GIGO : Manusia Teknologi dan Teknologi Manusia




Oleh : Pius Kulu Beyeng
Penulis, tinggal di Lewoleba, Lembata, Nusa Tenggara Timur

Masih ingat istilah GIGO? Saya hampir yakin bahwa sebagian besar dari kita, manusia tekhnologi dewasa ini, yang sudah lupa dengan istilah tersebut, istilah tentang tekhnologi manusia.

Karena istilah tersebut muncul bertepatan dengan munculnya era digital, era industri komputerisasi dan informasi. GIGO singkatan bahasa Inggris dari Garbages In, Garbages Out, yang berarti Masuk Sampah, Keluar Sampah. 

Baca juga :  
  • Kita Tidak Memerlukan Lagi Polisi, Jaksa, Hakim dan Tentara, Jika Seluruh Masyarakat Melaksanakan Nilai-Nilai Pendidikan
  • Menjual Diri


Komputer, sebuah alat rekayasa tekhnologi canggih tidak lebih dari sekedar sampah. Secanggih apa pun sebuah komputer, tidak lebih dari sampah.Tentu tidak dimaksudkan untuk meremehkan sebuah kemajuan tekhnologi yang sangat penting dan bermanfaat bahkan boleh jadi sangat menentukan arah hidup manusia dan masa depan.
Namun GIGO mengingatkan kita dua hal.

Pertama, secanggih apa pun hasil sebuah tehnologi, sebuah komputer misalnya, dia tidak dapat memproduksi lebih dari apa yang dimasukan atau diprogramkan manusia ke dalam storage atau gudangnya. Yang masuk itu, yang keluar juga itu. Tidak lebih. Itu lah makna di balik GIGO, masuk berlian, keluar berlian. Masuk sampah keluar juga sampah. 

Kata kata ini menyiratkan sebuah pesan bagi manusia pencipta tekhnologi bahwa, secanggih apa pun sebuah tekhnologi, komputer maksudnya tidak lebih pintar dari penciptanya. Benar kah ?

Kedua, menyadarkan manusia bahwa dia adalah pencipta tekhnologi dan atas dasar kepemilikan itu dia (manusia) yang menguasai tekhnologi dalam arti seluas luasnya, dan bukan sebaliknya bahkan berhambah kepada tekhnologi. Ambillah contoh sederhana, ketika membeli korek api satu buah seharga 5 ratus perak dan rokok sebungkus seharga ,15 belas ribu, pegawai toko harus menggunakan kalkulator. Atau misalnya sebuah produk tekhnologi seperti WA dan Messenger dapat digunakan untuk selingkuhan.

Prof Alo Liliweri pernah menulis, "Warisan biologis menentukan seberapa jauh seorang mampu pergi. Sedangkan warisan budaya menentukan seberapa jauh seorang mau pergi. Karena manusia itu makhluk biologis yang berbudaya, maka atas dasar kepemilikan itu, manusia memiliki rencana dan masa depan."

Manusia biologis tidak memiliki sejarah. Ia sama halnya makhluk hidup yang lain, hidup dalam sebuah siklus pengulangan tak bersejarah. Sedang manusia budaya memiliki masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Ia berada dalam siklus sebuah sejarah. 

Seperti dikatakan oleh Alo Liliweri, manusia memiliki warisan budaya yang menentukan kemana IA MAU pergi, maka hal itu mengisyaratkan bahwa harus ada NILAI yang menjadi pedoman arah. Agar manusia dapat pergi dan berjalan di jalan yang tepat.

Berbarengan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi khusunya dibidang industri komputerisasi dan informasi, kebutuhan akan nilai ini malah menjadi sangat penting dan mendesak. Serangan serangan tehnologi seperti individualisme, sekularisme, melemahnya daya kerja mandiri otak manusia akibat perhambaan diri kepada tekhnologi, kejahatan berbasis tekhnologi dan masih banyak yang lain lagi.
Kesemuanya ini hendaknya mengingatkan manusia akan GIGO. Masuk sampah keluar sampah. Karena jika tidak diwaspadai, manusia sebagai pemilik yang berkuasa atas technologi bisa jadi menjadi sampah tekhnologi. Pencipta dan pemilik tekhnologi sangat boleh jadi menjadi sampah benaran bahkan bisa digilas oleh hasil ciptaannya sendiri.

Tekhnologi manusia hendaknya menjadikan manusia tekhnologi menjadi tuan atas hasil ciptaannya sendiri. Dan bukan sebaliknya.

Komentar

Unknown mengatakan…
Terima kasih bapak Pius Kulu Beyeng (PKB), sebuah hasil buah fikiranmu amalisamu tentang GIGO.