Oleh Pius Kulu Beyeng.*)
Sekelumit tentang perang lokal (Nu"atan) di Kedang
1. Pengantar
Saya suka membaca tulisan tulisan di dunia maya khususnya Facebook tentang sejarah Kedang.
Jujur saya merasa bangga bahwa di tengah hiruk-pikuk perkembangan yang begitu beragam dan cepat, beberapa kawula muda Kedang mulai tertarik dan menulis tentang sejarah tumpah darahnya sendiri.
Ada hal yang menggembirakan, ada pula hal yang menyedihkan. Kendati tulisan tulisan tersebut merupakan goresan goresan lepas namun mengandung informasi dan nilai yang mestinya mendapatkan perhatian baik oleh sumbernya sendiri mau pun para pihak yang diberi tanggungjawab untuk itu.
Saya teringat struktur departemen pendidikan dan kebudayaan pada jaman orde baru. Di tingkat kecamatan ada penilik penilik dan salah satunya adalah pemilik kebudayaan yang diberikan catatan tugas khusus untuk mendokumentasikan semua jenis kekayaan budayanya sendiri. Karena latar belakang para penilik itu apa adanya, mereka harus memanfaatkan semua stakeholder untuk melaksanakan tugas mereka. Saya ingat di Kedang mereka menyusun kebudayaan tentang Kote, Jogus, Hokil, Pan moteq dan lain lain. Sungguh sangat disayangkan minat dan bakat kaum muda kita ibarat gayung tidak bersambut.
Tidak ada pihak yang perlu disalahkan.
Karena jaman berubah, minat dan atensi juga bergerak mengikutinya.
Yang namanya sejarah tutur biasanya "bias" karena jarak waktu yang panjang antara peristiwa dan pelaku dengan para penutur. Belum lagi kompetensi sumber atau penutur. Ada masalah waktu peristiwa, memori lisan, daya ingat dan tutur, intervensi kepentingan dan penutur serta faktor-faktor lain.
Kita berterima kasih kepada para pengamat barat yang telah meneliti, menyusun dan mempublikasikan apa adanya'dari sumber sumber lokal Kedang yang kebanyakan lahir pada akhir abad 19 dan awal abad 20, melaporkannya tanpa intervensi berupa tafsiran atau pendapat pribadi. Hal ini penting diketahui untuk menjawab mereka yang berprasangka buruk seakan akan para pengamat asing itu telah mengintervensi dan merusak tatanan masyarakat dan kebudayaan kita.
Saya dan teman teman angkatan mulai belajar dan menulis Sejarah Kedang sejak kelas 4 Sekolah Raiyat. Dahulu di jaman kami, kelas 1 dan 2 kami baru mulai belajar mengeja huruf dan belajar bahasa Indonesia patah patah. Bahasa pengantar masih pakai bahasa Kedang. Oleh karena itu maka guru guru dari luar Kedang yang tidak bisa berbahasa Kedang mengajar di kelas 4 atau paling rendah kelas 3. Kelas tiga baru mulai belajar membaca dan menulis. Karena itu sejarah Kedang baru bisa kami pelajari dan menulisnya di kelas 4 yakni tahun 1958, 60 tahun yang lalu.
Sejarah Kedang disusun dan ditulis kala itu oleh guru guru senior Kedang kala itu yang lahir akhir abad 19 yakni guru YB Liliweri dan guru A Sio Amuntoda. Dua tokoh ini juga adalah sedikit dari banyak nara sumber utama Prof Dr Barnes dan Dr Ursula Samely yang banyak menulis tentang Kedang, baik aspek sosiologi budaya, bahasa, tarian, perang perang lokal di Kedang dan terakhir tentang Kamus Bahasa Kedang.
Dan bahasan yang hendak ditulis kali kali ini adalah tentang peperangan lokal di Kedang (baca juga tentang "War In An Eastern Indonesian Principality", Dr R Barnes).
2. Perang Lokal di Kedang
Dahulu di Kedang, diperkirakan pada paruh ke dua abad 19 ada beberapa perang lokal di Kedang. Sebab sebab peperangan tersebut antara lain perang aneksasi atau pendudukan, perselisihan dalam hubungan sosial ekonomi dan memperkuat hegemoni juga perang pemberontakan atas kesewenang-wenangan pemerintah.
Sejarah Kedang ini sudah ditulis dalam bentuk buku oleh Prof Barnes dengan nara sumber para tua tua Kedang jaman dulu. Jadi bukan isapan jempol mereka tetapi mereka membantu mengumpulkan dan menyusunnya kembali.
Memang merupakan satu kelemahan sejarah yang bersumber dari bahasa tutur (penuturan) memang selalu bias, apa lagi dituturkan kembali oleh para pihak yang terlibat di dalamnya.
Dengan membaca sumber sumber dari berbagai pihak kita akan melihat betapa bervariasi dan bias dari para penutur dan dari sana harulah sebagai ilmuwan, pengamat atau amatiran boleh membuat interpretasi atau mengemukakan pendapatnya.
Perang perang lokal di Kedang tersebut adalah sebagai berikut,
-) antara Kalikur melawan Lamahala yang dibantu oleh Dolulolong dalam Perang Garam atau Nu'atan Tequ atau Nu'atan Boraq Tequ.
-) antara Leuwohung melawan Kalikur dalam Perang Jagung Gading atau lebih dikenal dengan Nu'atan Watar Bala.
-) antara Leuwohung dengan Kalikur yang dibantu oleh pasukan prajurit Meo dari Amfoang Timor.
Perang ini terjadi dua kali yakni Perang Meo 1 dan 2, yang sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perang Watar Bala.
-) antara Kalikur yang ingin mempertahankan hegemoninya atas Kedang dengan seorang tokoh atau pahlawan dari pedalaman Kedang yakni Sili Laka, asal kampung Peusawa, yang memberontak terhadap kesewenang-wenangan pemerintahan feodal Kedang kala itu. Perang ini disebut Perang Kerbau atau Nu'atan Arabau.
3. Riwayat singkat perang lokal di Kedang.
3.1. Perang garam atau Nu'atan Tequ atau Nu'atan Boraq Tequ.
Peperangan terjadi antara Kalikur dengan Lamahala. Kerajaan Lamahala hendak melakukan invasi ke Kedang dengan menaklukan Kedang di bawah Kerajaan Lamahala. Dengan bantuan kampung Dolulolong, kerajaan Lamahala melakukan perundingan dengan para kepala kampung keliling gunung Kedang dengan membagi bagikan garam manis (gula pasir) kepada semua kampung di Kedang. Dengan perjanjian semua kampung yang mendapat pembagian dan makan garam manis, harus takluk di bawah Kerajaan Lamahala. Garam pun didatangkan dari Lamahala melalui kampung Dolulolong dan seterusnya dibagikan kepada kampung kampung di sekeliling gunung Kedang.
Mendengar berita tersebut di atas, Kapitan Kedang yang waktu itu berada di bawah Kerajaan Adonara menjadi geram karena hegemoni kekuasaannya terganggu dan kemudian melakukan perlawanan. Maka terjadilah perang Kalikur melawan Lamahala.
Perang terjadi di laut selama dua kali di dua lokasi berbeda. Pertama kali di pantai Ramuq, sebelah Timur kampung Dolu di bawah kampung Leuhoeq. Peperangan kemudian di lanjutkan di pantai Wataayaq di kampung Leunoda. Dalam peperangan laut yang ke dua di Wataayaq, pasukan laut Lamahala berhasil dipatahkan oleh Kalikur. Lamahala kembali ke Adonara. Dan dengan telah diatasinya gangguan tersebut Kedang kembali seperti sediakala, tunduk dan bernaung di bawah Rian Baraq di Kalikur.
3.2. Perang Watar bala. (Harafiah : Jagung - Gading).
Perang antara Leuwohung dan Kalikur. Pemicu perang ini ada beberapa versi. Saya mengambil versi dari sejarah yang kami dapat. Pertimbangannya lebih dekat kepada topik perang yakni berkenaan dengan watar - bala.
Pemicu perang ini bermula dari konflik pribadi dalam soal jual beli. Akibat jual beli, yakni barter antara seorang Leuwohung dengan seorang Kalikur. Akibat perselisihan tersebut seorang Kalikur dibunuh oleh seorang Leuwohung.
Masyarakat Kalikur tidak menerima baik peristiwa tersebut kemudian bangkit menyerang Leuwohung. Dalam pertempuran tersebut pihak Kalikur selalu dipukul mundur oleh pihak Leuwohung. Pihak Kalikur mengalami kekalahan terus menerus.
3.3. Perang Meo Pertama dan Kedua.
Perang antara Leuwohung dan Kalikur yang dibantu oleh pasukan Meo dari Amfoang Timor.
Perang ini sesungguhnya adalah kelanjutan dari akibat pertikaian Kalikur dengan Leuwohung dalam perang Watar bala.
Akibat kekalahan terus menerus dalam melawan Leuwohung, pihak Kalikur meminta balha bantuan dari Raja Meo di Timor dengan perantaraan orang orang orang Alor. Terjadi dua kali peperangan.
Setelah Leuwohung dikalahkan, Prajurit Meo pulang. Kapitan Kedang mempersembahkan seorang Puteri dari Kalikur bernama Nona Biru untuk dinikahkan dengan Raja Meo yakni raja Willem.
Setelah kepulangan prajurit Meo, terjadi lagi peperangan antara dua belah pihak.
Oleh aliansi yang telah ada yang diikatkan lagi dengan tali perkawinan, pasukan Meo didatangkan lagi untuk kedua kalinya.
Dalam perang Meo ke dua ini datang juga bersama prajurit Meo, putera Raja Wilem. Prajurit Meo mulai menekan pertahanan Leuwohung dan berhasil masuk dan menduduki benteng pertahanan Leuwohung di kampung lama. Leuwohung dikalahkan.
Prajurit Meo akhirnya menemukan rahasia pertahanan orang Leuwohung di dalam benteng. Mereka dapat bertahan hidup di dalam benteng dengan cara mengalirkan air sungai dari Botan melalui lobang dalam tanah masuk kedalam benteng.
Atas dasar penemuan inilah dan untuk menghindari pemberontakan pemberontakan yang baru, para prajurit Meo mengitari gunung Kedang dan menutup semua mata mata air di gunung. Aksi mereka hanya sampai di kampung lama Leutubung karena banyak prajurit Meo yang meninggal dunia akibat terperangkap oleh jerat bambu hidup atau dalam bahasa Kedang disebut "metiq." Bukti sejarah peristiwa tersebut adalah tengkorak tengkorak prajurit Meo yang tersimpan dalam liang liang di Leutubung kampung lama. Dalam darmawisata kami tahun 1957 ke puncak gunung Uyelewun, melalui kampung lama Leutubung, kami dapat melihat tengkorak tengkorak tersebut dan membawa satu buah untuk di simpan di SRK Leudawan.
Leuwohung dikalahkan. Dampak dari kekalahan Leuwohung tersebut cukup tragis. Wilayah wilayah
pantai mulai dari Leuwohung sampai Biarwala dan Peuohaq sebagai pihak yang membantu (mitra) Leuwohung, dikuasai oleh orang orang Kalikur sampai dengan saat ini.
Untuk membalas jasa raja Mei, Kapitan memerintahkan semua gadis dari suku Pitu lelang leme Kalikur menari di hadapan putera raja Wilem. Raja Wilem kemudian memilih seorang gadis cantik Kalikur bernama Perada Beng untuk menjadi isterinya. RahayWikem kemudian tinggal beberapa lama di Kalikur dan kemudian kembali ke Timor dengan tidak membawa serta dengan isterinya.
3.4. Perang Sili Laka.
Jenis perang pemberontakan.
Oleh Sili Laka asal dari kampung Peusawah.
Perang ini dipicu oleh rasa ketidak-adilan oleh pemerintahan feodal Kapitan Kedang. Kapitan Kedang melepaskan kerbau kerbau ternaknya di area Atanila, Wowong dan sekitarnya yang menyebabkan tanaman tanaman penduduk hancur karena ulah kerbau liar tersebut. Kapitan juga menetapkan bahwa tanah tanah yang dilewati oleh kerbau tersebut yakni hamparan mulai dari Atanila Wowon Bean hinggah Tobotani adalah miliknya karena tanah tanah tersebut menjadi subur karena injakan kaki dan kotoran kerbau.
Sili Laka yang merasa geram dengan keadaan tersebut, memotong seekor kerbau liar milik Kapitan kemudian membagi bagikan dagingnya kepada kampung kampung di pedalaman mulai dari Meluwiting sampai dengan Hobamatang. Kampung yang makan daging kerbau tersebut berjanji untuk tunduk dibawah kepemimpinan Sili Laka.
Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Kapitan Kedang. Sili Laka meninggal dunia. Kematian Sili Laka ini diberi catatan berbeda oleh guru Bumi dan guru Sio. Namun guru Sio memberikan catatan yang lebih dapat diterima.
Perang Sili Laka adalah perang terakhir di Kedang. Kapitan Kedang mulai menata keamanan wilayahnya yang sebelumnya dilanda berbagai pertikaian.
Orang orang jaman dulu adalah orang orang yang gagah berani dan kesatria. Kalikur walau pun terlibat perang dengan Leuwohung, tetap menghargai kekesatriaan orang Leuwohung sebagai ahli perang dan sakti (mi'er). Hal tersebut terbukti setelah selesai peperangan dan pemberontakan di wilayah tersebut, kapitan menyusun strategi pengamanan wilayahnya khususnya keamanan di daerah perbatasan (Auq utuq).
Rianbaraq atau Kapitan Kedang memandang bahwa orang Leuwohung yang gagah berani dan sakti karena berani menghadapi prajurit Meo yang super sakti sedang orang Leutubung juga dipandang sakit karena mampu membunuh prajurit Meo. Maka untuk menjaga keamanan wilayah Kedang dari gangguan gangguan keamanan, maka orang Leuwohung diberi tugas menjaga keamanan di perbatasan barat Kedang yakni di Lewolein. Sedang orang Leutubung diperbatasan timur yakni di Atanila.
Seperti diketahui, pada masa kekapitanan, wilayah hamente Kedang terbentang dari barat ke timur mulai dari Lewolein hingga di timur bagian selatan yakni Atanila yang berbatasan dengan wilayah hamente Hadakewa.
Demikian sedikit catatan dari bunga rampai sejarah Kedang khusus peperangan lokal yang terjadi pada masa lalu di wilayah Kedang. Waktu berlalu. Segala sesuatu berubah.
Kita tidak hadir dan menjadi saksi dari segala sesuatu yang terjadi dalam kurun waktu lebih dari 200 tahunan yang lalu. Hari ini kita berdiri di suatu sudut. Kita memandang dari sebuah sudut yang samar sedang bagian sudut yang lain gelap gulita.Sementara dalam kegelapan itu kita meraba dan menebak ibarat sebuah teka teki tanpa kunci jawaban. Mari kita bahu membahu berbagi posisi di semua sudut,
agar masing-masing dapat memandang pada semua sudut, tanpa harus menyudutkan,
dan kemudian menyatu padukan semua pandangan kita, guna dapat membuka tabir kegelapan,
walau itu bukanlah sesuatu hal yang mudah.
Menulis sejarah itu berat.
Haruslah berjiwa besar,
membuka diri,
dan jujur kepada diri sendiri.
Karena sejarah itu innocent.
Kita bisa menipu sejarah,
namun
sejarah tidak mampu menipu atau membohongi dirinya sendiri.
Sejarah itu jujur.
Sejarah itu innocent.
Mohon maaf bila ada kekeliruan mau pun kesalahan dalam penulisan ini.
Tujuh Maret, Lewoleba, 2 Desember 2019.
*)Pius Kulu Beyeng.
Pensiunan,
Umur 73 tahun,
Tinggal di Lewoleba Lembata NTT

Komentar