Oleh Florianus Dus Arifian
Seorang sahabat yang berprofesi guru mengirim pesannya via facebook bahwa penilaian pembelajaran dalam Kurikulum 2013 (K’13) memberatkan guru karena banyaknya indikator yang perlu dinilai. Penulis membaca pesan itu sebagai keluhan bukan terutama dari sahabat, melainkan dari guru yang di pundaknya idealisme K’13 berikut penilaian pembelajaran di dalamnya dipertaruhkan. Penulis juga berasumsi bahwa keluhan sahabat itu hanyalah bagian kecil di permukaan gunung es keluhan para guru dalam menghadapi perubahan mendasar penilaian pembelajaran dalam K’13. Ya, wajar saja guru mengeluh karena dituntut untuk keluar dari zona nyaman praktik penilaian selama ini. Oleh karena itu, upaya memompa motivasi guru perlu dilakukan.
Sarat Penyimpangan
Sejauh ini, penilaian pembela-jaran dililiti penyimpangan. Penilaian
pembelajaran cenderung diperlakukan secara terpisah lewat penggunaannya yang secara dominan mengukur hasil dan mengabaikan
pemantauan proses pembelajaran. Penilaian hanya menjadi pelengkap yang dimunculkan
sekadarnya saja pada akhir pembelajaran. Selain itu, penilaian cenderung digunakan secara sempit untuk
mengukur aspek kognitif, dan kurang memperhatikan keterampilan
dan sikap yang semestinya menjadi indikator penting keberhasilan pembelajaran. Penilaian
cenderung direduksi sebagai pengukuran, dan secara monoton menggunakan teknik tes. Berbagai ulangan harian, ujian tengah
semester, dan ujian akhir semester yang dipraktikkan di sekolah terkunci dalam paradigma dan praksis
yang sempit tersebut. Guru melakukan penilaian cenderung untuk menyadap pengetahuan
lewat butir-butir kering soal tes dan gagal menggambarkan secara autentik
profil keterampilan dan sikap siswa. Ujian nasional (UN) sebagai rujukan umum
pun malah mengekalkan pemandangan serupa.
Praktik seperti di atas
mengerdilkan makna penilaian. Penilaian yang sejatinya merupakan prosedur
pengumpulan informasi secara sistematik untuk menyimpulkan
karakteristik siswa (Reynolds, dkk., 2010: 3) menjadi kegiatan pengukuran dan
tes pengetahuan belaka. Apakah pro-sedur pengumpulan informasi
itu hanya berupa pengukuran dan teknik tes? Apakah karakteristik siswa dan
bekal untuk menghadapi kehidupan ini satu-satunya adalah pengetahuan? Jawabannya, jelas
‘tidak’. Pengukuran dan teknik tes hanyalah asteroid kecil dalam semesta
prosedur pengumpulan data pembelajaran siswa sehingga memiliki keterbatasan
dalam menyadap data. Aspek pengetahuan pun hanyalah setetes air dalam samudra
kompetensi yang dimiliki dan diperlukan siswa untuk mengarungi kehidupan ini. Pengetahuan bahkan mudah dilupakan jika
dibandingkan dengan keterampilan dan sikap.
Baca juga :
Baca juga :
Selain itu, dalam praktik
seperti di atas peran penilaian diperlemah. Penilaian yang sesungguhnya mengemban misi penting, yakni a)
mendiagnosis dan memantau kemajuan pembelajaran; b) memberi peringkat pada siswa; c)
memprediksi keberhasilan masa depan; d) memotivasi siswa; dan e) mendiagnosis
pengajaran (Marsh, 1996: 213), hanya menjadi ajang untuk mengkotak-kotakkan lewat
pemberian label peringkat serentak menanamkan benih persaingan yang tidak sepenuhnya baik
untuk siswa. Peran dahsyat penilaian yang sesungguhnya menjadi pemandu dan pendukung proses pembelajaran
(Sharples, et all., 2012: 3) hanyalah utopia abadi karena posisinya dicampak-kan ke wilayah periferi.
Dampak Buruk
Akibat dari penyimpangan penilaian itu dapat dilihat minimal dari sisi
siswa dan guru. Dari sisi siswa, penilaian yang demikian secara
psikologis menciptakan ketakutan. Dalam persepsi siswa, penilaian laksana raja kejam yang duduk dalam
istana kekuasaan dan pada waktunya akan keluar menghukum orang yang tidak sesuai dengan
kemauannya. Tidak dapat diingkari, banyak siswa yang cemas ketika akan
menghadapi ulangan/ujian. Hal yang memriha-tinkan adalah siswa mulai
menempuh cara instan dan curang agar sukses menghadapi ujian. Hal ini
justru meruntuhkan wibawa pendidikan.
Dari sisi guru,
penyimpangan itu hanya menyajikan data yang terbatas berupa aspek kognitif dan
hasil pembelajaran. Data ini tidak bersifat autentik dan holistik menggambarkan
profil kompetensi siswa. Guru lalu terjebak dalam keputusan keliru tentang
prestasi belajar siswanya sebab hanya didasarkan pada data yang terbatas.
Tambahan pula, guru tidak dapat secara maksimal menjalankan kegiatan diagnosis terhadap praktik
pedagogisnya karena tidak didukung oleh keakuratan dan kekayaan
informasi penilaian pembelajaran; padahal menurut Zuljan dan Vogrinc (2010: 455) kemampuan
berdiagnosis menunjung praktik kreatif dan inovatif guru untuk memperbaiki
kualitas pembelajaran dan keahlianya. Dengan penjelasan lain, dalam penyimpangan itu
penilaian tidak bermanfaat plus untuk memberdayakan guru ke arah peningkatan profesionalisme
sebagai dampak dari diagnosis yang tiada henti terhadap praktik
pedagogis pribadi yang didukung data autentik penilaian
pembelajaran.
Purifikasi Penilaian
Tampaknya, kesadaran akan penyimpangan tersebut
mulai bertumbuh saat ini. Kebijakan menghapus UN jenjang SD pada tahun lalu, selain
memang kongruen dengan karakteristik
pembelajaran tematik integratif dalam K’13, juga dapat dibaca dalam konteks kesa-daran akan penyimpangan penilaian selama ini.
Dengan dilandasi kesadaran itu, kiblat penilaian yang didengunglantangkan
hari-hari ini tidak lain menuju ke fitrah hakiki penilaian itu sendiri.
Sudah waktunya penilaian
harus diperlakukan sebagaimana kekayaan dimensi makna dan peran di dalamnya. Dari
segi prosedur, penilaian harus menunjukkan kebervariasian teknik sehingga dapat
menggambarkan secara utuh dan nyata profil kompetensi siswa pada aspek
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian harus memantau secara seimbang
proses dan hasil pembelajaran. Dari segi peran, penilaian tidak boleh
menakutkan siswa. Penilaian bahkan perlu memberdayakan siswa untuk menjadi
penilai kinerja belajarnya lewat penggunaan penilaian diri dan sejawat. Dua
penilaian ini dapat membentuk siswa menjadi pribadi reflektif yang mengetahui
kekuatan dan kelemahan belajarnya sehingga dapat membangun kekuatan menuju
pebelajar sejati. Bagi guru, sudah sepantasnya penilaian menjadi energi
yang memberdayakan ke arah peningkatan profesionalisme sebagai dampak dari
diagnosis terhadap kinerja mengajar yang berbasiskan data penilaian pembelajaran
siswa.
Penilaian dalam K’13
K’13 persis berada di
pusaran kesadaran memurnikan makna penilaian pembelajaran. Jika direfleksikan
secara mendalam, kembali ke kesejatian makna penilaian memang bukan terutama
karena soal munculnya K’13, melainkan soal bagaimana semestinya penilaian itu
dipahami dan dipraktikkan. Tanpa perubahan kurikulum pun memahami dan
mempraktikan penilaian sesuai dengan makna sejatinya hendaknya
merupakan kehausan guru.
Dengan dilandasi semangat
purifikasi penilaian, K’13 mengarusutamakan penggunaan penilaian autentik. Penilaian autentik
melibatkan berbagai kinerja yang mencerminkan secara seimbang proses dan hasil
dengan menggunakan prosedur dan teknik yang jamak sebagaimana kondisi proses dan
hasil pembelajaran yang jamak pula. Penilaian autentik meminta guru untuk menilai kinerja siswa
sebagaimana dilakukan di dunia nyata secara bermakna yang meru-pakan penerapan esensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Nurgiyantoro, 2012: 306).
Dalam aspek tertentu, penulis menganalogikan penilaian autentik dengan cara
kerja seismograf yang mencatat secara detail kondisi guncangan gempa sepanjang
waktu sehingga menghasilkan data akurat tentang perkembangan gempa.
Karakteristik penilaian
autentik tersebut membutuhkan dedikasi yang tulus dan tekun sang guru sesuai dengan
panggilan jiwa sebagai pendidik. Pasalnya, dalam penilaian autentik terdapat
minimal empat syarat mutlak yang harus dipersiapkan guru, yakni 1) penetapan standar, 2)
penetapan jenis tugas, 3) penetapan kriteria, dan 4) pembuatan rubrik
penilaian. Hanya dengan persiapan semacam ini penilaian autentik memiliki
kredibilitas yang tangguh dan dapat menjadi basis andal informasi bagi kegiatan
diagnosis untuk memper-baiki kualitas pembelajaran dan keahlian guru.
Ya, jalan menuju penilaian sejati memang
membutuhkan kerja keras, namun berjuang ke sana adalah
indikator paling nyata guru profesional. Perjuangan menuju penilaian sejati mungkin memberatkan guru karena
banyaknya persiapan yang perlu dilakukan, namun di balik perjuangan itu
terdapat kunci untuk membuka rahasia kualitas pendidikan.
*Penulis, Dosen STKIP St. Paulus Ruteng
Komentar