Ahli Biologi : Gesekan Yang Terjadi Terus Menerus Akan Mengeluarkan Air

Hasil gambar untuk gaya gesekan

 Ilustrasi (google images)


Cerita ini hanyalah fiktif semata. Tidak bermaksud menyingung, jadi jangan merasa tersinggung. Cerita ini tentang dampak gaya gesekan yang diperdebatkan tiga orang ahli IPA. Ada ahli kimia, ahli biologi dan ahli fisika. Masing-masing mengemukakan pendapat dan mempertahankan argumen soal dampak dari gaya gesekan.

Kita tahu, gaya gesekan bahwa Gaya gesek adalah gaya yang berarah melawan gerak benda atau arah kecenderungan benda bergerak. Gaya gesek muncul apabila dua buah benda bersentuhan (https://id.wikipedia.org). 

Ketiga ahli yang berdebat tersebut mengemukakan pendapat beserta argumen tentang dampak dari gaya dari sudut pandang keilmuan masing-masing. 

Ahli Fisika mengatakan, dampak dari gaya gesekan adalah berupa panas. "Gesekan yang terjadi terus menerus akan menghasilkan panas", terang ahli fisika. Anda bisa mencoba menggesekan dua telapak tangan anda, lama kelamaan akan terasa panas, katanya.

Ahli Kimia pun tak mau kalah. Kata dia,  dampak dari gaya gesekan adalah berupa bau. "Gesekan yang terjadi terus menerus akan menghasilkan bau", kata ahli kimia. Anda bisa mencoba menggesekan dua bilah bambu, lama kelamaan akan tercium bau hangus, katanya.

Terakhir ahli biologi mengemukakan pandangannya terkait dampak dari gaya gesekan. Menurutnya, asal mula kehidupan manusia berawal dari gaya gesekan. Gaya gesekan tersebut merupakan persentuhan antara perempuan dan laki-laki. Dampak dari gesekan tersebut akan mengeluarkan air. "Gesekan yang terjadi tersebut jika terus menerus bergesek, semakin cepat akan mengeluarkan air. Air tersebut adalah asal mula kehidupan", kata ahli biologi. 

***

Ini hanyalah cerita fiktif. Namun dibalik cerita ini, kita dapat menarik suatu makna yang tersirat di dalamnya. Seperti apa makna yang tersirat di dalam  cerita di atas?

Tentunya, ketiga ahli tersebut membicarakan satu topik dari kacamata keahliannya masing-masing. Mereka bertiga memandang ke satu objek dari tiga jendela berbeda. 

Dalam keseharian, terkadang kita cenderung terlibat dalam perihal serupa. Ada kecenderungan setiap kita untuk memandang sesuatu menurut kacamata sudut pandan masing-masing. Kacamata sudut pandang setiap kita tentunya akan berbeda-beda bahkan berlawanan. Yang celaka adalah ketika kita memaksa orang untuk melihat sesuatu menurut sudut pandang kita. Tak elok jika demikian. Karena sesungguhnya, kita tak mesti memandang suatu objek dalam perspektif tunggal. Berbeda kacamata sudut pandang mestinya dihargai. Anggap saja hal tersebut merupakan beda interpretasi yang patut diapresiasi. *** (Yohanes Peu) 

Komentar