Ilustrasi (google images)
Konsep
dasar perkalian lasimnya diajarkan pada kelas rendah SD. Dalam membelajarakan
konsep dasar perkalian, kebanyakan guru cenderung menugaskan anak untuk
menghafal. Pada hal menghafal perkalian sejatinya bukanlah metode yang tepat
untuk meransang proses berpikir anak untuk memahami konsep perkalian.
Bagaimanakah konsep Teori Belajar Bruner dan implementasinya dalam
membelajarkan konsep perkalian pada siswa yang baru memelajari perkalian? Kalau
tidak salah, konsep Teori Belajar Bruner ini ditanyakan juga pada UKG online
untuk guru SD beberapa waktu lalu. “Enaktif, Ikonik, dan Simbolis”, tiga model
penyajian yang diperkenalkan Bruner ini seperti apa?
Baca juga :
- Merenung Makna Pendidikan di Hari Pendidikan Nasional
- Ahli Biologi : Gesekan Yang Terjadi Terus Menerus Akan Mengeluarkan Air
- Alfons Bunganaen : " Beri Beasiswa untuk Anak-Anak Cerdas SMA Kuliah di LPTK
- Kemendikbud dan BRI Bantu Rumah Subsidi untuk Guru di Kupang, Monokwari, dan Beberapa Wilayah di Jatim
Bruner
yang memiliki nama lengkap Jerome S.Bruner seorang ahli psikologi (1915) dari
Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah mempelopori aliran psikologi
kognitif yang memberi dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada
pentingnya pengembangan berfikir. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai
perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar atau memperoleh
pengetahuan, menyimpan pengetahuan dan menstransformasi pengetahuan. Dasar
pemikiran teorinya memandang bahwa manusia sebagai pemeroses, pemikir dan
pencipta informasi. Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yang
memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar informasi yang
diberikan kepada dirinya.
Ada
tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu (1) proses perolehan
informasi baru, (2) proses mentransformasikan informasi yang diterima dan (3)
menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Perolehan informasi baru dapat
terjadi melalui kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan guru mengenai materi yang
diajarkan atau mendengarkan audiovisual dan lain-lain. Informasi ini mungkin
bersifat penghalusan dari informasi sebelumnya yang telah dimiliki. Sedangkan
proses transformasi pengetahuan merupakan suatu proses bagaimana kita
memperlakukan pengetahuan yang sudah diterima agar sesuai dengan kebutuhan.
Informasi yang diterima dianalisis, diproses atau diubah menjadi konsep yang
lebih abstrak agar suatu saat dapat dimanfaatkan.
Menurut Bruner (dalam Hudoyo,1990:48) belajar matematika adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari, serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. Siswa harus dapat menemukan keteraturan dengan cara mengotak-atik bahan-bahan yang berhubungan dengan keteraturan intuitif yang sudah dimiliki siswa. Dengan demikian siswa dalam belajar, haruslah terlibat aktif mentalnya agar dapat mengenal konsep dan struktur yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan, anak akan memahami materi yang harus dikuasainya itu. Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat anak. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
Bruner,
melalui teorinya itu, mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya
diberi kesempatan memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang
secara khusus dan dapat diotak-atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep
matematika. Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat
langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang
sedang diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak dihubungkan
dengan intuitif yang telah melekat pada dirinya. Peran guru dalam
penyelenggaraan pelajaran tersebut, (a) perlu memahami sturktur mata pelajaran,
(b) pentingnya belajar aktif suapaya seorang dapat menemukan sendiri
konep-konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar, (c) pentingnya nilai berfikir induktif.
Dengan
demikian agar pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan intelektual anak
dalam mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), maka
materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan
kognitif/ pengetahuan anak agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam
pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi
se-cara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar terjadi secara optimal)
jika penge-tahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu
model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik.
Bila dikaji
ketiga model penyajian yang dikenal dengan teori Belajar Bruner, dapat
diuraikan sebagai berikut:
Model Tahap
Enaktif
Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui
tindakan anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi (mengotak-atik)
objek. Pada tahap ini anak belajar sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu
dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret atau
menggunakan situasi yang nyata, pada penyajian ini anak tanpa menggunakan
imajinasinya atau kata-kata. Ia akan memahami sesuatu dari berbuat atau
melakukan sesuatu.
Model Tahap
Ikonik
Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan
berdasarkan pada pikiran inter-nal dimana pengetahuan disajikan melalui
serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan
mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya. Anak
tidak langsung mema nipulasi objek seperti yang dilakukan siswa dalam tahap
enaktif.
Tahap
ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan
itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual
imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau
situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas (butir a).
Bahasa menjadi lebih penting sebagai suatu media berpikir. Kemudian seseorang
mencapai masa transisi dan menggunakan penyajian ikonik yang didasarkan pada
pengindraan kepenyajian simbolik yang didasarkan pada berpikir abstrak.
Model Tahap
Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik,
anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak
lagi terikat dengan objek-objek seperti pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap
ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil.
Pada tahap simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk
simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang
dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan,
baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat),
lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
Sebagai
contoh, dalam mempelajari penjumlahan dua bilangan cacah, pembelajaran akan
terjadi secara optimal jika mula-mula siswa mempelajari hal itu dengan
menggunakan benda-benda konkret (misalnya menggabungkan 3 kelereng dengan 2
kelereng, dan kemudian menghitung banyaknya kelereng semuanya ini merupakan
tahap enaktif). Kemudian, kegiatan belajar dilanjutkan dengan menggunakan
gambar atau diagram yang mewakili 3 kelereng dan 2 kelereng yang digabungkan
tersebut (dan kemudian dihitung banyaknya kelereng semuanya, dengan menggunakan
gambar atau diagram tersebut/ tahap yang kedua ikonik, siswa bisa melakukan
penjumlahan itu dengan menggunakan pembayangan visual (visual imagenary) dari
kelereng tersebut. Pada tahap berikutnya yaitu tahap simbolis, siswa melakukan penjumlahan
kedua bilangan itu dengan menggunakan
lambang-lambang bialngan, yaitu : 3 + 2 = 5.
Contoh lainnya :
Guru akan mengajarkan konsep perkalian, objek
digunakan misalnya sapi.
Tahap
enaktif, anak kita
bawa ke kandang sapi, dengan mengamati dan mengotak-atik dari 3 ekor sapi, jika
kita perhatikan adalah:
banyaknya kepala
.................... ada 3
banyaknya ekor
........................ ada 3
banyaknya telinga
..................... ada 6
banyaknya kaki
......................... ada 12
Tahap
Ikonik, anak dapat
diberikan 3 ekor gambar sapi sebagai berikut:
banyaknya kepala
.................... ada 3
banyaknya ekor
........................ ada 3
banyaknya telinga
..................... ada 6
banyaknya kaki
......................... ada 12
Tahap
simbolis dapat
ditulis kalimat perkalian yang sesuai untuk ketiga sapi tersebut bila
tinjauannya berdasarkan pada:
kepalanya, maka banyak kepala = 3 x
1
ekornya, maka banyaknya ekor = 3 x
1
telinganya, maka banyak telinga = 3
x 2
kakinya, maka banyaknya kaki = 3 x
4
Dari fakta
dan kalimat perkalian yang bersesuaian tersebut disimpulkan bahwa: 3 x 1 = 3, 3
x 2 = 6 dan 3 x 4 = 12.
Untuk lebih
jelas simbolis dipandang adalah kakinya, maka untuk:
banyaknya kaki pada 1 sapi = 4.
banyaknya kaki 2 sapi = 8 ( karena
kaki sapi 1 + kaki sapi 2 ) = 4 + 4.
banyaknya kaki 3 sapi = 12 ( kaki
sapi 1 + kaki sapi 2 + kaki sapi 3) = 4 + 4 + 4.
Dengan
konstruksi berpikir semacam ini maka banyaknya kaki untuk
1 sapi = 1
x 4 = 4
2 sapi = 2
x 4 = 4 + 4 = 8
3 sapi = 3
x 4 = 4 + 4 + 4 = 12
Contoh :
Melanjutkan
perkalian tersebut, tanpa menunjukkan gambar sapi, anak dapat menyelesaikan,
4 x 4 = 4 +
4 + 4 + 4 = 16
5 x 4 = 4 +
4 + 4 + 4 + 4 = 20
6 x 4 = 4 +
4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 24 dan seterusnya.
Dengan cara
yang sama dapat dilanjutkan dengan perkalian fakta dasar lainnya. Dengan ini
maka anak akan mengontruksi pemikirannya sendiri bahwa perkalian adalah
penjumlahan berulang. (Sumber:
Nyimas Aisyah dkk, Buku Pengembangan Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar, Depdiknas : 2007)

Komentar