Marsel Ruben Payong (ist)
Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk merumuskan, menggunakan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Ini mencakup penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, fakta dan alat matematis untuk menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi fenomena. Literasi ini membantu individu untuk mengenali peran yang dimainkan matematika di dunia dan untuk membuat keputusan yang tepat yang dibutuhkan oleh warga secara konstruktif.
Adapun level kemampuan dalam literasi matematika dalam PISA 2015 adalah sebagai berikut :
Level 6 (skor >669)
Pada Level 6, siswa dapat mengkonseptualisasikan, menggeneralisasi dan memanfaatkan informasi berdasarkan investigasi dan pemodelan situasi masalah yang rumit, dan dapat menggunakan pengetahuan mereka dalam konteks yang relatif tidak baku. Mereka dapat menghubungkan informasi yang berbeda sumber dan representasi dan fleksibel menerjemahkannya di antara mereka. Siswa pada tingkat ini mampu berpikir dan bernalar matematis yang maju. Siswa-siswa ini bisa menerapkan wawasan dan pengertian ini, seiring dengan penguasaan simbolis dan operasi dan hubungan matematis formal, untuk mengembangkan pendekatan dan pendekatan baru strategi untuk menghadapi situasi baru. Siswa pada tingkat ini dapat merefleksikan tindakan, dan dapat merumuskan secara tepat serta mengkomunikasikan tindakan dan refleksi mereka terhadap temuan, interpretasi, argumentasi, dan kesesuaian ini ke situasi semula.
Level 5 (skor 607 – 669)
Pada Level 5, siswa dapat mengembangkan dan bekerja dengan model untuk situasi yang kompleks, mengidentifikasi kendala dan menentukan asumsi. Mereka bisa memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi pemecahan masalah yang tepat untuk menangani masalah yang kompleks terkait dengan model ini. Siswa pada level ini bisa bekerja secara strategis dengan menggunakan keterampilan berpikir luas dan penalaran yang berkembang dengan baik, serta representasi terkait yang sesuai dengan karakterisasi simbolik dan formal dan memiliki wawasan yang berkaitan dengan situasi ini. Mereka mulai mampu merenungkan pekerjaan mereka dan dapat merumuskan dan mengkomunikasikannya interpretasi dan penalaran.
Level 4 (Skor 545 – 606)
Pada Level 4, siswa dapat bekerja secara efektif dengan model eksplisit untuk situasi kompleks yang mungkin melibatkan kendala atau tuntutan untuk membuat asumsi. Mereka bisa memilih dan mengintegrasikan representasi yang berbeda, termasuk simbolis, menghubungkannya
secara langsung ke aspek situasi dunia nyata. Siswa di level ini bisa memanfaatkan keterbatasan keterampilan mereka dan dapat memberikan alasan dengan beberapa wawasan, dalam konteks yang mudah. Mereka dapat membuat dan mengkomunikasikan penjelasan dan argumentasi berdasarkan interpretasi, argumen, dan tindakan.
Level 3 (Skor 482 – 544)
Pada Level 3, siswa dapat mengeksekusi prosedur yang dideskripsikan secara jelas, termasuk prosedur yang membutuhkan keputusan sekuensial. Interpretasi mereka cukup baik untuk menjadi dasar untuk membangun model sederhana atau untuk memilih dan menerapkan strategi pemecahan masalah sederhana. Siswa pada tingkat ini dapat menafsirkan dan menggunakan representasi dan nalar secara langsung berdasarkan berbagai sumber informasi yang berbeda. Mereka biasanya menunjukkan beberapa kemampuan untuk menangani persentase, pecahan dan angka desimal, dan bekerja dengan hubungan proporsional. Solusi mereka mencerminkan bahwa mereka telah terlibat dalam interpretasi dan penalaran dasar.
Level 2 (Skor 420 – 481)
Pada Level 2, siswa dapat menafsirkan dan mengenali situasi dalam konteks yang membutuhkan tidak lebih dari inferensi langsung. Mereka bisa mengekstrak informasi yang relevan dari satu bahasa sumber dan menggunakan satu mode representasional. Siswa di level ini bisa menggunakan algoritma dasar, formula, prosedur, atau konvensi untuk memecahkan masalah yang melibatkan bilangan bulat. Mereka mampu membuat interpretasi literal dari hasilnya.
Level 1 (Skor 358 – 419)
Pada Level 1, siswa dapat menjawab pertanyaan yang melibatkan konteks yang familiar dimana tersedia semua informasi yang relevan dan pertanyaannya jelas. Mereka bisa mengidentifikasi informasi dan melaksanakan prosedur rutin sesuai instruksi langsung dalam situasi eksplisit. Mereka bisa melakukan tindakan yang hampir selalu jelas dan segera mengikuti rangsangan yang diberikan.
Artikel ini ditulis Marsel Ruben Payong, dosen STKIP St. Paulus Ruteng, Flores

Komentar