Rencana pelaksanaan pembelajaran di Indonesia dipandang sangat bertele-tele. Jika dibandingkan dengan beberapa lesson plan di luar negeri, isi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di Indonesia sangat jauh berbeda.
RPP di beberapa negara maju, sangat singkat, berisi panduan-panduan dan langkah-langkah yang singkat, sederhana dan tidak berisi berbagai tetek bengek di dalamnya. Tapi melihat RPP di Indonesia, penuh dengan berbagai langkah kegiatan yang sudah biasa dibuat. Karena itu, hanya satu kesan saja bahwa para pengembang kurikulum memperlakukan guru di Indonesia sebagai guru yang belum berpengalaman (novice teacher) alias baru belajar untuk mengajar sehingga RPP harus dibuat serinci mungkin, meskipun apa yang tertulis sudah menjadi kebiasaan yang sudah dilaksanakan bertahun-tahun.
Kritik ini disampaikan seorang netizen melalui akun facebooknya. Marselus Ruben Payong, sang pemilik akun, membeberkan beberapa temuan dari pengalamannya memberikan pelatihan kepada para guru baik di KKG maupun di MGMP.
"Beberapa kali saya memberikan pelatihan kepada para guru baik di KKG maupun di MGMP, saya terbengong-bengong dengan berbagai model RPP yang digunakan oleh para guru terutama RPP K-13 hasil revisi atau bongkar pasang yang sudah ke sekian kali", kata Marsel mengawali postingan di akun facebooknya.
Dia memberikan contoh di bagian pendahuluan misalnya. Muatan berupa siswa diminta untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing (karakter yang dikembangkan : sikap religius), guru menyampaikan apersepsi, guru menyampaikan tujuan dan relevansi pembelajaran, dst...... Muatan seperti ini, kata Marsel, masih bisa dipahami jika dibuat oleh seorang calon guru, atau guru yang baru mulai mengajar. Namun bagi guru yang sudah mengajar bertahun-tahun, tentunya langkah-langkah seperti di atas bukan lagi menjadi hal yang asing.
"Bagi seorang calon guru, atau guru yang baru mulai mengajar, langkah-langkah seperti di atas jika ditulis dalam RPP masih bisa dipahami. Tetapi untuk guru yang sudah mengajar bertahun-tahun, apakah hal seperti itu harus ditulis lagi? Apakah selama bertahun-tahun mengajar, guru tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan tersebut sehingga harus selalu ditulis untuk diingat? Jika saya sebagai seorang guru, jika ini diwajibkan untuk ditulis, maka ini adalah sebuah pelecehan terhadap profesi saya, menganggap saya seolah-olah tidak tahu apa-apa. Pantaslah kalau Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim gusar dan minta supaya RPP cukup satu halaman", demikian Marsel mengakhiri postingan yang diupdate per 15/02/2020.
Postingan tersebut mendapat beragam komentar. Beberapa diantaranya akan ditampilkan berikut ini.
Maksi Mbangur, Hehehe...itulah Indonesia. Kalau tdk berhasil bikin rumit, belum jago....bahkan dlm RPP jg ditulis guru memberi salam kpd murid, shg kalau tdk ada dlm RPP tdk usah beri salam. Etika dasar yg sesungguhnya sdh menjadi semacam keharusan dlm prikehidupan bersama sdh lazin, masih harus diatur pula. Maka apa yg terjadi? Ada guru yg RPP-nya maharapi bin lengkap, namun dlm pelaksanaannya Bindo tdk keruan di dalam kelas... Suatu saat dg penuh percaya diri seorg guru sejarah masuk kelas. Ia ingin bertingkah puitis. Maka meluncurlah kalimat yg mgkn dia pikir paling puitis sejagat. Ia memulai, selamat pagi adik-adik. Dia lanjutkan, pagi-pagi petang saya turun ke kali di sana saya melihat...siswa/i senyum-senyum saja.
Robert Liem Saputra, RPP adalah cermin kemunduran dunia akademik, kedangkalan intelektualitas pendidikan. Tidak selalu, tapi terlalu banyak kasus terjadi. Guru pada akhirnya hanya hanya menjadi 'administrator pengajaran', bukan 'educational artist'. Hal-hal teknis administratif nan bitokratif justru mengikis essensi pendidikan, dan membonsai pendidikan hanya sebatas penghasil robot-robot industrialisme.
Merdeka Belajar itu konstruktif, namun jika berhadapan dg sekolah dan guru bermental birokrat, akhirnya hanya berujung Menderita Belajar.
Alficho Supardi, Betul sekali pa...para guru sepertinya selalu terpaku pada format baku yang mungkin juga belum teruji...ruang kreatifitas guru menjadi kosong...ditambah lagi sikap guru yang selalu monoton dalam kegiatan pembelajaran....hal ini memang butuh revolusi total.
Komentar