Oleh Ambrosius Beda Niron, S. Pd
Guru di Flores Timur, NTT
Peringatan hari Pendidikan Nasional setiap
tahun merupakan suatu hari bersejarah yang amat penting dan paling
menggembirakan bagi kita yang sedang bernaung dan mengenyam pendidikan di suatu
lembaga pendidikan. Bagaimana kita meriah rayakannya tentu sangat tergantung
dari bagaimana cara kita memaknai
momentum hari Pendidikan Nasional ini. Baik dalam konteks kelompok sebagai sebuah institusi
maupun secara pribadi yang pernah merasakan begitu pentingnya peran pendidikan.
Kesemuanya itu tentu merupakan luapan ekspresi segala perasaan haru dan gembira tat kala dalam
sanubari yang terdalam kita ingin bernostalgia bahwa keharuman nama besar dalam
jabatan atau gelar kehormatan apa pun yang
bisa kita sandang semuanya terlahir dari rahim
pendidikan.
Seperti
pada perayaan hari Pendidikan Nasional di tahun-tahun kemarin, kali ini kita sepertinya tak sabar lagi ingin
berucap betapa pentingnya pendidikan
dalam setiap kurun waktu kehidupan umat manusia. Pendidikan memang sangat
penting karena cara hidup manusia memang berbeda dengan makhluk lain.
Selain itu manusia sangat membutuhkan pendidikan untuk bisa mengenal dan memahami arti hidupnya secara manusiawi
ketika hidupnya bersinggungan dengan orang lain dalam suatu kelompok
masyarakat. Manusia memang membutuhkan pendidikan sebagai instrumen untuk bisa
mendidik hidup orang lain kalau tidak hanya untuk dirinya. Manusia juga sangat
membutuhkan pendidikan untuk bisa mengubah hidupnya secara cerdas, terpelajar
dan bermartabat untuk mencapai tujuan-tujuan hidupnya.
Baca juga :
- Tips Hitungan Angka Kredit Minimal Untuk Kenaikan Golongan Guru III/B ke III/C
- Ahli Biologi : Gesekan Yang Terjadi Terus Menerus Akan Mengeluarkan Air
- Kurikulum 2013 Dinilai Terlalu Bernafsu
- Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul
Sebagai
insan pendidik, peringatan hari Pendidikan Nasional setiap tahun yang kita
rayakan sebenarnya bukan hanya sebuah rutinitas belaka, tetapi harus
mengingatkan kita tentang banyak hal. Pada momentum ini kita sebenarnya ingin
membentangkan kembali setiap pengalaman yang pernah kita lalui bersama ketika
berlaga merebut mimpi-mimpi di medan pendidikan. Baik itu berupa kesuksesan
atau juga kegagalan yang pernah kita alami bersama. Kita memang perlu
merefleksikan semuanya itu untuk selanjutnya boleh menatap masa depan
pendidikan kita yang lebih baik. Selain itu, di hari Pendidikan Nasional ini
pula kita patut mengenang jasa para pahlawan pendidikan di negeri ini
yang karena pemikiran-pemikiran mereka, gerakan-gerakan
mereka pada zaman dahulu sehingga kita boleh menikmati manfaat-manfaat
pendidikan sampai dengan saat ini. Kita
patut mengenang mereka karena jasa-jasa merekalah telah membuat kita menjadi
manusia-manusia indonesia yang terdidik, terampil dan mengerti tentang
pendidikan untuk boleh mendidik hidup kita dan juga hidup generasi muda kita.
Menghayati
pesan atau makna perayaan hari Pendidikan Nasional tentu kita semua memiliki
apresiasi yang berbeda. Hal ini sudah pasti sangat berkaitan erat dengan
kehendak dan niat baik kita berdasarkan
posisi dalam bidang kerja kita masing-masing.
Baik sebagai tenaga pendidik selaku elemen utama sekaligus eksekutor
pendidikan di lapangan maupun sebagai pemerintah selaku pemegang otoritas
pendidikan di negeri ini. Kita semua harus memiliki tanggungjawab secara
holistik komperhensif sesuai dengan
bidang kerja, tugas pokok dan fungsi kita masing-masing. Sebagai pemerintah
yang memiliki fungsi regulator sekaligus konseptor, sejatinya dapat menggagas
tata kelola pendidikan makro dan payung hukum yang dapat memberikan keteduhan
semua pelaku
pendidikan. Tentu tidak terkecuali
dengan kita yang tidak bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan
tetapi pernah mengalami peran pendidikan dengan sejuta harapan kita
masing-masing. Karena perbaikan dan penyempurnaan seluruh tatanan pendidikan
kita harus membutuhkan sentuhan gagasan spektakuler kita semua. Supaya
pendidikan di negeri ini dari waktu ke waktu boleh tumbuh menjadi basis
kekuatan yang terus mengeskalasi mutu manusia Indonesia.
Secara
khusus bagi kita yang bersentuhan langsung dengan tugas-tugas pelayanan
pendidikan di suatu lembaga pendidikan. Perayaan peringatan hari Pendidikan
Nasional sebenarnya merupakan kesempatan emas untuk kita kembali jujur
memeriksa diri. Menginsafkan segala kekurangan dan keterbatasan kita, setelah
itu boleh tampil dalam suatu paradigma baru. Berpenampilan baru dalam suatu
paradigma baru berarti berbeda dengan sebelumnya. Artinya, dengan membawa “kado”
makna perayaan titipan hari Pendidikan Nasional, kita bisa mengambil “rupa”
baru berdasarkan seluruh kehendak dan niat baik untuk mengubah kualitas kerja
kita ke arah yang lebih baik, berkenaan dengan kewajiban-kewajiban kita.
Ketika
menyinggung kehendak baik berkenaan dengan apa yang menjadi kewajiban kita
untuk bisa menyongsong perubahan, Immanuel
Kant seorang filsuf besar berkebangsaan
Jerman berpendapat, kehendak baik adalah kehendak yang mau melakukan apa yang
menjadi kewajibannya dan murni hanya
demi kewajiban itu sendiri. Sepintas terlihat bahwa, ukuran suatu kehendak
dapat dikatakan baik menurut Kant apabila murni hanya untuk kewajiban
itu sendiri, dan bukannya tersembunyi
niat hati untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri atau untuk mendapat
pujian. Lebih dari itu Kant menegaskan bahwa, suatu kehendak dapat
dikatakan sesuai dengan kewajiban apabila didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan yang dapat diuniversalisasikan. Artinya yang kita
kehendaki dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban kita adalah hal-hal keutamaan
untuk kepentingan umum dan bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri
ataupun kelompok yang ada di pihak kita.
Berkenaan
dengan perayaan hari Pendidikan Nasional ini, tawaran konsepsional-filosofis Kant
ini pantas kita renungkan berkaitan dengan bagaimana menjalankan setiap tugas
dan kewajiban kita berdasarkan kehendak baik kita. Konsep ini pantas kita
renungkan karena, sangat berkaitan erat dengan pencapain tujuan kerja kita.
Bahwa keberhasilan bisa kita raih apabila kita menjalankan semua kewajiban kita
berdasarkan kehendak baik dan murni hanya untuk panggilan profesi itu sendiri. Kant juga
menegaskan dalam melaksanakan tugas-tugas kita, suatu kehendak dapat dikatakan
sesuai dengan kewajiban apabila didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan untuk
kepentingan yang bersifat umum dan bukan untuk kepentingan diri sendiri. Sekali
lagi, Gagasan Kant ini sangat penting untuk kita
renungkan dalam meriah rayakan hari
Pendidikan Nasional ini. Karena bukan hal mustahil, dengan menyadari kehendak
baik dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban, kita dapat meningkatkan kualitas kerja kita untuk
melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Bagi
kita yang tidak bersinggungan langsung dengan tugas-tugas layanan pendidikan, kita harus menyadari bahwa
perayaan hari Pendidikan Nasional setiap tahun
bukan hanya milik para pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi
prayaan peringatan hari Pendidikan Nasional sebenarnya adalah perayaan
milik semua komponen bangsa ini. Di hari pendidikan ini kita semua
perlu menyadari diri bahwa karena peran pendidikan membuat kita semua menjadi
orang terpelajar yang tahu diri dan menjadi besar diri. Terpelajar berarti
menguasai sejumlah konsep ilmu pengetahuan,
berkenaan dengan bidang kerja dan tugas kita masing-masing. Tahu diri
berarti menyadari kehadiran (keberadaan) diri sendiri dalam kaitan dengan masyarakat luas dan lebih khusus masyarakat di sekitar
lingkungan kerja kita berdasarkan aturan dan norma yang berlaku. Menjadi besar
diri berarti karena peran pendidikan,
bisa membentuk sejumlah kemampuan (capability) dan integritas moral (moral integrity) untuk memungkinkan kita menyandang
gelar kebesaran dan jabatan kehormatan tertentu.
Semoga
arti penting dan makna terdalam dari setiap perayaan peringatan hari Pendidikan
Nasional senantiasa meggerakkan kesadaran kita untuk hidup dalam dunia tahu
diri dan bukan besar diri kemudian bisa lupa diri. Karena hidup dalam dunia
tahu diri merupakan racing
start untuk kita boleh menerobos garis-garis finish tujuan pendidikan yang kita cita-citakan. Jika
tidak demikian maka sebagai pelaku-pelaku pendidikan kita hanya ibarat para
pelari maraton yang tidak mengetahui letak garis finish untuk bisa menggerakan dan mengarahkan
seluruh kekuatan kita. Mari dengan spirit gagasan Immanuel Kant kita menarik selubung penutup mata
bathin intelektual kita untuk membangun seluruh kehendak dan niat baik kita dan
boleh menyongsong masa depan pendidikan yang lebih baik.
Akhirnya,
peringatan hari Pendidikan Nasional sesungguhnya menjadi momentum reflektif
untuk bagaimana kita harus mempersiapkan masa depan generasi muda kita yang
lebih baik. ***

Komentar