Ilustrasi (google images)
Tuntutan untuk menulis bagi guru kini menjadi
suatu keharusan. Dalam beberapa peraturan terkait profesionalisme guru,
kegiatan tulis menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan. Misalnya
peraturan yang mengatur jabatan fungsional guru, publikasi ilmiah (dari tulisan
berupa gagasan hasil penelitian, buku teks, buku pengayaan, dan buku pedoman
guru) menjadi kewajiban bagi guru yang hendak naik pangkat, golongan/ruang.
Baca juga :
Baca juga :
Aturan terbaru untuk jabatan fungsional guru,
tuntutan wajib melakukan kegiatan menulis dan memublikasi karya ilmiah sudah
mulai berlaku bagi guru yang hendak pindah golongan ruang dari III/b ke atas. Padahal jika kita melihat kebelakang, kenyataan
selama ini sebagian besar guru mandek di golongan IV/a sebagaimana data dari
Ditjen PMTK tahun 2010 yang menunjukan bahwa dari keseluruhan guru PNS di
Indonesia sebanyak 1.644.161 yang bergolongan IV/b sebanyak 29.082, IV/c 293
orang, IV/d 107 orang, dan IV/e baru 23 orang. Sementara yang masih bertahan di
IV/a sebanyak 625. 640 orang dan yang lainnya belum mencapai IV/a.
Pertanyaannya,
mengapa dari sekian banyak guru hanya segelintir saja yang mencapai pangkat dan
golongan tinggi? Tentu mereka yang rajin membuat karya ilmiah akan mencapai
pangkat dan golongan ruang yang tinggi sementara mereka diduga tidak melakukukan
karya inovatif, tidak mau membuat karya tulis ilmiah pasti akan selalu bertahan
di pangkat, golongan/ruang yang sama. Diduga, guru tidak membiasakan diri untuk
memulai menulis.
Untuk
menumbuhkembangkan budaya menulis dan juga mengasah keterampilan menulis para
guru, kiranya perlu dipikirkan agar di setiap sekolah di terbitkan buletin
sekolah, majalah sekolah, atau media lainnya (misalnya publikasi melalui internet).
Meminjam Marsel Robot, dengan menghadirkan media-media tersebut setidaknya akan
menjadi ruang rangsang bagi guru memulai menulis. Dan dalam hal ini, diabaikan
dulu bobot karya tulis mereka (untuk mendongkrak angka kredit), yang diutamakan
adalah kemauan untuk memulai menulis. Per definisi kamus, rangsang
atau stimulus adalah istilah yang digunakan oleh psikologi untuk menjelaskan
suatu hal yang merangsang terjadinya respon tertentu. Rangsang merupakan
informasi yang dapat diindera oleh panca indra (wikipedia).
Adrianus
Ngongo, S. Pd, seorang guru sekaligus pemimpin redaksi dan penanggungjawab sebuah
buletin sekolah, pernah menulis beberapa hal terkait pentingnya menulis.
Menurut pria murah senyum ini, ada beraneka alasan yang mendorong seseorang
untuk terpacu menulis diantaranya seperti alasan ekonomi yang mana seorang
penulis akan mendapat penghasilan. Ada juga yang menulis karena tuntutan
pekerjaan misalnya untuk guru yang diwajibkan menulis dan memublikasi gagasan,
hasil penelitian, dan bahkan menulis buku. Ada lagi yang menulis untuk berbagi
pengetahuan yang mana penulis ingin berbagi ide, solusi, atau keterampilan
kepada pihak lain.
Di atas
semuanya itu, kata Adi (sapaan), menulis adalah sarana aktualisasi diri. Dengan
menulis, seseorang menyatakan kepada dunia tentang siapa dirinya, apa yang
dipikirkannya, dan bagaimana semestinya menjalani hidup di bumi ini. Dengan
menulis seseorang akan berbagi kepada sesamanya dalam bentuk ide, pengetahuan,
dan keterampilan yang penting bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Dengan
berbagi dan mengaktualisasi diri akan menjadi sumber energi yang tak akan
pernah habis bagi seorang penulis untuk terus berkarya sekalipun bagitu banyak
kendala yang menghadang.
Komentar