Kita Tidak Memerlukan Lagi Polisi, Jaksa, Hakim dan Tentara, Jika Seluruh Masyarakat Melaksanakan Nilai-Nilai Pendidikan
Oleh : Pius Kulu Beyeng
Pemerhati Masalah Sosial dan Pendidikan,
Tinggal di Lewoleba - Lembata
Hari ini tanggal 2 Mai, adalah Hari
Pendidikan Nasional. Maka marilah kita merayakan Hari Pendidikan Nasional ini
dengan penuh syukur kepada Tuhan dan terimakasih
kepada para tokoh pendidikan nasional kita yang telah menanamkan benih benih
pendidikan di negeri ini.
Masuknya pendidikan ke setiap pelosok
tanah air tidak serempak. Ada yang lebih dahulu, ada yang kemudian. Sebagai
misal di pulau Lomblen (sekarang kabupaten Lembata), pendidikan terlebih dahulu
masuk lewat selatan, kemudian ke tengah dan terakhir di timur. Pendidikan masuk
pulau Lomblem pada awal abad 20 melalui para misionaris Katholik. Wilayah
Kedang, (sekarang kecamatan Buyasuri dan Omesuri) bagian paling timur pulau
Lomblem (Lembata), adalah wilayah yang paling akhir dimasuki pendidikan.
Pendidikan masuk Kedang pada yakni 1925, dibawah oleh guru Sinu da Proma,
putera Lamalera, yang membuka sekolah rakyat (sekarang sekolah dasar) pertama
di Kedang. Sebelum tahun itu Kedang masih di alam kegelapan. Masyarakat masih belum mengenyam pendidikan melalui bangku sekolah.
Bapa guru Sinu juga rasul awam pertama
yang membawa agama nasrani masuk ke Kedang. Dapat ditambahkan bahwa agama agama
modern yang masuk ke Kedang, pertama agama Islam tahun 1915 dan agama Nasrani
pada tahun 1925. Menyusul guru Sinu adalah guru guru dari Lewolere dan Waibalun
Flores Timur yang lama berkarya di Kedang, sebelum datang guru guru pribumi
asal Kedang yang tamatan VO, Standard School, SGB dan terakhir SGA.
Maka di hari pendidikan ini, disamping
bersyukur kepada Tuhan, kita menghaturkan limpah terimakasih kepada para
pendidik, peletak dasar pendidikan di tanah air, khususnya di Lembata dan
terkhusus di wilayah Kedang. Terimakasih juga kepada para rasul awam yang
membawa agama nasrani masuk ke wilayah Kedang.
Tidak dapat disangkal bahwa pendidikan
berperan penting dan vital bagi pertumbuhan kebudayaan dan peradaban. Namun
demikian, terkadang realita membuat kita gundah dan sedih. Sebagian bahkan
banyak orang yang berilmu dan pintar, dalam pola tingkah laku dan tutur katanya
malah memperlihatkan yang sebaliknya, seperti orang bodoh dan tidak terdidik.
Kita simak kata kata seorang camat
pada Hari Pendidikan 2 Mai 1963, Frans Siola, camat Lomblem Timur di Leuwayang,
yang secara filosofis puitis dan idealis berujar:
"Laut tanpa ikan, suatu
keganjilan. Masyarakat tanpa pendidikan akan hancur berantakan".
"Kalau semua anak didik dan
seluruh anggota masyarakat, melaksanakan nilai nilai pendidikan yang diajarkan
sekolah, kita tidak memerlukan lagi polisi, jaksa, hakim dan juga
tentara."
Menyedihkan. Fenomena di era kemajuan
ini terkadang malah mempertontonkan keadaan sebaliknya. Yang merusak bukan
orang orang bodoh dan tidak terdidik. Mereka yang berlatar terdidik,
terpelajar, ilmuwan, cerdik cendekia justeru yang berpikiran kerdil, berkata
dan berperilaku seperti orang yang tidak terdidik, terpelajar, ilmuwan dan
cerdik cendekia. Bahkan memperalat orang orang bodoh dan tidak terdidik, yang
seharusnya mereka bimbing dan bina.
Ironis. Aneh memang. Tapi nyata.
Komentar