Alfons Bunganaen
Gambaran umum pendidikan NTT
menunjukkan bahwa mutu pendidikan dilihat dari peringkat kelulusan UN beberapa
tahun terakhir NTT selalu bertengger di posisi buntut dalam skala kebermutuan
pendidikan tingkat nasional.
Baca juga :
Baca juga :
- Ahli Biologi : Gesekan Yang Terjadi Terus Menerus Akan Mengeluarkan Air
- Kurikulum 2013 Dinilai Terlalu Bernafsu
Menjelang kontestasi
pemilihan gubernur NTT 2018-2023, para cagub dan cawagub sedang dan sudah
bergerylia menawarkan sejumlah program kerja termasuk perhatian serius di
bidang pendidikan terlebih untuk persoalan dimaksud. Bahkan ada kandidat
tertentu yang berusaha saling memojokan, mengangkat persoalan di atas
untuk pencitraan. Ada yang menawarkan program yang mau membuat pendidikan NTT
jauh lebih baik dari sebelumnya.
Pernah di sebuah Tabloid,
akademisi Universitas Widya Mandira Kupang, Alfons Bunganaen, memberikan secuil
pemikirannya terkait persoalan pendidikan di NTT. Berikut, nukilan pemikiran
yang disampaikan Bunganaen.
“Pada dasarnya untuk
pendidikan bermutu tidak terlepas dari dana. Dari APBN memang dialokasikan 20 %
untuk pendidikan tapi implementasinya apakah sudah tepat, saya juga belum tahu
persis. Kita harapkan diatur dan diimplementasi dengan benar”, kata dia
Lanjutnya, peningkatan mutu
pendidikan juga tidak terlepas dari kualitas guru. Soal mutu guru ini juga
beranjak dari motivasi awal seorang menjadi guru. Saya lihat minat orang untuk
menjadi guru sekarang ini mungkin motivasi mereka perlu dimurnikan. Kita
bandingkan dengan jaman dulu saja, orang –orang cerdas itu pasti memilih untuk
menjadi guru. Sekarang terbalik. Motivasi awal untuk menjadi guru dewasa
ini perlu dipertanyakan. Jika pemerintah daerah jeli melihat fenomen ini dan
punya keinginan untuk membuat mutu guru bagus maka anak—anak cerdas di SLTA
perlu dipersiapkan dari awal, motivasi mereka untuk menjadi guru. Perekrutan
guru itu sudah dimulai sedini mungkin. Anak –anak cerdas diberi beasiswa untuk
kuliah di LPTK. Kita perlu mencari bibit—bibit unggul guru dari awal, beri
mereka beasiswa untuk kuliah guru. Sebagai dosen, saya lihat rata-rata
kemampuan akademik mahasiswa yang masuk ke LPTK kurang menggembirakan. Hanya
ada satu dua orang saja yang baik. Jadi jika pemerintah daerah punya
perhatiannya untuk peningkatan kualitas guru maka hal diatas mungkin perlu
mendapat perhatian. (Yohanes Peu)

Komentar