R.A. Kartini (google images)
Hari ini Sabtu tanggal 21 April 2018. Kita
tahu, 21 April merupakan Hari Kartini. Memeringati Hari Kartini mungkin tidak
semarak peringatan Hari Kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus, dimana ada
lomba-lomba, upacara bendera, dan sebagainya. Memeringati Hari Kartini tidak
dalam bentuk seperti hal peringatan Hari Kemerdekaan. Peringatan Hari Kartini
tidak lebih sekedar mengenang jasa-jasa kartini yang terkenal sebagai tokoh
emansipasi itu.
Ketika kita mengenang, mungkin akan
mengenang bahwa Kartini itu sudah hancur secara fisik. Kartini memang sudah
hancur secara fisik. Walau sudah hancur secara fisik tetapi buah perjuangannya
akan selalu dikenang.
Dari perjuangannya telah melahirkan
perempuan-perempuan tangguh dengan beragam latar profesi di seantero negeri
ini. Bidan, perawat, dokter, insinyur, menteri, bahkan ada yang jadi presiden. Andaikata
Kartini hidup di saat-saat ini, mungkin ia bangga dan tersenyum manis-manis.
Itulah buah emansipasi yang diperjuangkan kartini bagi kaumnya.
Tentang Hari Kartini, adalah juga
terkait pengakuan laki-laki untuk kaum perempuan. Seorang sahabat di facebook
menulis begini. Hari Kartini itu tidak lain adalah hari seorang pria
"harus" mengakui bahwa wanita Itu hebat. Iya, wanita Itu hebat.
Mereka menjadikan sesuatu yang pria miliki dan berikan ke mereka menjadi lebih
berkualitas. Contoh: Kalau anda memberi wanita ubi kayu, dia akan menjadikannya
keputu. Tahu keputu? Keputu (bahasa Kedang-Lembata) adalah olahan ubi kayu
seperti tumpeng . Bila anda memberikan wanita benang, dia akan menjadikannya
kain. Termasuk, -seperti dikatakan William Golding, seorang novelist Inggris-, kalau
anda memberikannya sperma, dia akan memberikan bagimu seorang bayi.
Tetapi di balik itu, masih ada juga
perempuan-perempuan yang memilih jalan pintas, mungkin terjebak dlm situasi yg
tak menguntungkan dgn menjajakan diri demi selembar kertas yg dikenal sebagai
raja dunia. Demi selembar kertas itu, ada perempuan yang menyerahkan tubuhnya untuk
dinikmati para lelaki hidung belang. Mereka sama-sama larut dalam sebuah
situasi yang menyenangkan dengan beradu (maaf) di bawah perut.
Andaikata Kartini hidup di saat-saat
ini, ia tentu sedih. Ia tentu menangis menyaksikan buah perjuangannya yang
didegradasi oleh kaumnya demi "selembar cek" di selangkangan
(meminjam istilah seorang teman fb).
Jika fenomen penyakit sosial yang satu
ini sudah ada sejak zaman Kartini, mungkinkah dia tidak mewabah seperti sekarang?
Saya yakin tidak, karena seorang putri sejati seperti Kartini tentu akan
berjuang membela kaumnya sekalipun sudah jatuh dalam jaringan prostitusi. Tapi
bagi saya, mereka-mereka tidak salah. Yg patut dipersalahkan yakni orang-orang
yang memanfaatkan mereka.
Ada juga wanita-wanita malang yang
diperkosa. Dipaksa memenuhi hasrat lelaki biadab yang tidak bertanggungjawab. Ada
juga wanita-wanita yang menjadi korban “perdagagan orang” untuk dipekerjakan
sebagai TKW di luar negeri. Bahkan mirisnya, mereka yang adalah pahlawab devisa
ini ada yang dikirim pulang ke kampung halamannya dalam peti mayat. Dan masih banyak
lagi kejadian tak menyenangkan yang menimpa kaum “Kartini”.
Dari semua itu, andaikata Kartini
masih hidup hingga hari-hari ini, mungkin dia akan menangis menyaksikan kaumnya
mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti dikemukan di atas. Atau juga
ia menangis menyaksikan kaumnya terlibat dalam dunia prostitusi, dunia gemerlap
yang menyimpang dari norma sosial, etika dan agama.
Adakah kaummu yang melanjutkan buah
perjuanganmu? Sungguh, kami selalu rindu pada kaum perempuan yang terus
menggelorakan perjuangan Kartini. Tidak hanya untuk hari ini, tetapi untuk esok
dan seterusnya.
Artikel
ini ditulis Yohanes Peu, guru di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Komentar