Mencari Bentuk : Refleksi Perjalanan Menjadi Guru


Yohanes Peu

Guru UPTD SDI Bertingkat Kelapa Lima 3 Kupang, NTT


Ini hanyalah sebuah refleksi tentang transformasi batin seorang pendidik. Perjalanan ini bukan sekadar tentang menguasai kurikulum, melainkan tentang bagaimana seorang manusia "menemukan bentuknya" di hadapan manusia lainnya.

Saya masih ingat betul kala itu. Bulan Juli tahun 2009. Ada sensasi dingin di telapak tangan saat pertama kali memegang gagang pintu kelas. Ini adalah tahap getar dari seorang amatir yang gampang rapuh.

Kala itu, saya membawa beban berat di kepala: setumpuk teori dari kampus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang kaku, dan ketakutan akan kehilangan wibawa.

Berdiri di depan puluhan pasang mata yang menatap tajam, suara saya bergetar. Saya merasa seperti aktor yang lupa naskah di tengah panggung yang silau. Pada tahap ini, "bentuk" saya adalah sebuah topeng. Saya berusaha berpura-pura menjadi sosok otoriter yang tahu segalanya, padahal di dalam hati, saya adalah murid yang paling bingung di ruangan itu. Kesalahan kecil dari siswa terasa seperti ancaman bagi eksistensi saya.

Menjejaki profesi guru itu ibarat sebuah perjalanan mencari bentuk. Dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang sempurna. Tidak ada guru yang begitu tampil perdana di depan kelas akan tampak paripurna.

Jika dipaparkan hirarkis, perjalanan mencari bentuk dalam pergumulan profesi guru bisa saja dimulai dengan gugup bahkan gemetar saat pertama berdiri di depan kelas, hingga menjadi fasilitator dan motivator ulung yang tampil menari di hadapan murid. Mulai dari yang minim pengalaman hingga menjadi kaya pengalaman. Perlahan dia akan bergerak dari down ke top. Ia akan merangkak perlahan dari bawah sambil berupaya mencapai bentuk yang mendekati sempurna.

Pertama kali mengajar memang terasa kaku. "Bentuk" kaku yang saya bangun perlahan mulai retak ketika realita menghantam. Saya menyadari bahwa instruksi yang jelas tidak selalu diikuti dengan kepatuhan, dan persiapan materi yang brilian bisa gagal total hanya karena suasana hati kelas yang sedang mendung.

Di titik ini, saya mulai melepaskan keinginan untuk mengontrol segalanya. Saya mulai belajar mendengar daripada sekadar berbicara. Saya menyadari bahwa kerentanan bukanlah kelemahan. Saya mulai berhenti menjadi "penguasa kelas" dan mulai menjadi "bagian dari kelas".

Seiring berjalannya waktu, kegugupan itu tidak benar-benar hilang, ia hanya berubah bentuk menjadi energi. Saya mulai memahami bahwa mengajar adalah sebuah seni improvisasi. Guru yang profesional bukanlah mereka yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan mereka yang tahu bagaimana menari di tengah kekacauan. Di sini, dengan segenap kompetensi yang dimiliki, guru akan mengembangkan kreatifitas dan inovasi. Guru juga mesti terlibat dalam upaya pengembangan profesi melalui kegiatan pengembangan diri seperti workshop, pelatihan, seminar, dan sebagainya untuk meningkatkan kapasitas diri sehingga bisa menjadi problem solver di tengah kekacauan (masalah) pembelajaran.

Saya mulai menemukan bentuk saya yang sebenarnya: bukan sebagai botol yang menuangkan air ke gelas kosong, melainkan sebagai pemantik api. Perlahan bergerak kepada: intuisi mulai menggantikan keraguan, empati mulai mengalahkan ego, dan kesabaran menjadi napas dalam setiap interaksi.

Kini, bagi saya, menjadi guru profesional bukan berarti telah sampai di garis akhir. Profesionalisme adalah komitmen untuk terus "menjadi". Saya bukan lagi guru yang gemetar karena takut salah, melainkan guru yang bergetar karena antusiasme melihat binar di mata siswa saat mereka memahami sesuatu yang baru.

Perjalanan mencari bentuk ini mengajarkan saya bahwa bentuk terbaik seorang guru adalah cair. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan wadah yang berbeda-beda karena setiap anak memiliki keunikan, luka, dan mimpinya masing-masing.

 

Tahun 2009 hingga 2026. Tujuh belas tahun sudah perjalanan cinta pada profesi guru. Mencintai profesi ini dengan ketulusan. Dari profesi ini, saya bisa menyambung hidup, dan menafkai keluarga.

Terima kasih, tujuh belas tahun menggeluti profesi guru di “Kota Karang”, Kota Kupang. Tujuh belas tahun telah membuat dompet saya sehat, walau dengan berulang kali menyerahkan SK pangkat/golongan sebagai agunan di bank dan koperasi kredit. Hehehehe.

Komentar