Benarkah Tuhan Menciptakan Manusia dengan Cara Digoreng?


  (google images)

Tiba-tiba saya teringat cerita guru kelas I SD puluhan tahun silam. Saat itu beliau berceritra tentang kisah penciptaan manusia. Entalah, mungkin ceritra tersebut hanyalah ceritra rekaannya belaka. Tapi yang pasti, saat itu saya percaya akan ceritra penciptaan manusia versi sang guru. Berikut ini adalah ceritra selengkapnya.

Saat Tuhan menciptakan manusia, Tuhan mengambil tanah liat kemudian dicamput dengan air. Campuran tersebut lantas dibentuk sebagaimana bentuk tubuh manusia. Setelah itu Tuhan menyiapkan api dan kuali besar serta minyak goreng. DituangkanNya minyak goreng ke dalam kuali besar tersebut. Mulailah Tuhan melakukan penggorengan.

Hasil gorengan pertama ternyata merupakan hasil uji coba karena sebelumnya Tuhan tidak pernah menggoreng apa pun. Karena baru pengalaman pertama menggoreng maka hasil gorengan agak hangus. Jadilah manusia berkulit hitam.

Dari hasil gorengan pertama yang agak hangus itu, Tuhan mencoba menggoreng lagi untuk yang kedua kali. Beranjak dari hasil gorengan pertama yang agak hangus, kali ini Tuhan lebih berhati-hati dalam menggoreng lantaran takut menghasilkan gorengan hangus seperti yang pertama. Alhasil, belum sampai matang, Tuhan sudah mengeluarkannya dari kuali. Hasilnya pun masih terlihat putih-putih. Jadila manusia berkulit putih.

Masih belum puas dengan kedua hasil gorengan tersebut, Tuhan pun melakukan penggorengan untuk ketiga kalinya. Dari pengalaman pertama dan pengalaman kedua, hasil gorengan ketiga ternyata sudah benar-benar matang. Hasilnya adalah manusia berkulit sawomatang.

***

Hingga saat ini saya selalu mengingat ceritra sang guru SD tersebut. Kalau diingat-ingat di saat ini, tentunya ada sisi leluconnya. Tapi pemahaman saya di saat kelas I SD saat itu, tentunya saya percaya saja pada apa yang ia ceritrakan. Terlepas itu benar atau salah, walau itu dominan salah, tapi point penting yang saya tangkap dari cara guru itu adalah soal kreativitas. Sang guru tersebut tentunya kreativ menghadirkan ceritra yang mampu membangkitkan imajinasi anak kelas I SD untuk membedakan warna kulit. Walaupun perihal warna kulit bukanlah sesuatu hal mesti diperdebatkan untuk membeda-bedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain.


Komentar