Oleh Yohanes Peu
Guru SDI Bertingkat Kelapa Lima 3 Kupang
Tulisan Ilmiah Populer
Langkah - Langkah Membuat Tulisan Ilmiah Populer
Guru SDI Bertingkat Kelapa Lima 3 Kupang
Pendahuluan
Salah satu tuntutan wajib bagi guru untuk kenaikan
pangkat dari Penata Muda Tingkat I, golongan/ruang III/b ke atas sebagaimana
yang diisyaratkan dalam Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009 adalah melakukan
publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah tersebut dilakukan dengan presentasi di
forum ilmiah, membuat KTI hasil penelitian diterbitkan dalam bentuk buku, membuat
KTI hasil penelitian diterbitkan dalam majalah ilmiah/jurnal, membuat makalah berupa tinjauan ilmiah,
membuat tulisan ilmiah populer yang dimuat di media massa, membuat buku
pelajaran, membuat diktat/bahan ajar, membuat buku dalam bidang pendidikan,
membuat buku pedoman guru, dan juga membuat hasil karya terjemahan.
Salah satu jenis publikasi ilmiah sebagaimana
tuntutan regulasi tersebut yakni membuat tulisan ilmiah populer yang dimuat di
media massa. Jenis publikasi ilmiah yang satu ini turut diperhitungkan kredit
point-nya yang dapat digunakan guru untuk kenaikan jabatan fungsionalnya. Namun
berdasarkan pengamatan penulis, keterampilan membuat tulisan ilmiah populer
nampaknya masih merupakan keterampilan yang agak jarang disentuh oleh kebanyakan
guru. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab mandeknya keterampilan
membuat tulisan ilmiah populer oleh guru antara lain seperti bakat menulis,
kesibukan melaksanakan pembelajaran, dan sebagainya. Tetapi sebetulnya
keterampilan menulis artikel ilmiah populer mestinya tidak dipandang sebagai
aktivitas yang hanya bisa dilakukan oleh guru yang berbakat menulis saja.
Keterampilan ini sesungguhnya bisa dilakukan jika diasah secara kontinyu.
Penulis memberanikan diri mengangkat masalah ini dengan tesis dasar bahwa menulis tulisan ilmiah populer di
media massa itu mudah saja asalkan ada niat untuk memulainya. Dari sedikit
pengalaman membuat tulisan ilmiah populer di media massa, melalui tulisan ini
penulis ingin berbagi ide menulis kepada teman-teman sejawat terkait tips dan
trik dalam membuat tulisan dimaksud. Hingga saat ini penulis sendiri sudah
membuat puluhan artikel opini di koran harian terbitan Nusa tenggara Timur
seperti Pos Kupang, Timor Express, Victory News, dan Flores Pos. Dari semua
tulisan yang tersebar di berbagai koran harian tersebut, umumnya adalah tulisan
yang bertema pendidikan dan pembelajaran.
Tulisan ilmiah populer sebetulnya bukanlah sesuatu
yang asing bagi kita yang sering membaca media massa cetak. Karena setiap media
massa (cetak) selalu memuat tulisan tersebut. Apa itu tulisan ilmiah populer? Apa
saja konten tulisan ilmiah populer? Bagaimanakah korelasi antara membuat
tulisan ilmiah populer di media massa dengan pengembangan profesi guru?
Dari sisi konten, tulisan ilmiah populer di media
massa ada yang berupa opini, ada yang berupa catatan refleksi, dan ada pula
yang berupa saduran laporan hasil penelitian. Ketika guru bisa menulis tulisan
ilmiah populer dimaksud, maka tulisan tersebut dapat digunakan untuk
pengembangan karier kepangkatan guru. Tulisan ini lebih spesifik akan mengkaji tulisan ilmiah populer di media massa
dan korelasinya dengan pengembagan karier guru profesional.
Tulisan Ilmiah Populer
Terdapat tiga kata yang membentuk term tulisan ilmiah populer. Untuk
memahami definisi tulisan ilmiah populer secara komprehensif, akan lebih baik apabila
terlebih dahulu kita melakukan pengkajian terhadap pengertian dari kata :
tulisan, ilmiah, dan populer itu sendiri. Dari sana akan ditemukan definisi
yang utuh tentang pengertian tulisan ilmiah populer.
Tulisan adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan sebuah karya tulis
yang disusun berdasarkan tulisan dari gagasan sendiri, dan pernyataan atau gagasan
orang lain. Sedangkan ilmiah berarti
bersifat ilmu, atau memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Tulisan ilmiah adalah tulisan yang
memuat dan mengkaji suatu masalah tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah
keilmuan. Dari batasan ini dapat dijelaskan bahwa, tulisan tersebut menggunakan
metode ilmiah dalam membahas permasalahan, memaparkan kajiannya, kemudian
memberikan simpulan dan saran atau rekomendasi dengan bahasa baku dan tata
tulis ilmiah, serta menggunakan prinsip-prinsip keilmuan yang lain seperti
objektif, logis, empiris (berdasarkan fakta), sistematis, lugas, jelas, dan
konsisten. Populer berarti dikenal
dan disukai orang banyak atau umum (Taufik : 2010 : 850). Jadi, tulisan ilmiah
populer adalah tulisan yang
memuat dan mengkaji suatu masalah tertentu yang berpegang kepada standar ilmiah (memenuhi syarat/kaidah
ilmu pengetahuan), dan dikenal atau
disukai banyak orang.
Tulisan ilmiah populer menjangkau segmen
pembaca yang luas. Biasanya dimuat di media massa karena media massa merupakan
salah satu sarana publik yang memiliki segmen pembaca yang luas. Karena dikonsumsi
oleh kalangan masyarakat yang luas (publik) maka tulisan ilmiah populer juga
bisa diartikan sebagai tulisan yang berpegang pada kaidah keilmuan yang
dikonsumsi oleh publik. Tulisan ilmiah populer juga dikenal dengan term
artikel. Artikel adalah salah satu karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil
penelitian dan pemikiran atau kajian pustaka.
Secara teknis, tulisan ilmiah populer dibuat dengan cara menyadur,
mengutip, dan meramu informasi dari berbagai tulisan orang lain, serta menulis
murni gagasan/pendapat sendiri.
Tulisan ilmiah populer ini merupakan salah satu jenis publikasi ilmiah.
Dermawati (2013 : 63) mengatakan bahwa publikasi ilmiah adalah karya tulis
ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi
guru terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Seperti dijelaskan terdahulu, tulisan ilmiah populer merupakan tulisan yang memuat dan mengkaji suatu
masalah tertentu yang berpegang kepada
standar ilmiah (memenuhi syarat/kaidah ilmu pengetahuan), dan dikenal atau disukai banyak orang. Jenis
tulisan ini biasanay dimuat di media massa karena memang segmen pembaca media
massa menjangkau segemen yang luas.
Setidaknya, dari sisi konten, terdapat beberapa tipikal tulisan
ilmiah populer di media massa yakni : opini, dan saduran laporan hasil
penelitian. Berikut ini akan dijelaskan setiap konten yang ditemukan dalam
tulisan ilmiah populer.
1. Opini
Merupakan
tulisan ilmiah populer yang kontennya berupa pendapat pribadi tentang sebuah
fenomena atau sesuatu hal penting. Opini juga terkadang berupa catatan
refleksi. Catatan refleksi merupakan tulisan ilmiah populer yang kontennya
berupa hasil permenungan seseorang tentang sebuah fenomena.
2. Saduran
laporan hasil penelitian
Selain berupa
opini dan resensi, ada juga tulisan ilmaih populer berupa saduran laporan hasil
penelitian. Jenis tulisan ilmiah populer yang ini merupakan tulisan kontennya
berupa sari ringkas hasil penelitian.
Tulisan ilmiah populer harus tunduk pada bahasa jurnalistik. Bahasa
jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa yang lazim ditemui dan digunakan
dalam persuratkabaran. Ciri utama bahas jurnalistik adalah sederhana, jelas,
lugas, singkat, menarik, segar, ringan dicerna, mudah diingat, mudah dimengerti
dan dipahami arti, maksud, dan arahnya (komunikatif).
Umumnya sistematika tulisan ilmiah populer terdiri
atas tiga bagian yaitu : pendahuluan, isi, dan penutup. Bagian pendahuluan berisi
masalah atau pun hal-hal yang menarik untuk dikaji dalam pembahasan. Tulisan
ilmiah populer dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah (bisa
dibuat rumusan masalah), kemudian dibuat suatu hipotesis yang disebut simpulan sementara.
Sebaiknya, kita menentukan suatu prediksi tentang hipotesis tersebut.
Bagian isi merupakan pembahasan/pengkajian terhadap
masalah. Untuk memperkaya kajian, kita dapat menambahkan pernyataan orang lain
(bisa dari pernyataan/pandangan para ahli, atau hasil penelitian yang relevan).
Uraian-uraian pada bagian isi selain berupa pendapat pribadi penulis juga
didukung oleh basis keilmuan (pandangan para ahli, atau hasil penelitian yang
relevan). Dalam hal ini kita dapat menyertakan kutipan dari pendapat ahli, dsb.
Kutipan merupakan salah satu cara untuk mengembangkan artikel. Kutipan dapat
diambil surat kabar, majalah, buku, jurnal, atau referensi-referensi lain yang
relevan dengan topik yang dibahas. Kutipan berfungsi untuk mengembangkan
pembahasan, mendukung, menguatkan, serta membangun kredibilitas gagasan
penulis. Pada bagian ini kita mesti mengumpulkan data seakurat mungkin guna
mengetes kebenaran dari simpulan sementara
pada bagian pendahuluan di atas. Berdasarkan data-data tersebut,
kemudian kita menarik simpulan pada bagian penutup. Selain simpulan pada bagian
penutup juga kita memberikan saran atau rekomendasi.
Langkah - Langkah Membuat Tulisan Ilmiah Populer
Sebagaimana kita ketahui bahwa terdapat tiga tipikal
tulisan ilmiah populer di media massa ditinjau dari sisi konten atau materi
tulisan yakni berupa opini, resensi, dan saduran laporan hasil penelitian.
Bagaimana langkah – langkah membuat tulisan ilmiah populer untuk setiap tipikal
dari ketiga tipikal ini? Berikut akan dipaparkan satu per satu.
1. Langkah-Langkah
Menulis Opini
Tulisan ilmiah
populer berkonten opini biasanya berupa pendapat pribadi tentang sebuah
fenomena atau sesuatu hal penting. Opini juga terkadang berupa catatan
refleksi. Catatan refleksi merupakan tulisan ilmiah populer yang kontennya
berupa hasil permenungan seseorang tentang sebuah fenomena.
Agusmita
dalam http://caramenulisbuku.com/, menjelaskan bahwa secara garis besar,
langkah-langkah menulis artikel dapat kita bagi menjadi 5 poin penting berikut
ini:
a. Tentukan tema. Tema haruslah spesifik. Semakin spesifik semakin
menarik minat baca.
b. Tetapkan tujuan penulisan. Kebanyakan artikel, apalagi dalam
artikel jenis deskripsi dan narasi, tidak menyatakan tujuan penulisan secara
tersurat, melainkan tersirat.
c. Rumuskan ide pokok atau masalah. Biasanya perumusan masalah dalam
bentuk pertanyaan. Hanya saja dalam penulisan artikel deskripsi dan narasi,
rumusan masalahnya tidak tersurat tapi tersembunyi dibalik alur tulisan.
d. Kembangkan tema dan pembahasan sesuai dengan jenis artikel.
e. Buatlah kesimpulan.
Sebagaimana
pengalaman penulis, untuk membuat tulisan opini tentunya penulis harus
menemukan sebuah masalah. Beranjak dari masalah inilah yang kemudian akan
dibahas dan diberi simpulan serta saran. Setelah menemukan masalah, secara
runtut tulisan opini akan dimulai dengan merumuskan judul artikel opini,
menuliskan bagian pendahuluan, menulis pembahasan di bagian isi, dan menarik
kesimpulan serta memberikan saran di bagian akhir.
Setelah menuliskan judul artikel maka
selanjutnyaharus mencantumkan dengan jelas nama penulisnya. Nama
penulis biasanya dicantumkan di bawah judul. Di bawah nama penulis dicantumkan
juga biodata, biasanya berupa jabatan penulis.
Kemudian
dilanjutkan ke bagian pendahuluan yang dimulai dengan intro. Dalam gaya
penulisan ilmiah populer, bagian pendahuluan diawali dengan intro atau kalimat
pembuka. Intro cukup satu paragraf sebagai pengantar tulisan. Bagian
pendahuluan artikel ilmiah populer umumnya tidak lebih dari tiga paragraf. Jika
paragraf pertama digunakan sebagai intro maka dua paragraf berikutnya
dikemukakan hal-hal yang menarik dan permasalahan yang mau dikaji. Bila perlu
dikemukakan rumusan permasalahan dalam bentuk pertanyaan serta tujuan penulisan
artikel dimaksud.
Bagian
selanjutnya adalah bagian isi. Bagian ini merupakan pengkajian terhadap
masalah. Untuk memperkaya kajian, kita dapat menambahkan pernyataan orang lain (bisa
dari pernyataan/pandangan para ahli, atau hasil penelitian yang relevan).
Selain menambahkan pendapat orang lain, penulis juga akan memberikan pandangan
pribadinya terkait masalah yang dikaji. Terhadap masalah tersebut, penulis juga
bisa memberikan tawaran solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Bagian penutup
berisi simpulan
dan saran. Bagian ini menyajikan kesimpulan dari uraian hasil pemecahan masalah dan
pembahasan. Kesimpulan merupakan jawaban atas rumusan maslah yang diajukan
dengan mengacu pada cara dan hasil pemecahan masalah. Kalimat
penutup bagian ini bisa berupa saran yaitu harapan-harapan khususnya untuk
komunitas ilmiah bersangkutan atau masyarakat luas secara umum.
2. Langkah-Langkah
Menyadur Laporan Hasil Penelitian ke Tulisan Ilmiah Populer
Tulisan ilmiah populer dari saduran hasil penelitian
sebetulnya merupakan jembatan ilmu pengetahuan dari bidang ilmu yang digeluti
penulis dan masyarakat awam (publik). Mengapa demikian? Karena perkembangan
dan kemajuan setiap ilmu itu tidak hanya bergantung pada penelitian.
Penyebarluasan hasil penelitian justru merupakan kegiatan penting guna
memperkenalkan kepada anggota komunitas ilmiah
bersangkutan serta pembaca lainnya tentang perkembangan dan kemajuan tersebut.
Lagi pula, perkembangan dan kemajuan yang dipaparkan melalui media massa
merupakan layanan dari ilmu bersangkutan kepada masyarakat. Masyarakat akan
diperkaya dengan informasi-informasi baru.
Salah satu cara untuk memperkenalkan perkembangan dan kemajuan setiap
bidang ilmu pengetahuan yakni penyebarluasan hasil penelitian dalam bentuk
tulisan ilmiah populer. Tulisan ilmiah populer dimaksud dilakukan dengan cara
menyadur hasil penelitian. Bagaimana langkah-langkah menyadur laporan hasil
penelitian ke tulisan ilmiah populer?
Langkah-langkah menyadur laporan hasil penelitian ke tulisan ilmiah populer
adalah sebagai berikut :
a. Merumuskan
judul tulisan
Umumnya, judul tulisan mencerminkan
isi tulisan. Judul tulisan ilmiah populer yang disadur dari laporan hasil
penelitian merujuk pada judul penelitian. Pada judul penelitian mencerminkan
isi penelitian yang tampak melalui variabel-variabel yang diteliti. Namun untuk
tulisan ilmiah populer yang disadur dari laporan hasil penelitian, judulnya
bisa mengikuti gaya penulisan ilmiah populer, tidak perlu terlalu akademis.
Bisa saja tulisan kita ditolak redaksi mass media karena judul yang terlalu
akademis seperti judul penelitian. Untuk judul tulisan ilmiah populer,
sekalipun dari saduran hasil penelitian namun harus membuat judul yang lebih
menarik, lebih “menggigit” dan lebih mengena sasaran pembaca.
Untuk membuat judul yang
“menggigit”, diperlukan kepekaan rasa, keindahan bahasa serta ketegasan makna.
Sering terjadi judul artikel yang kita buat terlalu panjang, terlalu singkat,
datar, tidak menarik, tidak membumi, dan terlalu akademis. Kerap terjadi, judul
artikel sama persis dengan judul laporan penilitian atau judul skripsi yang
terasa dingin, kaku, dan sangat formal.
Artikel harus mencantumkan dengan
jelas nama penulisnya. Nama penulis biasanya dicantumkan di bawah judul. Di
bawah nama penulis dicantumkan juga biodata, biasanya berupa jabatan penulis.
Berikut ini disajikan contoh judul tulisan ilmiah
populer yang disadur dari laporan hasil penelitian :
Judul Penelitian : Peningkatan Hasil Belajar Siswa Materi
Musyawarah Mufakat Melalui Metode Bermain Peran Pada Siswa Kelas IV SDI
Bertingkat Kelapa Lima 3, diubah ke judul artikel ilmiah populer : Mari Bermain Peran (Sebuah Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa)
Judul Penelitian : Penggunaan Teknik Mistake Buster untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Teks Recount
Pada Siswa Kelas VIII C SMPN 1 Kupang Barat, diubah ke judul artikel ilmiah populer : Mistake Buster untuk Membaca Teks Recount.
Judul penelitian : Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah
dan Motivasi Kerja Guru Terhadap
Perilaku Berbudaya lingkungan pada Siswa SMK Negeri 4 Kupang, diubah ke judul artikel ilmiah populer : Menciptakan Sekolah Berbudaya Lingkungan.
b. Menulis Bagian
Pendahuluan
Dalam gaya penulisan ilmiah populer,
bagian pendahuluan diawali dengan intro. Intro cukup satu paragraf sebagai
pengantar tulisan. Bagian pendahuluan artikel ilmiah populer umumnya tidak
lebih dari tiga paragraf. Jika paragraf pertama digunakan sebagai intro maka
dua paragraf berikutnya dikemukakan hal-hal yang menarik dan permasalahan yang
mau dikaji. Bila perlu dikemukakan rumusan permasalahan dalam bentuk
pertanyaan.
Sebagai contoh, tulisan berjudul
“Menciptakan Sekolah Berbudaya Lingkungan” yang disadur dari penelitian
berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala
Sekolah dan Motivasi Kerja Guru
Terhadap Perilaku Berbudaya lingkungan pada Siswa SMK Negeri 4 Kupang.
Tulisan ini dimuat di Tabloid Bulanan Warta Guru NTT Edisi Bulan Februari 2014
halaman 5 dan 15.
Menciptakan Sekolah Berbudaya Lingkungan
Oleh Imanuel Tulle
Guru SMK Negeri 4 Kupang
Berdasarkan
kesepakatan antara Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Negara Lingkungan
Hidup tanggal 3 Juni 2005 tentang pembinaan dan pengembangan pendidikan
lingkungan hidup, maka wawasan dan pengetahuan mengenai lingkungan hidup perlu
diberikan sejak dini kepada seluruh lapisan masyarakat termasuk peserta didik
pada semua satuan, jalur, dan jenjang pendidikan. Beranjak dari hal tersebut
maka munculah term sekolah berbudaya lingkungan.
(intro)
Mendambakan sekolah yang berbudaya lingkungan tentu
tidak terlepas dari faktor kepala sekolah, guru, siswa. Kepala sekolah adalah
seorang guru yang diberi tanggung jawab sebagai pimpinan sekolah dalam
pelaksanaan perjalanan sekolah dari waktu ke waktu. Dia adalah orang yang
bertanggung jawab baik ke dalam maupun keluar. Secara ke dalam kepala sekolah
harus mampu memberdayakan guru, karyawan dan siswa. Sedangkan ke luar kepala
sekolah harus bertanggung jawab kepada pengguna sekolah atau orang tua siswa
dan secara kedinasan ke atasannya. Tidak terlepas pada diri kepala sekolah
yakni soal kepemimpinan transformasional. Selain itu, motivasi kerja guru juga
menjadi variabel yang turut berpengaruh terhadap sekolah berbudaya lingkungan.
Agar sekolah
dapat menghasilkan lulusan yang peduli, memiliki sikap dan perilaku yang
berbudaya lingkungan maka perlu dilakukan kajian untuk mengetahui pengaruh
kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadap
perilaku siswa yang berbudaya lingkungan. Adakah pengaruh pengaruh kepemimpinan
transformasional kepala sekolah dan motivasi kerja guru terhadap perilaku siswa
yang berbudaya lingkungan?
c. Menulis Bagian
Isi
Bagian ini
merupakan pengkajian terhadap masalah.
Untuk memperkaya kajian, kita dapat
menambahkan pernyataan orang lain (bisa dari pernyataan/pandangan para ahli,
atau hasil penelitian yang relevan). Bisa diambil beberapa pendapat di kajian
pustaka laporan hasil penelitian. Pendapat ahli yang diambil tentunya yang
lebih merujuk pada variabel penelitian. Cukup diambil satu atau dua pendapat
dari setiap variabel. Pada bagian ini juga kita memaparkan
data-data yang sudah terkumpul melalui penelitian dan hasil pengolahan data pada
penelitian kita.
Contoh :
Sebagaimana dikatakan Bass dalam Gibson (1997) bahwa
kepemimpinan transformasional adalah kemampuan untuk memberi inspirasi dan
memotivasi para pengikutnya untuk mencapai hasil-hasil yang lebih besar dari
pada yang direncanakan secara orisinil dan untuk imbalan internal. Dengan
mengungkapkan suatu visi, pemimpin transformasional membujuk para pengikutnya
untuk bekerja keras mencapai sasaran yang digambarkan. Burns dalam Komariah dan
Triatna (2008), menambahkan, para pengikut seorang pemimpin transformasional
merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap pemimpin
tersebut serta mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya
diharapkan terhadap mereka.
Di sekolah yang berbudaya lingkungan, guru pun
memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak, sikap dan
kepribadian anak di sekolah. Siswa yang berwawasan lingkungan sangat ditentukan
oleh motivasi kerja guru dalam mengintegrasikan dan memutakhirkan pengetahuan
lingkungan hidup. Motivasi kerja guru ini sangat menentukan suksesnya integrasi
materi lingkungan dalam rangka sekolah berbudaya lingkungan.
Motivasi kerja guru untuk menciptakan siswa
berwawasan lingkungan itu sendiri dapat dipengaruhi oleh pengetahuannya
terhadap masalah lingkungan hidup, kemampuan dalam mengintegrasikan materi
lingkungan, keterampilan dalam memberikan contoh-contoh masalah lingkungan,
serta sikap guru, dan gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam rangka
menghasilkan kurikulum terintegrasi.
Tindakan kepala sekolah pun memiliki peluang untuk
menciptakan sekolah yang dipimpinnya lebih kondusif yang dapat memotivasi guru
untuk menjalankan proses belajar mengajar. Sementara siswa sendiri memiliki
multiperan dimana dia dapat berposisi sebagai subyek, obyek maupun mitra di
sekolah yang berbudaya lingkungan.
Terkait kepemimpinan transformasional kepala sekolah
dan motivasi kerja guru sebagaimana diuraikan diatas, penulis melakukan sebuah
riset di SMKN 4 Kupang pada Bulan Nopember 2010 hingga Maret 2011, dengan dasar
pemikiran bahwa dengan adanya gaya kepemimpinan kepala sekolah yang
transformasional dan motivasi kerja guru yang tinggi secara bersama-sama akan
berpengaruh terhadap perilaku berbudaya lingkungan pada Siswa di SMK Negeri 4
Kupang.
Melalui observasi terstruktur dengan menggunakan
angket tertutup (karena riset yang dilakukan berkenaan dengan perubahan
perilaku), dan teknik analisis data statistik inferensial diketahui bahwa
kepemimpinan transformasional kepala sekolah mempunyai pengaruh signifikan
terhadap perilaku berbudaya lingkungan pada siswa. Demikian pula ada pengaruh
yang signifikan antara motivasi kerja guru terhadap perilaku siswa yang
berbudaya lingkungan. Dan secara bersama-sama, gaya kepemimpinan
transformasional kepala sekolah dan motivasi kerja guru berpengaruh signifikan
terhadap perilaku berbudaya lingkungan pada siswa selain pengaruh faktor
lainnya yaitu lingkungan keluarga seperti pendidikan, ekonomi, budaya, dan
pengaruh lingkungan di sekitar keluarga.
d. Menulis Bagian
penutup
Bagian penutup
berisi simpulan dan saran. Ini bisa diambil dari simpulan dan saran penelitian
kita. Kalimat
penutup bagian ini bisa berupa harapan-harapan akan keterterapan hasil
penelitian khususnya untuk komunitas ilmiah bersangkutan atau masyarakat luas
secara umum.
Contoh :
Dengan demikian disimpulkan bahwa untuk menciptakan
sekolah berbudaya lingkungan yang tercermin melalui perilaku siswa berbudaya
lingkungan maka variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan
motivasi kerja guru merupakan variabel penting yang tak boleh diabaikan.
Hasil riset ini kiranya menjadi sumbangan penting
untuk meningkatkan pengetahuan tentang adanya pengaruh gaya kepemimpinan
transformasional dan motivasi kerja guru terhadap perilaku siswa yang berbudaya
lingkungan pada sebuah lembaga pendidikan. Ketika terjadi penurunan kualitas
lingkungan secara signifikan akibat adanya gaya kepemimpinan yang tidak
transformasional dan motivasi kerja guru yang rendah maka sangat diharapkan
adanya kebijakan berupa bimbingan dan pengawasan secara berkala oleh
stakeholder terkait untuk berbenah.
Olehnya, untuk menciptakan gaya kepemimpinan yang
transformasional, maka yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah adalah
: memiliki sensitivitas terhadap pengembangan organisasi, mengembangkan visi
bersama antar komunitas organisasi, mendistribusikan peran kepemimpinan,
mengembangkan sekolah yang berbudaya lingkungan, dan melakukan usaha-usaha
restrukturisasi di sekolah.
Selain itu, untuk menciptakan sekolah yang berbudaya
lingkungan, maka guru juga diharapkan berperan sebagai inovator yang memiliki
kemauan untuk melakukan pembaharuan yang berkenaan dengan pembelajaran
lingkungan hidup, sebagai motivator untuk mendorong siswa agar terus belajar,
sebagai pribadi yang memilki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan serta
sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses
pembelajaran yang lebih efektif. Terakhir, untuk menciptakan sekolah yang
berbudaya lingkungan, maka siswa juga diharapkan selalu belajar dan bekerja,
adanya rasa memiliki, bertanggung jawab, teliti, dan inovatif.
Kiranya gaya kepemimpinan trasformasional kepala
sekolah dan juga motivasi kerja guru dari hasil riset ini dapat dimanut
sehingga apa yang diharapkan dari sekolah berwawasan lingkungan dapat dicapai
secara bersama-sama.
Membuat
Tulisan Ilmiah Populer untuk Pengembangan Profesi Guru
Pengembangan
profesi guru merupakan pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai
dengan kebutuhan secara bertahap dan berkelanjutan untuk meningkatkan
profesionalisme guru. Kegiatan ini akan meningkatkan dan memperluas pengetahuan
dan keterampilan guru untuk melaksanakan tugasnya secara profesional.
Sebagaimana yang
diisyaratkan dalam Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009, satu hal dalam
kegiatan pengembangan profesi guru adalah melakukan publikasi ilmiah. Salah
satu jenis publikasi ilmiah dari tuntutan regulasi tersebut yaitu membuat
tulisan ilmiah populer bidang pendidikan dan pembelajaran yang dimuat di media
massa. Tulisan ilmiah populer dimaksud, jika ditilik dari sisi kontennya,
selain berupa opini, dan dapat pula berupa saduran laporan hasil penelitian.
Guru yang melakukan hal ini (membuat tulisan ilmiah populer) akan diberi angka
kredit yang mana angka kredit tersebut dapat digunakan untuk kenaikan jabatan
fungsionalnya. Mengapa tulisan kita perlu dihargai dengan kredit poin? Apakah guru
menulis untuk mengejar kredit poin?
Dengan melakukan
publikasi ilmiah (salah satunya berupa tulisan ilmiah populer) sebetulnya mengafirmasi
kualitas profesi yang mengindikasikan adanya korelasi signifikan antara
kenaikan jabatan fungsional guru dengan meningkatnya profesionalitas guru. Ini
berarti semakin tinggi jabatan fungsionalnya, semakin meningkat pula kualitas
profesional guru. Karena keberhasilan profesionalisasi dan signifikansi
intelektual seorang guru sangat tergantung pada keterbukaannya untuk bergumul
dengan persoalan-persoalan konkret yang berkembang di dalam konteks profesinya.
Dalam pergumulan inilah ia mesti menggali pengetahuan dari berbagai sumber
informasi yang relevan untuk mengatasi beraneka persoalan konkret yang
menggerogoti ‘lahan’ profesinya. Berbekal informasi dan pengetahuan yang
diperoleh tersebut, dapat ia refleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak
yang cerdas; termasuk di dalamnya adalah meneliti dan menuangkan gagasan dalam
bentuk KTI untuk dipublikasikan (bdk. Peu : 2016)
Aktivitas
semacam ini berdampak langsung terhadap peningkatan kemampuan intektual yang
turut berkontribusi dalam pematangan profesional. Dengan kata lain, ketika guru
melakukan publikasi ilmiah maka hal tersebut telah memberikan indikator kadar profesi,
kadar pemahaman, ketelitian, dan inovasi atas disiplin ilmu yang digeluti. Ketika
kadar profesi meningkat, maka guru bersangkutan patut dihargai kredit poin
untuk kenaikan jabatan fungsionalnya atas upayanya tersebut.
Terkait tulisan
ilmiah populer dari saduran laporan hasil penelitian, sebetulnya guru yang
melakukan ini akan memperoleh beberapa nilai kredit dari satu permasalahan yang
dikaji. Pertama, dari laporan hasil penelitian
yang diseminarkan di sekolah dihargai 4. Kedua,
apabila laporan hasil penelitian tersebut disadur dalam artikel jurnal dan
dimuat di jurnal tingkat nasional diberi kredit 3, jurnal ilmiah tingkat provinsi
diberi kredit 2, dan di jurnal ilmiah kabupaten diharga 1 kredit point. Ketiga
apabila laporan hasil penelitian tersebut disadur dalam artikel ilmiah populer
dan dimuat di koran nasional (2), koran provinsi (1, 5). Jadi sebetulnya ketika
guru menyadur laporan hasil penelitian ke tulisan ilmiah populer, guru sudah mendapatkan
manfaat lebih sebagaimana pepatah sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau
terlampaui.
Tips
Menulis dan Mengirim Tulisan Ilmiah Populer ke Media Massa
Berikut ini akan
disajikan beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengirim tulisan
ilmiah populer ke media massa.
1.
Gaya Penulisan
Sering kali tulisan yang menarik tapi harus ditolak hanya karena gaya penulisannya
sangat "akademik" dan dipenuhi dengan istilah-istilah yang tak
disertai padanannya dalam bahasa Indonesia. Bayangkan,
redaktur tidak punya banyak waktu untuk mengedit kembali tulisan kita, jadi dia
cenderung akan memuat tulisan yang sudah jadi dan siap muat saja. Karenanya,
cobalah membuat tulisan dalam bahasa yang sederhana, populer dan hidup. Kalau kita
merasa istilah yang digunakan masih terlalu "berat", carilah padanan
lain yang yang lebih pas – tentunya dengan tidak mengurangi makna ilmiah yang
sebenarnya.
2.
Memperhatikan Perbedaan dengan Karya Ilmiah lainnya
Ada beberapa karakteristik tulisan ilmiah populer yang membedakannya dengan
karya ilmiah lainnya yakni :
-
Tidak memerlukan tabel, atau grafik seperti pada
laporan penelitian atau artikel jurnal. Apabila ada data-data (angka) maka dideskripsikan
dalam kalimat-kalimat dan paragraf.
-
Tulisan ilmiah populer dibatasi dengan jumlah kata. Jumlah
kata berkisar 600 hingga 1000 kata. Jika diketik dalam MS. Words dengan spasi
1,5 huruf Times New Roman ukuran 12 pts, dan ukuran kertas A4 maka panjang
halamannya berkisar antara 2-4 halaman. Ini tentu berbeda dengan artikel ilmiah
yang dimuat di jurnal yang panjang halamannya mencapai 10-15 halaman.
-
Tidak mencantumkan daftar pustaka
3. Memperhatikan syarat/ketentuan Media
Satu hal yang perlu
diperhatikan dalam mengirim tulisan ilmiah populer ke media massa syarat/ketentuan
yang diberikan media. Syarat/ketentuan tersebut diantaranya adalah jumlah kata,
biodata penulis, kartu identitas penulis berupa KTP, dan foto penulis berukuran
setengah badan. Ada media yang membatasi jumlah kata untuk tulisan ilmiah
populer. Misalnya surat kabar lokal terbitan NTT seperti Pos Kupang maksimal
600 kata, Victory News dan Timor Expres 1000 kata. Apabila tulisan kita lebih
dari ketentuan media, kemungkinan tulisan kita akan ditolak.
Umumnya tulisan yang dikirim ke media massa
menggunakan microsoft office words (MS Words). Untuk mengecek jumlah kata dalam
tulisan maka gunakan words count.
Cara melihat jumlah kata (jika menggunakan MS WORD 2007) yakni review--> wordcount
---> words.
4. Mengirimkan Tulisan ke Media Massa
Satu hal penting yang tak boleh diabaikan jika kita hendak mengirim tulisan
ke media massa yakni kita harus memiliki email. Hampir semua media
massa dewasa ini menggunakan email.
Kirim ke media via email dalam bentuk MS Words via attachment atau lampiran file.
Dalam tulisan ilmiah populer yang sudah kita buat, mesti dilengkapi lagi
dengan surat pengantar kepada redaksi. Kita dapat
menuliskan biodata singkat dalam surat tersebut.
Setelah semuanya selesai maka kirimkan ke media yang dituju
melalui email mereka. Sekali lagi, artikel dikirim via attachment. Dan jangan
lupa tulis di subject email : Artikel
(judul tulisan anda)
5. Tidak
mengirim satu tulisan pada dua koran berbeda dalam waktu
bersamaan
Jangan pernah mengirim satu tulisan pada dua koran berbeda
dalam waktu bersamaan karena kalau sama-sama dimuat di kedua koran tersebut
maka kita akan mendapat sangsi berupa tulisan kita tidak akan lagi dimuat di
kedua koran tersebut.
Penutup
Dari pembahasan
di atas maka dapat disimpulkan bahwa tulisan ilmiah populer merupakan
tulisan yang berpegang pada kaidah keilmuan yang dikonsumsi oleh publik.
Umumnya tulisan ilmiah populer atau yang dikenal dengan artikel ilmiah populer
ini biasa dimuat di media massa. Konten atau materinya ada yang berupa opini
dan ada juga dari saduran hasil penelitian.
Dalam kerangka pengembangan profesi
guru, tulisan ilmiah populer dimaksud merupakan salah satu jenis publikasi
ilmiah yang dapat dibuat oleh guru untuk mengembangkan kompetensinya dan dapat
mendongkrak karier kepangkatan atau jabatan fungsional guru. Dengan
melakukan publikasi ilmiah yang salah satunya berupa tulisan ilmiah populer,
sebetulnya mengafirmasi kualitas profesi yang mengindikasikan adanya korelasi
signifikan antara kenaikan jabatan fungsional guru dengan meningkatnya
profesionalitas guru. Aktivitas semacam ini berdampak langsung terhadap
peningkatan kemampuan intektual yang turut berkontribusi dalam pematangan
profesional. Dengan kata lain, ketika guru melakukan publikasi ilmiah maka hal
tersebut telah memberikan indikator kadar profesi, kadar pemahaman, ketelitian,
dan inovasi atas disiplin ilmu yang digeluti. Ketika kadar profesi meningkat,
maka guru bersangkutan patut dihargai kredit poin untuk kenaikan jabatan
fungsionalnya atas upayanya tersebut.
Publikasi ilmiah berupa membuat artikel ilmiah populer di
media massa ternyata bisa meningkatkan pematangan intelektual. Dengan demikian,
keterampilan untuk membuat tulisan ilmiah populer di media massa seyogyanya
dapat dilakukan oleh rekan – rekan guru yang lain, terutama ketika menemukan
permasalahan dalam pendidikan atau lebih spesifik pada problematika
pembelajaran di kelasnya maka hal tersebut dapat dijadikan refleksi dan ditulis
dalam bentuk artikel ilmiah populer untuk dipublikasi di media massa.
Daftar Pustaka
Agusmita,
http://caramenulisbuku.com/cara-menulis-artikel/cara-menulis-artikel-yang-baik.htm,
diakses tanggal 27 Februari 2018
Dermawati,
2013, Penilaian Angka Kredit Guru,
Jakarta : Bumi Aksara
Peraturan
menteri pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun
2009
Peu,
Yohanes, 2016, Mari Menulis di Jalur
Profesi, Kupang : Surat Kabar Victory News
Taufik,
Imam, 2010, Kamus Praktis Bahasa
Indonesia, Bandung : Ganeca Exact
Tabloid
Bulanan Warta Guru NTT Edisi Bulan Februari 2014
Komentar