Fenomena Pelakor : Perebut Laki Orang Atau Perilaku Laki Kotor?

Hari-hari ini, "pelakor" telah menjadi kosa kata yang populer; tidak hanya di jagad maya, di dunia nyata pun kosa kata ini akrab di telinga. 

Ketika saya mencoba menjelajahi jagad maya dengan perahu pencari yang bernama google dengan menggunakan kata kunci "pelakor", beberapa media mainstream di tanah air memunculkan hasil pencarian kata kunci tersebut di halaman awal mesing pencari raksasa dunia bernama google itu. Saya bergumam,ternyata kosa kata pelakor ini juga menjadi kata kunci yang populer di google.


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           



Pelakor merupakan akronim dari perebut laki orang. Kosa kata ini diidentikan dengan perempuan, -entah janda, gadis, atau juga istri orang-, yang merebut seorang suami dari istri sah-nya. Ketika kita membicarakan pelakor, yang tampak adalah pemburukan terhadap perempuan yang doyan merebut suami atau laki orang. Menyebut kata pelakor, tentunya secara otomatis yang disalahkan atau dikambinghitamkan adalah perempuan yang merebut laki orang. Tetapi, pernahkan kita merefleksi tingkah laku suami yang katanya direbut wanita pelakor? 


Pelakor itu sendiri sebetulnya merupakan peristiwa perselingkuhan. Yang namanya perselingkuhan pasti melibatkan dua pihak : laki-laki dan perempuan. Lantas mengapa hanya perempuan yang dipersalahkan dalam fenomena pelakor tersebut?

Tak adil jika hanya perempuan yang mendapat pemburukan image dalam kasus ini.  Supaya adil maka perlu juga ditelisik, seperti apa perilaku suami sehingga memicu perselingkuhan. 

Doel Sumbang pernah bilang kalau umumnya lelaki punya sifat bajingan yang tak pernah puas dengan satu perempuan. Matanya kerap jelajatan ketika melihat yang molek, dan sebagainya.

Dengan demikian maka kosa kata pelakor tidak hanya untuk perempuan yang merebut laki orang tapi pelakor juga untuk laki-laki yang sudah punya pasangan tapi masih saja melirik "yang lain". Kosa kata "pelakor" ini bisa dikenakan kepada mereka yang tipikalnya seperti itu. 

Oleh karena itu pelakor juga bisa diplesetkan dengan perilaku laki kotor. (Yohanes Peu)

Komentar