikan tulis detik.com mengutip Profesor Kathy Hirsh-Pasek, PhD, seorang psikolog di Temple University, Philadelphia.
Lebih lanjut dikatakan, tarian atau berjoget yang disertai dengan banyak tepuk tangan akan membuat anak tertawa yang menandakan bahwa ia merasa senang dengan kegiatan tersebut. Selain itu balita juga akan merasa senang jika orangtua atau orang disekitarnya ikut berjoget bersamanya.
Kemampuan motorik kasar anak berusia 1-2 tahun mulai meningkat yaitu mampu bergoyang naik turun dengan posisi kaki tetap berada di lantai. Kemampuan baru ini dan kepekaan terhadap ritme untuk membuat gerakan bergoyang merupakan salah saru respons yang dilakukan anak ketika mendengar sebuah lagu atau suara yang dinyanyikannya sendiri. Karena itu berjoget juga bisa membantu menstimulasi perkembangan fisik anak.
Berjoget juga bisa membantu meningkatkan koordinasi motorik anak dan bagaimana tubuh bisa beradaptasi dengan lingkungannya, serta mendorong kreatifitas ekspresi yang lebih besar lagi.***
Komentar