Ilustrasi (google images)
Guru yang kreatif akan menggunakan beraneka
cara untuk membelajarkan peserta didik agar peserta didik mampu memahami materi
pembelajaran yang disajikan. Ketika siswa yang daya tangkapnya rendah lamban
memahami materi pembelajaran, kadang guru yang kreatif menggunakan
perumpaan-perumpaan atau juga pengandaian yang beranjak dari situasi real dalam
keseharian.
Sekali
kesempatan di sebuah Sekolah Dasar kelas satu. Ketika itu sang guru membelajarkan
materi penjumlahan. Setelah menjelaskan konsep dasar penjumlahan, sang guru
memberikan soal-soal penjumlah kepada para muridnya. Soal-soal tersebut
merupakan soal tertulis. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal-soal
tersebut, sang guru lantas mengoreksi jawaban dari semua peserta didik.
Selanjutnya
sang guru memberikan pertanyaan yang harus dijawab secara lisan pada sesion
tanya jawab. Beberapa anak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan
tepat. Tiba giliran seorang anak yang kemampuannya agak rendah. Pertanyaan yang
diajukan sang guru : “ Lima kurang tiga berapa?”
Sang anak
tidak menjawab pertanyaan. Ia mengatakan bahwa ia tidak tau. “Saya tidak tau,
pak!”, kata sang murid.
Pak guru mulai
memainkan jurus pengandaian. “Andaikata ibumu ke pasar, membeli lima pisang
untuk kamu makan, jika kamu makan tiga buah, berapa sisanya?’ tanya sang guru
lagi.
Murid tersebut
belum juga memberikan jawaban sebagaimana pertanyaan yang diajukan. Sang murid
malah mengajukan pertanyaan kepada gurunya. “Apakah pisang tersebut sudah
matang atau masih mentah?”
“Pisang yang
sudah matang”, jawab sang guru.
Mendengar
jawaban sang guru bahwa pisang yang diumpakan tersebut adalah pisang yang sudah
matang yang siap disantap, sang murid menjawab, “kalau pisang yang sudah matang
maka saya akan makan semuanya. Lima buah pisang tersebut akan saya makan
semuanya”.
Sang guru Cuma
geleng-geleng kepala sambil berkata : “Aduh anakku. Kalau jawabanmu seperti itu
maka lima kurang tiga sama dengan nol”. Heheheh
Komentar