Donald John Trump lahir pada 14 Juni 1946 di Queens, New
York. Ia adalah anak keempat dari Fred Trump, seorang pengembang real estat
sukses. Kedisiplinan Trump dibentuk sejak dini di New York Military Academy,
sebelum ia melanjutkan studi ekonomi di Wharton School, Universitas
Pennsylvania.
Trump mengambil alih perusahaan keluarga pada tahun 1971 dan
menamainya The Trump Organization. Ia dikenal karena membangun Trump Tower
di Manhattan, hotel, kasino di Atlantic City, dan lapangan golf mewah di
seluruh dunia. Juga menjadi pembawa acara reality show populer "The
Apprentice" (2004–2015), yang melambungkan frasa ikonik "You're
fired!" dan menulis buku bisnis terlaris, The Art of the Deal
(1987).
Ia merupakan Presiden ke-45 (2017–2021) dan ke-47 di negeri Paman
Sam. Saat pertama menjabat ia mengusung slogan "Make America Great
Again", kebijakannya berfokus pada pemotongan pajak, pengetatan
imigrasi, dan kebijakan luar negeri "America First".
Setelah kalah pada pemilu 2020, Trump mencatat sejarah
dengan memenangkan kembali kursi kepresidenan pada pemilu 2024 dan menjadi presiden
Amerika Serikat ke-47, mengalahkan Kamala Harris. Ia dilantik untuk masa
jabatan kedua pada 20 Januari 2025.
Kemenangan Donald Trump pada November 2024 dianggap sebagai
salah satu comeback politik paling fenomenal dalam sejarah Amerika
Serikat. Trump berhasil meyakinkan pemilih bahwa masa jabatannya yang pertama
(2017–2021) jauh lebih makmur secara ekonomi dibandingkan masa pemerintahan Joe
Biden-Kamala Harris yang diwarnai inflasi tinggi pasca-pandemi.
Secara mengejutkan, Trump meraih dukungan signifikan dari
pemilih pria keturunan Latino dan kulit hitam yang sebelumnya merupakan basis
suara Demokrat.
Berbagai kasus hukum yang menjeratnya justru ia gunakan
sebagai senjata kampanye, mengklaim dirinya sebagai korban sistem (deep
state), yang justru membakar semangat basis pendukung fanatiknya.
Eskalasi Konflik: Mengapa Terjadi Perang dengan Iran?
Memasuki awal tahun 2026, ketegangan antara Amerika Serikat
di bawah kepemimpinan Trump dan Iran mencapai titik puncaknya melalui
serangkaian serangan militer besar-besaran yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Berikut adalah alasan utama di balik tindakan militer
tersebut :
- Kegagalan
Diplomasi Nuklir: Trump menganggap negosiasi nuklir yang berlangsung di
Jenewa dan Oman tidak membuahkan hasil. Ia menuduh Iran terus memperkaya
uranium secara rahasia untuk membangun senjata nuklir yang mengancam
daratan AS dan sekutu.
- Keamanan
Israel: Sebagai sekutu terdekat, Israel memberikan tekanan besar. Trump
secara terbuka menyatakan bahwa operasi militer ini bertujuan
menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran yang dianggap mengancam
keberlangsungan Israel.
- Kebijakan
"Regime Change" (Perubahan Rezim): Berbeda dengan sikap
"anti-perang" yang sering ia gaungkan saat kampanye, dalam
pidatonya baru-baru ini, Trump secara terang-terangan menyerukan rakyat
Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka, dengan dukungan serangan
udara AS dan Israel yang telah melumpuhkan infrastruktur militer Iran
(termasuk serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran).
- Strategi
Politik Domestik: Beberapa analis melihat langkah ini sebagai upaya Trump
untuk memperkuat citranya sebagai pemimpin yang kuat menjelang pemilu sela
(midterm elections) 2026, meskipun jajak pendapat menunjukkan hanya
sekitar 25% warga Amerika yang mendukung perang terbuka ini.
Status Saat Ini Per Maret 2026, operasi militer yang
dijuluki "Operation Epic Fury" masih berlangsung. Trump memprediksi
konflik ini akan selesai dalam waktu kurang dari satu bulan, meski situasi di
Timur Tengah semakin tidak menentu.
Perang yang meletus di penghujung Februari dan memanas di
awal Maret 2026 ini telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar keuangan dunia.
Iran mengendalikan Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui
hampir 20% pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah (Brent) telah menembus
angka di atas $150 per barel dalam hitungan hari. Hal ini akan berdampak pada kenaikan
harga BBM global yang memicu inflasi di negara-negara pengimpor minyak,
termasuk Indonesia.
Indeks saham utama seperti S&P 500 dan NASDAQ mengalami
koreksi tajam karena investor menarik modal mereka dari aset berisiko dan
beralih ke "Safe Haven" seperti Emas dan Dolar AS.
Ketegangan di Timur Tengah mengganggu jalur perdagangan
laut. Biaya logistik internasional meningkat drastis karena kapal-kapal kargo
harus memutar jalan untuk menghindari zona konflik, yang berakibat pada
keterlambatan pengiriman barang elektronik dan kebutuhan pokok.
Ironisnya, meski Trump mengampanyekan "America
First" untuk memperbaiki ekonomi domestik, keterlibatannya dalam
perang besar di Iran justru berisiko memicu resesi global yang bisa memukul
balik ekonomi Amerika Serikat sendiri.
Komentar