oleh : Pius Kulu Beyeng
Terlepas dari kata kata itu tidak enak diucapkan mau pun didengar, dalam realitas, jual diri itu memang ada. Yang paling populer tentu adalah ptostitusi atau pelacuran. Melacurkan diri. Apa itu perempuan (WTS) atau laki laki (Gigolo).
Itu jual diri. Ada jual diri lain tetapi lebih kepada menjual harga diri. Meskipun mungkin sulit dibedakan namun jual diri lebih kepada nilai nilai kesopanan, moral dan kesusilaan, sedang jual harga diri lebih pada menjual martabat dan derajat kehormatan diri. Sulit sih.
Tapi dalam praktek bisa dilihat dalam ragam.bentuk perilaku.
Misalnya menjual diri dengan cara minta minta (pengemis). Atau lebih tinggi sedikit misalnya minta minta dengan cara membuat proposal proposal yang tidak proporsional atau bohong.
Dalam kasus lain misalnya orang tua, apa bapa atau mama memamerkan kecantikan atau kegantengan anaknya dengan harapan ada yang tertarik dan melamarnya.
Setali tiga uang, seorang gadis atau pria memamerkan diri untuk menarik orang orang yang bersimpati atau jatuh hati kepadanya.
Yang lebih tinggi lagi dari itu misalnya memamerkan atau menawarkan diri untuk.dipilih dalam suatu jabatan publik. Dalam.kasus seperti ini bisa dilakukan sendiri sendiri oleh pribadi pribadi atau oleh orang orang lain. Misalnya oleh bapaknya atau mamanya menyorong nyorong anaknya untuk dipilih dalam sebuah jabatan publik.
Walau pun sama sama menjual diri (harga diri), mereka dapat dibedakan. Dalam kasus menjual diri seperti pelacur, WTS atau gigolo, juga pengemis, yang menjual dibayar oleh yang membeli.
Sedang dalam kasus yang lain menjual harga diri atau derajat kehormatan diri tidak dibayar. Malah penjualnya harus mengeluarkan biaya biaya ekstra termasuk membayar orang agar bisa membeli jualan atau dagangannya.
Sedangkan persamaannya adalah sama sama sudah kehilangan rasa malunya. Sama sama sudah tidak punya kemaluan lagi.
Lepas dari segalanya, perlu diingat bahwa kehormatan diri ada pada harga diri. Dan harga diri adalah hal yang paling hakiki yang tidak dapat ditukar dengan uang, berapa pun nilainya.
Bagaimana barang seberharga dan semahal itu kalau dijual?***
Penulis : pensiunan birokrat, tinggal di Lewoleba Lembata
Komentar