Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Demikian pameo klasik yang tak asing di telinga kita. Pahlawan itu tidak selalu identik dengan orang yang mengangkat senjata untuk berperang melawan penjajah. Tetapi interpretasi terkait pahlawan juga sesungguhnya adalah orang yang berjasa membawa bangsa kita kepada suatu kemajuan di berbagai bidang kehidupan, entah pendidikan, sosial, kesehatan, dsb.
Salah satu yang berjasa di bidang pendidikan
adalah Kihajar Dewantara yang lahir pada 02 Mei 1889 dan diberi nama Raden Mas
Soewardi Soeryaningrat. Atas jasa-jasanya di bidang pendidikan maka tanggal
lahir Kihajar Dewantara (tanggal 02 Mei) diperingati sebagai Hari Pendidikan
Nasional (Hardiknas). Pada tahun ini, Peringatan Hardiknas serentak digelar di
seantero negeri ini.
Ketika memeringati Hardiknas tahun ini, tiba-tiba
ingatan saya kembali ke tahun 2014 silam. Ketika itu Mendikbud kita adalah
Muhammad Nuh, era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Ketika Hardiknas tahun 2014 silam, saya tertarik
dengan pemikiran Mendikbud Muhammad Nuh dengan sebuah tema permenungan “Pendidikan
untuk Peradaban Indonesia yang Unggul”.
Menurut Mendikbud Nuh saat itu keberhasilan usaha
pemerintah dalam bidang pendidikan membutuhkan ikhtiar yang terus menerus untuk
memajukan pendidikan yang semakin terjangkau, semakin berkualitas di seluruh
jenjang pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia dapat mem-buahkan hasil.
Menurut Nuh, tema Pendidikan untuk Peradaban
Indonesia yang Uggul, mau mengingatkan kita bahwa pendidikan hanya untuk
menyelesaikan atau menjawab persoalan-persoalan yang sifatnya sangat teknis dan
kekinian semata, melainkan jauh dari itu yaitu bahwa pendidikan pada hakikatnya
adalah upaya memanusiakan manusia menuju peradaban yang unggul.
Dalam dunia Pendidikan, kata Nuh dalam
sambutannya, ada dua hal yang sangat mendasar. Pertama terkait
dengan akses untuk mendapatkan layanan pendidikan yang mana akses tersebut
dipengaruhi oleh ketersediaan dan keterjangkauan. Beberapa kebijakan dan
program seperti BOS untuk Pendidikan dasar dan Menengah, Bantuan Siswa Miskin
(BSM), Bidikmisi, Pengiriman Guru untuk daerah terpencil, terdepan, dan
tertinggal, melalui SM3T, Bantuan Operasional untuk Perguruan Tinggi Negeri
(BOPTN), Pendirian Perguruan tinggi Negeri baru dan sekolah berasrama
meru-pakan sebagian dari upaya untuk meningkatkan akses secara inklusif dan
berkeadilan. Kebijakan dan Program tersebut telah menunjukan hasil yang
menggembirakan. Hasil itu ditandai dengan kenaikan angka kredit Partisipasi
Kasar (APK) yang cukup tinggi dan inklusif terutama pada tingkat SMP/ MTs,
SMA/A/K dan Perguruan Tinggi.
Kedua, terkait dengan kualitas yang dalam hal ini sangat dipegaruhi oleh tiga
hal yaitu ketersediaan dan kualitas guru, kurikulum, dan sarana prasarana.
Beberapa kebijakan dan program yang telah ditetapkan, antara lain pendidikan
dan pelatihan guru berkelanjutan, pene-rapan kurikulum 2013, dan rehabilitasi
sekolah yang rusak baik rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. Melalui
penerapan kurikulum 2013 secara bertahap dan menyeluruh, tahun ini menjadi momentum
untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas guru, kepala sekolah, dan
pengawas, selain juga mo-mentum untuk melakukan penataan system pembukuan
pembelajaran.
Mendikbud Nuh mengajak guru dan pemangku kepentingan
lainya untuk bersama-sama menyukseskan implementasi Kurikulum 2013.
Insya Allah, melalui Kurikulum 2013 anak–anak kita akan memiliki
Kompetensi secara utuh yang mencangkupi sikap, pengetahuan, dan
ketrampilan. Itu semua dilakukan dalam rangka mem-persiapkan generasi emas,
yaitu generasi yang kreatif, inovatif, produktif, mampu berpikir orde tinggi,
berkarakter, serta cinta dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Dengan Generasi
emas itulah, kata Nuh, kita bangun peradaban Indonesia yang unggul, menuju
kejayaan Indonesia tahun 2045. Akankah kita menggapai itu? Jawabannya ada pada
semua stakeholder pendidikan, terlebih untuk menteri pendidikan hari ini dan di
masa datang sebagai pengambil kebijakan bidang pendidikan di republik ini.
Komentar