Uti dalam Beberapa Perspektif, Sebuah Fenomen Sosiolinguistik

 


Dulu di masa SMA (kalau tidak salah), lagu Toran Samua Basudara yang nyanyikan Rama Aiphama cukup populer di masa itu.

Lagu yang populer di era tahun 2000 ini dihadirkan Rama Aiphama untuk memupuk semangat kebersamaan dalam masyarakat Sulawesi Utara.

"Torang Samua Basudara", memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan sosial dan budaya di Sulawesi Utara. Kalimat ini, yang dalam bahasa Indonesia berarti "Kita Semua Bersaudara", menjadi filosofi hidup yang mengajarkan nilai kebersamaan, persatuan, dan saling menghargai antar sesama.

Ungkapan ini tidak hanya sekadar sebuah kalimat, tetapi juga mencerminkan cara hidup masyarakat Manado yang penuh dengan keramahtamahan dan saling tolong-menolong. Bagi mereka, perbedaan suku, agama, dan ras bukanlah hal yang membatasi hubungan sosial. Justru, perbedaan tersebut dianggap sebagai kekayaan budaya yang perlu dijaga dan dihormati bersama.

Satu hal yang menggelitik saya dari lagu ini adalah sepenggal syair dalam lagu yang berbunyi demikian : uti so kawen deng keke.

Sebagai orang Nusa Tenggara Timur, saya memang kaget. Karena term 'uti' bagi orang NTT merupakan kata yang sensitif untuk diucapkan. Fenomena sosiolinguistik kata “Uti” menarik untuk ditelisik.

Fenomena kata "Uti" adalah salah satu contoh dari sekian contoh bagaimana sebuah bunyi yang sama bisa membawa muatan emosional yang kontradiktif di wilayah yang berbeda dalam peta bahasa nusantara. Dalam peta bahasa Nusantara, kata “uti’ ini mewakili spektrum makna mulai dari penghinaan yang tajam hingga sapaan kasih sayang yang hangat. Dari perspektif orang NTT, kata “uti’ tergolong sensitif karena tergolong makian yang kasar untuk kaum lelaki. Bagaimana dengan perspektif di daerah lainnya? Mari kita Simak.  

Perspektif Nusa Tenggara Timur (NTT): Tabu dan Konfrontatif

Bagi masyarakat di NTT (khususnya di Timor, Flores, dan sekitarnya), "Uti" adalah kata yang sangat sensitif dan tergolong sebagai makian kasar (dirty word). Kata ini merujuk secara eksplisit pada alat kelamin laki-laki (makna biologis). Dalam konteks sosial, mengucapkan kata ini di ruang publik, terutama jika ditujukan kepada orang lain, dianggap sebagai bentuk pelecehan atau ajakan berkelahi. Penggunaannya dalam percakapan sehari-hari sangat dihindari karena dianggap tidak beradab. Resiko sosialnya, jika seseorang melontarkan kata ini dalam sebuah pertikaian, tensi konflik biasanya akan meningkat seketika karena harga diri pihak yang dituju merasa diinjak-injak.

Walaupun sebagian orang menggunakan kata “uti” bukan untuk menghina tetapi untuk tujuan mempererat ikatan dan mencairkan suasana dalam relasi keakraban pertemanan, kata uti tetap dianggap tidak pantas dalam konteks formal.  

Perspektif Gorontalo: Sapaan Kebanggaan dan Sayang

Berbanding terbalik dengan di NTT, di Gorontalo, "Uti" adalah panggilan yang sangat lazim dan bernada positif.

​Panggilan Identitas: "Uti" adalah sapaan akrab sekaligus penuh kasih sayang untuk anak laki-laki atau pemuda (setara dengan "Ujang" di Sunda atau "Le" di Jawa).

​Malahan, dalam konteks strata sosial, kata ini berasal dari kata Utoli, yang secara historis berkaitan dengan sapaan untuk putra bangsawan atau anak laki-laki kesayangan dalam keluarga.

Jika Anda berada di Gorontalo dan dipanggil "Uti", itu berarti Anda diterima dengan hangat sebagai bagian dari keluarga atau komunitas tersebut. Ini menggambarkan ​nuansa keakraban.

Jadi untuk orang NTT yang bepergian ke Gorontalo, jangan kaget kalua anda disapa ‘uti’.

 

Perspektif Bali: Sebutan untuk Anak Kecil

Di Bali, kata ini juga muncul namun dengan frekuensi dan intensitas yang berbeda dari kedua daerah di atas.

​Di Bali justru menjadi sapaan untuk anak-anak. "Uti" atau "Utu" sering digunakan sebagai panggilan sayang untuk anak laki-laki yang masih kecil.

​Kata ‘uti’ dalam perspekti Bali tidak memiliki muatan kasar seperti di NTT, namun juga tidak seformal atau sekuat identitas budaya "Uti" di Gorontalo. Ini lebih bersifat internal dan informal dalam keluarga.

​​Beberapa perbedaan ini bisa memicu situasi unik namun berisiko. Misalnya, seorang pemuda Gorontalo yang merantau ke Kupang dan menyapa temannya dengan sebutan "Uti", bisa saja berakhir dalam kesalahpahaman serius.

​Sebaliknya, orang NTT yang berkunjung ke Gorontalo mungkin akan merasa terkejut atau tersinggung saat mendengar kata tersebut diucapkan secara terbuka di pasar atau meja makan, sebelum mereka menyadari maknanya yang kontras.

​Begitulah makna kata ‘uti’ dalam beberapa perspektif. Jika kata ‘uti’ adalah sebuah produk budaya (bahasa sebagai produk budaya), kita tidak perlu menghakiminya. Sebab, sebuah kata tidak memiliki kekuatan kecuali jika tidak diletakkan dalam konteks sosialnya. "Uti" mengajarkan kita untuk selalu "menghuni" ruang budaya setempat sebelum menghakimi sebuah ucapan.

Komentar