HGN dan Kesehjateraan Guru yang Tak Pernah Selesai


Gambar mungkin berisi: 6 orang, orang tersenyum, orang berdiri dan luar ruangan


Hari Guru Nasional telah diperingati 25 November lalu. Ada banyak cara merayakan hari guru. Seminar. Perlombaan dan atau pertandingan. Talk show membicarakan nasip guru. Puncaknya adalah upacara bendera.

Secara umum peringatan HGN pada tahun ini tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ya, selalu dirayakan sebagai rutinitas tahunan. Sedikit yang membedakan adalah pidato Menteri Pendidikan menyambut HGN. Pidato tersebut menjadi viral setelah dirilis dua hari sebelum puncak perayaan Hari Guru.

Pidato Mas Menteri ini memang tidak seperti lazim yang panjang-panjang (bisa 4-5 halaman), tetapi hanya 2 halaman. Namun bukan panjangnya pidato yang diperbincangkan tetapi isi pidato yang disoroti. Bagaimana tidak, diawal sambutannya, Mas Menteri langsung menohok dengan pernyataan tidak memberikan kata-kata inspiratif dan retorik, tetapi Mas Menteri ingin berbicara dengan hati tulus, apa adanya.

Isi sambutan selanjutnya adalah curahan hati Mas Menteri atas kondisi ketidakadilan yang dialami para guru di seluruh tanah air. Bahwa guru lebih sering diberi aturan dibandingkan pertolongan. Guru lebih banyak menghabiskan waktu mengerjakan administrasi ketimbang membantu murid mengejar ketertinggalan.

Ya, semua yang disampaikan Mas Menteri itu benar adaya sebagaimana dialami guru selama ini.
Namun ada satu yang luput dari perhatian Mas Menteri yaitu soal kesejahteraan guru. Dalam pidato Mas Menteri yang dipuji banyak orang itu, tidak sedikit pun menyinggung kesejahteraan guru. Padahal masalah kesejahteraan ini pun dialami dan dirasakan oleh guru dan merupakan persoalan klasik.

Bila ada yang mengatakan sekarang guru-guru sudah sejahtera, itu tidak sepenuhnya benar. Benar bahwa sekarang sudah ada tunjangan profesi guru, non-profesi, tambahan penghasilan, tunjangan daerah terpencil. Tetapi tidak semua guru menerima tunjangan tersebut.
Kesejahteraan berkaitan dengan upah atau gaji yan diterima guru. Bila ditelusuri, yang mendapatkan upah secara layak hanyalah guru PNS (digaji oleh Negara). Sementara guru non-pns atau honorer upahnya masih rendah. Tidak perlu disebutkan nominalnya karena bervariasi tetapi mengetahui angka terendah upah guru itu sangat menyakitkan.

Mengapa kita harus membicarakan kesejahteraan guru? Kesejahteraan memiliki korelasi positif dengan peningkatan kinerja yang tentu saja membawa dampak pada peningkatan mutu. Atau dengan lain perkataan, peningkatan mutu pendidikan akan terwuju bila kinerja kerja guru meningkat dan kinerja kerja guru dipengaruhi oleh tingkat kesejahteraan guru.

Sekali lagi, pentingkah kesejahteraan guru? Ya, ini penting karena ketika guru sudah sejahtera mereka tidak akan berpikir untuk diri (keluarga) lagi tetapi membaktikan diri sepenuhnya untuk pendidikan. Namun fakta di lapangan, guru hanya memberikan “setengah” dirinya karena harus melakoni profesi ganda. Sepulang sekolah ada yang harus melaut, berkebun, jadi tukang ojek. Semua itu dilakukan demi memenuhi tuntutan ekonomi yang bila diharapkan dari gaji saja sangat tidak mencukupi.

HGN telah selesai tetapi kesejahteraan guru tidak pernah selesai. Mungkin akan dibahas lagi saat peringatah Hari Guru tahun depan. Lalu dilupakan lagi begitu HGN selesai. Dan dibahas lagi tahun depannya lagi. Lalu dilupakan lagi setelah HG selesai. Begitu seterusnya. Dan seterusnya seperti begitu. HGN selesai tetapi kesejahteraan guru tak pernah selesai. Sampai kapan?

Ditulis Oleh Gerardus Kuma Apeutung

Komentar