Profesor Mendeley



 Oleh Marselus R. Payong
Dosen Universitas St. Paulus Ruteng


Dalam penerbangan dari Denpasar ke Yogya 8/8 yang lalu, saya duduk dekat dengan seorang dosen. Ia mengaku mengajar di sebuah PTN dan sedang dalam perjalanan untuk presentasi papernya di sebuah pertemuan ilmiah di Yogyakarta.

"Riset dan publikasi sekarang susah ya pak, apalagi untuk naik jabatan ke Lektor Kepala dan Guru Besar", kata saya membuka percakapan

"Gak juga pak, mudah kok. Cari referensi sekarang sangat mudah. Kalau dulu, susah sekali, kita harus bolak balik cari di katalog-katalog perpustakaan. Kalau sekarang untuk studi kepustakaan tidak sulit. Sudah ada softwarenya, Gratis pula. Namanya Mendeley dari Elsevier. Coba bapak instal saja, dalam sekejap bapak bisa berselancar kemana-mana dan menemukan banyak sekali referensi yang relevan dengan riset bapak," ceritanya.
 
"Ya, saya sudah instal Mendeley sejak 2017".
"Nah itu dia, dipakai Pak. Mudah kan?
 
"Benar mudah sekali Pak. Saya sudah mencobanya. Bahkan dalam semenit saja, referensi yang kita inginkan telah ditunjukkan oleh Mendeley, cukup hanya dengan mengetik kata kuncinya. Lalu karena bisa diinstal di MS Word maka proses perujukannya juga menjadi sangat mudah baik untuk kutipan dalam tubuh artikel maupun daftar pustakanya. Semuanya dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik".
 
"Tepat sekali. Makanya saya bisa bikin makalah hanya dalam hitungan 1-2 hari sudah kelar," timpalnya.
 
"Tapi ngomong-ngomong, saya masih penasaran karena tidak semua rujukan yang kita kutip itu dapat diakses full text. Hampir semuanya hanya abstrak saja. Padahal saya ingin baca artikel full text."
"Gak apa-apa. Toh baca abstrak sudah cukup. Untuk tuntutan bagi kita dengan tingkat kesibukan tinggi apalagi sering mobile seperti ini, mana ada waktu untuk baca full text? Ini kan soal etika, yang penting nama-nama mereka yang kita kutip itu disebutkan", katanya menasehati.
***
Percakapan kami terhenti. Tapi bagi saya ini benar-benar memprihatinkan. Membuat penelitian hanya dengan modal membaca abstrak dari hasil penelitian yang diterbitkan (sekitar 1 halaman), apakah cukup memberikan wawasan untuk menemukan masalah penelitian baru? Dengan tidak membaca artikel secara utuh maka: 1) peneliti kesulitan untuk menemukan keterbatasan penelitian yang sering tidak dicantumkan di abstrak penelitian sebagai dasar untuk melakukan penelitian baru, 2) Hal ini bisa lebih parah lagi jika peneliti tidak memiliki wawasan teoretik yang cukup kuat pada variabel-variabel yang diteliti.

Karena itu produktivitas penelitian belum tentu sejalan dengan meningkatnya bobot dan kadar keilmuan peneliti. Dan jika hasil-hasil penelitian semacam ini kemudian menjadi modal untuk mengurus jabatan profesor, maka pantas utk menyandang gelar PROFESOR MENDELEY

Komentar