Dolu Kuma Apelabi, Orang Leuwayan yang Berkarier di Arhanudri Angkatan Udara

Lukas Dolu Apelabi

 Dia adalah seorang perantau. Tempat perantauannya adalah Makasar, Sulawesi Selatan. Lumayan jauh dari kampung halamannya Leuwayan, Kedang, Lembata. Dikisahkan oleh seorang anaknya, ia merantau ke Makasar tahun 1950-an. Saat di Makasar, terjadilah pemberontakan Kahar Muzakar. Ia kemudian bergabung dengan pejuang-pejuang sukarelawan untuk melawan pemberontakan Kahar Muzakar. Pasca pemberontakan Kahar Muzakar berhasil ditumpas, para pejuang sukarelawan ini ditawarkan menjadi tentara. Singkat cerita, dia bersama pejuang lainnya mengikuti pendidikan dan pelatihan ketentaraan di Jawa Barat. 
 
Itulah kisah awal seorang Lukas Dolu Apelabi, orang Leuwayan yang pernah berkarier di Arhanudri Angkatan Udara di tahun 1950-an hingga 1973. Setelah mengikuti pendidikan di Jawa Barat, dari situlah Lukas Dolu Apelabi memulai karirnya sebagai tentara dan bertugas di kesatuan Arhanudri (Arteleri Pertahanan udara Republik Indonesia) yang terkenal dengan baret coklatnya. Barangkali ia adalah orang Leuwayan pertama yang menjadi tentara. Bahkan orang  pertama dan hingga saat ini menjadi satu-satunya orang Leuwayan yang berkarier di Angkatan Udara. Ia lahir di Leuwayan Lembata, dan meninggal di Bali tahun 1973.

Di kampung halamannya, orang-orang hanya mengenang namanya. Mereka hanya mengenang nama Dolu Kuma, seorang tentara dan juga Kopaq Kuma seorang polisi. Dua kakak beradik ini, satunya menjadi tentara dan satunya menjadi polisi di masa itu. 
Dolu Kuma (nama panggilan di kampung dari Lukas Dolu Apelabi), menikah dengan gadis Jawa Timur bernama Marpiah, dan mempunyai 5 anak ( 4 laki-laki dan 1 perempuan ). Salah satu anaknya, Teguh Santoso Apelaby pada tahun 1989 dengan modal nekat mencari kampung halaman ayahandanya.
 
Beliau berangkat dari Bali ke Leuwayan-Lembata. Rasa haru bercampur bahagia dari keluarga di kampung halamannya karena seorang anggota keluarga yang lahir di tanah rantau tiba-tiba datang mencari kampung halaman dan sanak keluarganya.
Lukas Dolu Apelabi, di kampung halamannya ia biasa dipanggil Dolu Kuma, anak dari pasangan Kuma Dolu dan Dau Keneq. Beberapa saudara dari Dolu Kuma : Alm. Kopaq Kuma (purnawirawan polisi), Atuq Kuma, Kayo Kuma, Wilor Kuma, dan Nika Kuma.
Mathias Wayan Apelabi (Purnawirawan Polri, anak dari Alm. Kopaq Kuma Apelabi) pernah berkisah bahwa saat menjalani pendidikan kepolisian di Bali, dia dikunjungi istri dari Alm. Dolu Kuma. 
 
"Saat saya menjalani Pendidikan di Singaraja Bali datanglah Mama Mardiah Dolu dan adik Ningsih menjenguk saya, dengan maksud berziarah ke Kubur Bapak Lukas Dolu di Sanglah Denpasar. Itulah pertemauan awal dengan Mama Marfiah. Saya bisa bertemu dengan Mama Marfiah hingga selama pendidikan saat liburan saya temui mereka di Desa Wocoyo, Kec.Panggul Kab.Trenggalek", kisah Mathias Wayan.

Di kemudian hari kubur Katolik yang ada di Denpasar di pindahkan ke alan Nusa dua, termasuk kubur Bapak Dolu. Selesai Pendidikan polisi, dengan sisa uang yang saya berziarah ke kuburnya lagi dan disitu melalui tukang yang ada saya pondasikan makamnya dengan bentangan diatas makamnya berukuran 1,25 x 75 cm.
Itulah sepenggal kisah seorang anak kampung dari Leuwayan Lembata yang berkarier di Angkatan Udara RI di tahun 1950-an hingga 1973. Berawal dari pejuang sukarelawan hingga pada akhirnya mendapatkan tawaran menjadi tentara.  

 

Komentar