![]() |
| Peserta Lomba Cerdas Cermat dari Berbagai SD di Kota Kupang |
Suasana di Neo Hotel Kupang, 5 Maret 2026,
terasa sedikit berbeda. Jika biasanya ruangan ini dipenuhi oleh agenda formal
kantoran, hari ini riuh rendah suara anak-anak berseragam putih-merah
mendominasi atmosfer. Sebanyak ratusan tim dari berbagai Sekolah Dasar di
seluruh Kota Kupang berkumpul untuk mengadu ketajaman logika dalam
gelaran Lomba Cerdas Cermat (LCC) MIPA - Bahasa 2026.
Lomba ini bukan sekadar ajang adu pintar, melainkan panggung bagi para "saintis dan linguis cilik" Kota Kupang untuk menunjukkan bahwa Matematika, IPA, dan bahasa bukanlah momok, melainkan petualangan yang seru.
Sebanyak 780 peserta yang terbagi dalam 260 tim berkompetisi dalam ajang ini. Setiap tim terdiri atas tiga orang. Masing-masing sekolah mengutus paling banyak dua tim. Peserta lomba adalah murid SD/MI di wilayah Kota Kupang.
Panitia mengemas lomba dengan format yang dinamis untuk
menjaga fokus peserta (dan penonton). Berikut adalah tahapan yang dilalui para
peserta lomba :
- Babak
Penyisihan (Tertulis): Setiap tim mengerjakan soal penalaran
tingkat tinggi (HOTS) secara kolektif. Babak ini dilaksanakan pada 5 Maret 2026. Sebanyak 25 tim yang dinyatakan lolos untuk melaju ke babak semifinal
- Babak
Semifinal: Adu cepat tepat di atas panggung dengan sistem gugur. Babak ini dilaksanakan pada 6 Maret 2026.
- Babak
Final: Terbagi menjadi sesi pertanyaan wajib, lemparan, dan
rebutan yang menjadi puncak ketegangan.
Sorotan Utama: Bukan Sekadar Menghafal
Ada satu hal menarik yang membedakan kompetisi tahun ini
dengan tahun-tahun sebelumnya. Soal-soal yang diberikan tidak lagi berfokus
pada hafalan rumus mentah, melainkan pada studi kasus lingkungan.
Misalnya, pada sesi IPA, peserta ditantang menjelaskan fenomena siklus air di wilayah NTT yang cenderung kering, atau menghitung debit air pada bendungan melalui soal Matematika terapan. Hal ini memaksa para siswa untuk berpikir kritis dan menghubungkan ilmu yang mereka pelajari di kelas dengan realitas di luar jendela sekolah.
Pemilihan lokasi di pusat kota bukan tanpa alasan. Fasilitas
modern dan ruang yang representatif memberikan pengalaman
"profesional" bagi para siswa.
"Momentum ini membuat anak-anak merasa bahwa kecerdasan mereka
dihargai. Bermain di panggung besar dengan tata lampu dan audio yang baik
meningkatkan rasa percaya diri mereka secara signifikan," ujar salah satu guru pendamping.
Antusiasme dan Harapan
Di pojok ruangan, terlihat para guru pendamping yang tak
kalah tegang dari siswanya. Beberapa komat-kamit merapalkan doa, sementara yang
lain sibuk memberikan semangat terakhir sebelum tim mereka berlomba.
Lomba Cerdas Cermat MIPA-Bahasa 2026 ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya inovator-inovator masa depan dari Kota Kasih. Menang atau kalah, setiap anak yang berani berdiri di bawah lampu sorot hari ini adalah pemenang bagi rasa ingin tahu mereka sendiri.


Komentar