Oleh Yohanes Peu
Guru di Kupang, Nusa Tenggara Timur
Sertifikasi guru kini memasuki babak baru. Polanya berubah dari sebelum-sebelumnya. Jika pada awal pola sertifikasi guru untuk guru dalam jabatan melalui penilaian portofolio, kemudian Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG), mulai 2018 hingga 2020 pola sertifikasi guru ditempuh melalui Pendidikan Profesi Guru dalam jabatan (PPG) yang didahului dengan pretes.
Pretes ini merupakan seleksi awal yang dipakai untuk menyeleksi calon peserta PPG. Pretes PPG ini berubah seiring perubahan pola sertifikasi guru dari PLPG ke PPG untuk guru dalam jabatan yang rencananya dilaksanakan dari tahun 2018 hingga tahun 2020.
Adapun materi yang diujikan melalui tes Pretes PPG ini -sebagaimana juknis Pretes PPG 2018 yakni : 1). Tes kemampuan profesional atau mata pelajaran, 2). Tes minat dan bakat, 3). Tes kemampuan pedagogik, dan 4). Tes potensi akademik.
Baca juga :
Jika melihat durasi waktu untuk menyelesaikan soal seperti pretes PPG dimaksud mengandaikan guru jaman now adalah orang-orang berotak jenius yang mengerjakan soal - soal termasuk soal matematika (tingkat kesukaran tinggi) dengan enteng dalam waktu tidak sampe satu menit.
Misalnya pada tes kemampuan profesional atau mata pelajaran untuk guru kelas SD. Jumlah soal sebanyak 70 nomor dan dikerjakan dalam waktu 60 menit. Ini berarti setiap peserta wajib mengerjakan setiap butir soal dalam waktu 0,86 menit atau 51 detik.
Memang tingkat kesukaran setiap butir tes berbeda-beda. Barangkali ini sudah diproyeksi oleh pembuat kebijakan bahwa soal sebanyak 70 nomor pada tes kemampuan profesional tersebut bisa dikerjakan dengan estimasi waktu 60 menit dengan asumsi bahwa ketika ada butir-butir tes dengan tingkat kesukaran yang sedang dan mudah, dapat dikerjakan dalam tempo waktu tidak mencapai 0,86 menit atau 51 detik di atas.
Dari cerita kolega guru yang ikut pretes 2018, mereka menggunakan trik mengerjakan soal-soal yang dianggap mudah terlebih dahulu. Itu pun masih belum cukup waktu untuk mengerjakan soal-soal yang sulit. Ketika soal-soal yang dianggap mudah selesai dikerjakan, ternyata sisa waktu masih tidak cukup untuk menyelesaikan butir soal yang sulit. Akhirnya apa yang terjadi? Tangan memegang mouse menggerakan kursor dan mengklik jawaban sesuka hati.
Kelihatannya, pola sertifikasi seperti ini memang terasa memberatkan. Hasil yang nampak pasca pretes, dari sekian banyak peserta yang ikut hanya segelintir saja yang lolos seleksi super ketat ini. Ibarat gajah masuk ke lubang jarum, pola sertifikasi melalui PPG untuk guru dalam jabatan yang didahului melalui pretes ini tentu akan menghasilkan guru-guru yang kompeten yang telah lolos tes kemampuan profesional atau mata pelajaran, tes minat dan bakat, tes kemampuan pedagogik, dan tes potensi akademik.
Dengan itu maka harapan kita ke depan dari pola sertifikasi guru melalui PPG ini adalah menghasilkan guru-guru yang kompetensinya tidak diragukan lagi, sudah mumpuni, dan siap mencerdaskan generasi bangsa ini menjadi generasi cerdas berdaya saing tinggi.
Indikatornya adalah prestasi siswa mesti meningkat termasuk dalam tes-tes berlevel internasional seperti PISA, dsb. Mengapa? Karena jika guru yang mengajar mereka adalah guru profesional yang lolos sertifikasi melalui PPG yang terukur seperti di atas, maka siswa yang digembleng oleh guru-guru profesional dimaksud mestinya akan menjadi generasi cerdas seperti gurunya bahkan lebih dari gurunya. Kata orang, guru hebat akan mengajarkan anak berlari lebih kencang dari gurunya. Semoga harapan ini bukan hanya utopia.***
Sumber Foto ilustrasi : google images.
Komentar