Jon Tukan Bersama Anak-Anaknya Sulap Barang Bekas Menjadi Karya Seni


Yang namanya barang bekas itu biasanya tidak begitu diminati. Dia ibarat barang basi yang sudah turun nilai tawarnya bahkan nyaris tidak laku di pasaran. Tetapi tidak bagi guru yang satu ini.
Adalah Yohanes Tukan, guru di SDI Bertingkat Kelapa Lima 2 Kupang ini boleh dibilang kreatif. Ketika kaleng-kaleng bir bekas menjadi sampah oleh kebanyakan orang, John Tukan (sapaan akrab, red) bersama siswa-siswinya malah mensulapnya menjadi karya mozaik yang indah dipandang mata. Kaleng bir bekas memang bisa didaur ulang menjadi benda berguna namun John lebih memilih menggunakannya untuk menghasilkan karya seni. Kaleng bir bekas tersebut digunting kecil-kecil dan disusun-susun dengan objek tanaman hias kemudian dilrekatkan pada kain hitam beralaskan triplek. Sungguh menjadi karya tangan yang elok dipandang mata. Siapa pun tentu akan puas menyaksikan hasil karya seni polesan jari-jari lentik siswa/i kelas IV SDI Bertingkat Kelapa Lima 2 yang digembleng sang arsitek John Tukan ini.




Tak hanya kaleng bekas bir dan minuman soda lainnya, pada pembelajaran IPA dengan materi pokok rangkaian listrik, John bersama peserta didiknya juga memanfaatkan kayu balok, papan, dan triplek bekas untuk membuat miniatur rumah tinggal. Pada miniatur inilah anak didiknya difasilitasi untuk membuat rangkaian listrik termasuk didalamnya menata penempatan lampu-lampu pada sebuah rumah, misalnya meletakkan lampu pada teras rumah, dsb. 


 
Menariknya lagi bahwa karya anak-anak tersebut akan dipamerkan kepada guru-guru dan orang tua pada saat bersamaan dengan pengambilan buku rapor pendidikan.
“Pameran itu kita lakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada orang tua. Bahwa selama ini kita suruh anak bawa ini, bawa itu, ya inilah hasilnya dan kita pamerkan. Di setiap karya yang dipamerkan itu sudah tertera harganya, tanpa sungkan orang tua pun membeli hasil karya anak-anak mereka. Saya lihat wajah-wajah penuh kepuasan dari anak-anak ketika hasil karya mereka dibeli oleh orang tuanya. Anak-anak pasti punya kepuasan bathin ketika hasil karya mereka dihargai”, pungkas John Tukan. (Yohanes Peu)


Komentar

JOHN TUKAN mengatakan…
Pembelajaran hanya akan memberi makna apabila anak-anak diberi kesempatan untuk "berkreasi/ mencipta". Proses mencipta dalam hal ini dengan mengakomodir berbagai tipe kecerdasan siswa: Linguistik;musukal; bodily-kinesthic, logical, visual spacial, interpersonal, intrapersonal, natural, dan Moral.... Dan setiap pembelajaran di kelas pasti menghasilkan PRODUK.... "Mau diapakankah produk2 ini? atau mau dikemanakankah?
PAMERAN DAN PENTAS SENI ADALAH AJANG YANG PALING STRATEGIS UNTUK MEMPUBLIKASIKAN KARYA2 SISWA SEHINGGA BERNILAI EKONOMIS, MEMILIKI NILAI AKUNTABILITAS YANG PALING EFEKTIF BAGI LEMBAGA PENDIDIKAN UNTUK MEMPERTANGGUNGJAWABKANNYA KEPADA SEMUA PIHAK....